05

1055 Kata
"Alana." "Hei." "Alana," panggil Rafka berulang kali hingga tangannya terangkat menusuk pelan pipi menggemaskan gadis itu. "Iya, Kak?" tanya Alana mencoba menahan tangisnya. "Rumah lo, dimana?" tanya Rafka sebab sedari tadi mobil hanya berputar dijalan menatap senja. "Lurus," ucap Alana gugup. Rafka mengangguk hingga Alana memintanya berhenti didepan sebuah gang yang mungkin mobilnya tak dapat masuk. "Aku turun disini aja, Kak." Alana bersiap turun namun Rafka lebih dulu turun untuk membukakan pintu pada gadis itu. "Gue antar sampai rumah," ucap Rafka dengan senyum kecil. "Enggak perlu, aku---" "Udah, jangan nolak!" Rafka melangkah lebih dulu disusul Alana yang nampak sangat bingung harus berbuat apa. "Kumuh ya, Kak?" tanya Alana pada Rafka. Rafka menunduk, sebab tinggi gadis itu hanya sedagunya. "Alana, gue ini bukan Rafli yang asal ceplas- ceplos. Santai aja, ayo! Gue mau antarin lo sampai kerumah," ajak Rafka mengulurkan tangannya berniat menggandeng Alana namun Alana menggeleng pelan mendahului langkah Rafka. Rafka tersenyum mengacak pelan rambutnya hingga langkah mereka berhenti didepan sebuah rumah sederhana. "Aku, bukan anak orang kaya---" "Sttt..." potong Rafka pada ucapan gadis itu. "Kak Rafka!" cegah Alana saat Rafka hendak mengetuk pintu, ditambah hari yang semakin gelap membuat beberapa tetangga sekitar sesekali menatap mereka. "Enggak perlu," pelan Alana menundukkan wajah. "Makasih, udah nganterin aku..." Rafka mengangkat tangan mengusap kepala gadis itu hingga pintu terbuka. "Lana! Ya Allah, kamu dari mana Nak?" tanya Ilham memeluk puterinya dengan perasaan campur aduk. "Ayah takut sekali!" ucap Ilham lagi hingga pandangannya tertuju pada pemuda yang nampak terkejut. "Pak Ilham?!" tanya Rafka tak percaya. "Den... Rafka?" tanya Pak Ilham membuat Rafka tertawa sejenak. "Jadi, Alana anak Bapak?" tanya Rafka. Ilham mengangguk, masih memeluk puterinya. "Ya ampun, saya nggak nyangka!" Rafka duduk dikursi sederhana yang tersedia di teras rumah Alana tanpa disuruh. "Aden, anak saya ada buat masalah ya?" tanya Ilham sedikit panik. "Ah enggak, Pak. Tadi, niatnya saya mau ngajakin Lana pulang bareng," jelas Rafka membuat Alana sedikit terkejut mendengar namanya panggilannya disebut oleh pemuda itu. "Terus, Bunda nelepon, minta ajak Lana kerumah, saya bawa deh, hehehe... maaf ya, Pak!" ucap Rafka cengengesan. "Tapi! Meski pun saya anaknya bandel, sering bolos dan telat! Saya ngejaga Lana kok!" ucap Rafka lagi membuat Ilham mengangguk menatap puterinya. "Lana, nggak papa sayang?" tanya Ilham sekali lagi. Alana mengangguk kemudian menatap Rafka, "Kak Rafka, mau masuk?" tawar Alana sekaligus ucapan terimakasih pada Rafka yang sudah melindunginya dari Rafli. "Udah Magrib, gue mau pulang aja," ucap Rafka bangkit dari duduknya. "Pak, besok. Boleh nggak Lana berangkat sekolah sama saya?" tanya Rafka seketika membuat Alana terkejut. "Kak, enggak perlu, aku---" "Sttt... gue nggak mau dengar penolakan dari elo," ucap Rafka begitu hangat bahkan sempat mengedipkan mata pada Alana. "Iya, Den..." ucap Ilham meragu. "Yeah!" Rafka nampak senang kemudian mencium punggung tangan Ilham kembali membuat Alana terkejut. "Saya pamit dulu, dah Lana... sampai besok! Assalamualaikum!" Rafka melangkah meninggalkan rumah tersebut hingga membuat Alana terduduk pasrah mengusap dua pipinya. "Lana..." panggil Ilham dengan raut wajah khawatir. "Kamu tahu kan, siapa mereka? Mereka keluarga Samudera, anak pengusaha terkenal. Kita cuman orang biasa, Ayah harap kamu nggak salah langkah," pelan Ilham mengusap bahu puterinya. "Ayah... Lana bersyukur, sama kehidupan Lana. Nggak peduli seberapa susahnya kita, kalau ada Ayah, Lana udah merasa jadi orang yang paling kaya di dunia ini," ucap Alana begitu tulus hingga membuat Ilham berkaca- kaca lalu memeluk puterinya sembari mengajaknya masuk kerumah. Sementara itu, Rafka tiba dirumah. Menatap para orang tua di ruang tamu yang asik mengobrol. "Rafli!" panggil Rafka nyelonong masuk kekamar sang adik mendapati Nea tengah bermain ponsel di sofa. "Lagi mandi," ucap Nea sebelum Rafka bertanya. "Nen!" panggil Rafka langsung mendapat tonjokan pelan dari Nea. "NEA! BUKAN NEN!!!" kesal Nea pada pemuda yang sudah nangkring di sampingnya. "Iya, Nea cantik..." puji Rafka merangkul bahu gadis itu. "Apaan sih?! Pasti ada maunya!" duga Nea menaruh ponselnya. "Bantu gue dong, dekat sama Alana," ucap Rafka membuat Rafli yang baru keluar dari kamar mandi dengan celana pendek dan kaos tanpa lengan menatapnya. "Apa?" tanya Rafka seolah tak terjadi apapun. "Si pahlawan," cibir Rafli mengambil handuk guna mengeringkan rambutnya. "Eh! Kalian tau nggak? Ternyata Alana anak Pak Ilham! Satpam sekolah!" ucap Rafka buka suara. Sudut bibir Rafli terangkat dan Nea menyadari hal itu. "Mikir apa lo?!" tanya Nea melempar Rafli dengan bantalan sofa. "Apa lagi, kalau bukan cara bikin gadis itu berlutut dihadapan gue," ucap Rafli dengan entengnya. "Apaan sih! Norak!" kesal Rafka mendengar ucapan saudaranya. "Alana itu manusia, bukan b***k lo! Dia cantik, gue aja suka," ucap Rafka dengan santainya. "Terus, anaknya juga baik. Polos," sambung Rafka yang memang sering melihat Alana berada dikelas saat ia mengantarkan Nesya. "Lo kenapa sih? Derajat kita sama dia itu beda!" ucap Rafli mendekati Rafka yang merebahkan kepala di pangkuan Nea. "Semua manusia itu sama!" ucap Rafka membuat Rafli berdecak. "Iya Raf, gue rasa lo udah berlebihan," tegur Nea mendapat anggukan dari Rafka. "Cara pandang gue ke cewek itu nggak bakal berubah! Dia harus tunduk, dibawah perintah gue!" tegas Rafli duduk dikasur menatap pintu balkon kamarnya. "Kemakan omongan sendiri, tau rasa," cibir Rafka dengan senyum kecil. "Maksud lo?!" tanya Rafli mengepalkan tangan. "Siapa tau, nanti malah elo yang ngemis- ngemis ke Alana---" "Jangan sebut namanya!" potong Rafli kesal. "Alana! Alana! Alana!" Rafka mengucapkan nama gadis itu berkali- kali membuat Nea kesal lalu bangkit dari duduknya hingga Rafka terjatuh ke lantai. "Terserah kalian! Gue capek! Ribut aja, terus!" Nea pergi menutup pintu dengan sangat keras hingga membuat si kembar terkejut. "Pergi lo!" usir Rafli. "Alana... Alana... bisa- bisanya baru sekarang gue tertarik sama elo," ucap Rafka saat melangkah keluar kamar. "Nggak waras!" gusar Rafli merebahkan tubuhnya menatap langit- langit kamar. Tangannya masih terkepal, dengan ingatan yang masih melekat saat gadis itu menamparnya, bahkan ia tak lupa saat bola basket mendarat di kepalanya yang berasal dari gadis itu. "Argh!" Rafli bangkit dari kasur, membuka laptopnya untuk mencari tahu identitas Alana lewat data sekolah yang memang dimilikinya tanpa sepengetahuan orang lain. "Anak Satpam..." ucap Rafli dengan senyum sinis. "Kena lo!" ucapnya lalu menutup laptop dan kembali kekasur menatap jam dinding yang menunjukkan waktu shalat magrib. "Huh..." Rafli menghela napas mencoba menenangkan diri. Pintu kamarnya kembali terbuka oleh Nesya. "Abang, ayo shalat," ajak Nesya masuk menghampiri kakaknya. "Abang shalat sendiri, sana." Usir Rafli tak ingin diganggu oleh siapapun. "Nanti Bunda makin marah, lho!" ucap Nesya membuat Rafli membuka mata menatap adiknya itu. "Hm..." Nesya tersenyum lalu pergi guna memanggil sang kakak yang satunya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN