"Kak Rafka, aku duluan kekelas ya!" ucap Alana saat Rafka datang membawa makanan.
"Hm, yaudah. Mau gue antar?" tawar Rafka, tentu saja Alana menggeleng dan saat ia hendak pergi, pandangan Rafli kembali tertuju padanya membuat Alana bergegas meninggalkan kantin.
"Rafli, kemana lo?" tanya Alden saat Rafli pergi.
"Aku nggak boleh dekat sama mereka lagi!" ucap Alana pada diri sendiri hingga langkahnya dihadang oleh tiga orang siswi dengan seragam yang terlihat ketat, juga make up yang membuat mereka seperti bukan anak sekolah.
"Heh!"
Gadis yang ditengah langsung mendorong Alana hingga Alana terjatuh.
"Berani- beraninya dekatin Rafka! Rafka itu cowok gue!!" marah Tania, anak kelas dua belas yang memang menyandang status ratu bully.
Alana menghela napas dengan wajah menunduk. Ia sudah mengira hal ini akan terjadi padanya.
"Maaf..." pelan Alana hingga tangan Tania menarik kasar rambutnya.
"Maaf lo bilang!?" tanya Tania menatap dua temannya.
Salah satu teman Tania sudah menyiapkan gunting dan hal itu langsung membuat Alana menggeleng dengan mata berkaca- kaca.
"Kenapa? Takut?" tanya Tania mendorong kepala Alana dengan tangannya.
"Ini akibatnya karena berani dekat sama Rafka!" ucap Tania menarik rambut Alana.
"Jangan!!" Alana berontak, berlari sekuat tenaga namun Tania dan dua temannya malah mengejarnya hingga Alana terpojok pada koridor yang menuju taman belakang sekolah.
"Aww!!" Alana kembali terjatuh saat salah satu teman Tania mendorong punggungnya.
Srrettt...
Alana menangis!
Tania merobek seragamnya dengan tangan kosong. Ditambah, dua tangannya dipegang oleh teman- teman Tania. Alana sudah tak dapat berontak lagi. Pukulan, dan juga makian ia dapatkan dari Tania.
"Berlutut!" perintah Tania setelah menyelesaikan merobek- robek abstrak seragam sekolah Alana.
"Berlutut! Enggak dengar!!" teriak Tania menarik kepala Tania agar berlutut padanya. Alana menunduk, pipinya sudah dibasahi air mata ditambah penampilannya yang sangat berantakan.
"Cium sepatu gue!" Tania berucap sini dengan tangan melipat setelah menyimpan guntingnya.
"LO TULI!!" bentak salah satu teman Tania tepat ditelinga Alana hingga membuat Alana memejamkan mata merasakan sakit dikepalanya.
"Cium sepatu gue!!!" titah Tania lagi.
Brak!
Saat sedikit lagi bibir Alana menyentuh sepatu putih Tania. Perhatian mereka tertuju pada seseorang yang menendang tempat sampah.
"Dia cuman boleh berlutut sama gue!"
Rafli bersuara, melangkah mendekat menatap Tania CS yang sudah panik.
Alana meringkuk, menutupi bagian tubuhnya yang terlihat sebab sobekan seragamnya.
"Pergi." Dingin Rafli yang hanya menatap pada Alana, membuat Tania CS langsung pergi dengan tergesa- gesa.
"Hiks..." Alana terisak dengan bahu naik turun. Tidak tau harus berbuat apa, ditambah yang dihadapannya sekarang adalah Rafli.
"Kakak... mau aku cium sepatu Kakak, juga?" tanya Alana parau tak berani menatap Rafli yang sudah berjongkok dihadapannya.
"Lo bakal dapat masalah!" tegas Rafli melepas seragam putihnya lalu menyerahkannya pada Alana.
"Pakai." Titah Rafli kembali berdiri menyisakan kaos hitam lengan pendeknya.
"Ck! Malah bengong! Buruan pakai!" ulang Rafli menatap ekspresi polos gadis itu.
"Jangan kepedean!" sinis Rafli saat Alana sudah mengikuti perintahnya.
"Makasih..." pelan Alana dengan wajah menunduk belum juga bangkit dari lantai.
"Sebagai balas budi, lo harus mau jadi babu gue." Sinis Rafli membuat Alana mengangkat wajah dengan raut wajah takut sekaligus membuat Rafli terdiam.
"Jangan dilepas! Lo gimana sih?!" tanya Rafli kesal saat Alana ingin melepas kembali seragamnya.
"Lo mau tubuh lo dilihat sama orang lain, hah?" tanya Rafli pada gadis itu.
"Tapi... balas budi itu," pelan Alana kembali menundukkan wajah.
"Gue cuma bercanda!" kesal Rafli. Apakah Alana memang sepolos itu.
"Terus aku harus gimana?" tanya Alana menangis, ditambah luka gores di lutut yang baru Rafli sadari.
"Lo bisa berdiri nggak?!" tanya Rafli membuat Alana berusaha bangkit namun tak kuasa. Luka di lututnya terasa begitu perih.
Rafli mengulurkan tangan, masih dengan wajah kesal tanpa menatap Alana yang sudah berdiri dengan berpegangan pada tangannya.
"Makasih..." pelan Alana belum berniat melepaskan tangan Rafli.
"Enggak perlu bilang makasih! Gue nggak nolongin elo, gue cuman nggak mau elo berlulut ke orang lain, selain gue!" tegas Rafli begitu tajam menusuk perasaan Alana hingga air matanya kembali jatuh dan Rafli menyadari hal itu.
"Kakak... kenapa jahat sama aku?" tanya Alana memberanikan diri menatap Rafli. "Soal kejadian bola basket kemarin, aku udah minta maaf kan?" tanya Alana pelan hingga Rafli melepas paksa tangan gadis itu.
Alana kembali terjatuh sebab tak memiliki keseimbangan untuk berdiri. Dilihatnya pemuda itu berlutut, menarik dagunya dengan kasar, senyum sinisnya terlihat, membuat Alana takut bukan main.
"Kenapa? Lo masih tanya kenapa?" tanya Rafli mendapat anggukan kecil dari Alana.
"Karena elo udah ngusik kehidupan gue, datang kerumah, ngambil hati orang tua gue termasuk Nesya dan Rafka!" jelas Rafli.
"Kak Rafka... yang ngajak aku," balas Alana membela diri, memang benarkan kalau Rafka yang mengajaknya, bukan atas kemauannya sendiri. Alana juga sadar diri.
"Lo kan bisa nolak!" ucap Rafli tak mau kalah.
"Maaf..." hanya kalimat itu yang bisa Alana ucapkan sampai pandangannya terasa mengabur menatap Rafli yang tengah berbicara dengan pelan.
"Alana!"
Rafli terkejut, gadis itu terjatuh tepat dalam dekapannya dengan mata terpejam damai.
"Heh!"
"Bangun!"
"Argh!"
Rafli menggeram pelan berusaha menggendong gadis itu dengan bridal style. Pemuda itu menghela napas, saat wajah polos Alana berada dalam dekapannya.
"Rafli!"
Rafli menoleh, terdapat saudaranya, bersama Nea dan Alden yang terlihat panik.
"Alana kenapa?!" tanya Rafka menatap gadis itu.
"Di bully sama fans fanatik lo!" jawab Rafli malas.
"Tania?" tanya Nea mendapat anggukan kecil dari Rafli.
"Terus, dia pingsan?" tanya Alden bersuara. "Kok seragam lo?" tanya pemuda itu lagi.
Rafli berdecak, menatap Rafka yang tengah mengepalkan tangan.
"Bawa cewek lo ke UKS!" ucap Rafli namun Rafka menggeleng.
"Gue mau urus Tania!" ujar Rafka kemudian pergi diikuti Alden.
"Yaudah, lo aja yang bawa ke UKS," usul Nea dengan senyum kecil.
"Gue tau maksud senyuman lo!" kesal Rafli melanjutkan langkahnya membuat Nea tertawa hingga ia tiba di UKS dan merebahkan Alana di brankar.
"Petugasnya mana sih?" gumam Rafli tak mendapati seorang pun di ruangan.
Rafli ingin pergi, namun hatinya seolah berkata untuk tetap berada disamping Alana. Perlahan, Rafli mengambil kotak P3K lalu membersihkan luka gores di lutut Alana.
Rafli meneguk saliva menatap gadis itu. Mengapa disaat- saat sekarang ini, Alana terlihat sangat cantik meski dengan tatanan rambut yang berantakan dan wajah pucatnya.
"Gue mikir apa sih!" Rafli menempelkan hansaplas, lalu menarik selimut menutupi tubuh gadis itu.
Rafli tersenyum miring, mengusap kepala gadis itu. "Kasian... Rafka itu cuman mau mainin elo!" ucap Rafli pelan.
Jemari Rafli turun mengusap pipi Alana dengan sisa- sisa air matanya. "Mulai sekarang, lo harus tunduk dalam genggaman gue! Poor girl..."
"Alan--"
Salsa menutup mulutnya rapat- rapat. Saat pemuda itu menoleh, Salsa dapat bernapas lega.
"Kak Rafka, gimana keadaan Alana?" tanya Salsa mendekat.
"Gue Rafli." Rafli pergi begitu saja.
"Hah?!" bingung Salsa menatap pintu yang baru saja ditutup oleh Rafli.
Masuk lah Rafka.
"Loh, kok balik lagi?" tanya Salsa menggaruk kepalanya.
"Alana udah sadar? Gue Rafka," ucap Rafka tersenyum pada Salsa.
"Ais!!" Salsa berucap kesal.
"Eh! Alana belum sadar! Aku, permisi beli teh hangat dulu buat Alana!" Salsa pun pergi menyisakan Rafka yang menatap Alana dengan tatapan sulit diartikan.