Alana mengerjapkan matanya, menatap seorang pemuda yang terlihat khawatir.
"Lana?" panggil Rafka membuat Alana sadar sepenuhnya kalau yang bersamanya sekarang adalah Rafka.
"Gimana? Masih pusing? Salsa baru aja pergi beli minum," ucap Rafka membantu gadis itu untuk bangkit.
"Kak Rafka?" tanya Alana memastikan.
"Iya," jawab Rafka tersenyum merapikan tatanan rambut gadis itu.
"Rafli, ngomong apa?" Rafka balas bertanya, membuat ekspresi Alana berubah. Rafka menyadarinya dan ia yakin kalau ada suatu hal antara Alana dan saudaranya.
"Dia, nolongin aku..." jawab Alana menundukkan wajah, Alana baru tersadar kalau ia masih mengenakan seragam dengan nama Rafli Razza Samuel.
Alana menatap Rafka, dua detik setelahnya Rafka menarik Alana kedalam dekapannya.
"Maaf ya... ini, gara- gara gue," ucap Rafka jujur.
"Kak..." pelan Alana merasa gugup.
"Enggak perlu, minta maaf..." ucap Alana menatap Rafka yang tengah memejamkan mata.
"Gue nggak tau ada hubungan apa antara lo dan Rafli, tapi gue harap... elo nggak suka sama dia," ucap Rafka membuat Alana menampilkan ekspresi bingung.
"Kak! Aku, nggak ngerti maksud kakak," ucap Alana melepas pelukan Rafka.
"Jangan dipikirin," kekeh Rafka menyadari dua lutut Alana yang ditempeli hansaplas saat gadis itu menyingkap selimut.
"Kak?" panggil Alana lagi.
"Hah? Iya?" Rafka membuyarkan lamunannya, mengangkat tangan menyentuh kepala Alana.
"Aku tau, kakak orang baik. Tapi, aku mohon, jauhin aku..." ucap Alana membuat Rafka terdiam.
"Enggak," tolak Rafka mentah- mentah.
"Kak, yang dibilang Kak Rafli itu benar! Derajat kita beda---"
"Rafli ngomong apa lagi?" tanya Rafka dengan dua tangan bertumpu pada brankar mengurung tubuh Alana yang bersiap turun dari brankar.
Pipi Alana memanas, menatap wajah tampan Rafka dalam jarak sedekat ini. Bahkan aroma rambutnya, Alana dapat menciumnya.
"Lana, Rafli ngomong apa lagi?" ulang Rafka tersenyum dengan memiringkan kepala.
"Derajat... kita... beda..." ucap Alana kata demi kata saat Rafka mendekatkan wajahnya.
"Apa lagi?" tanya Rafka.
Alana menahan tubuh pemuda itu dengan tangannya saat jarak mereka semakin menipis.
"Enggak ada!" tegas Alana membuat Rafka menjauhkan diri dengan senyuman sulit diartikan.
Rafka kembali menarik gadis itu kedalam dekapannya hingga bibirnya mendarat dikening Alana. Sontak saja Alana terkejut, tentang apa yang dilakukan Rafka padanya.
"Ini tehnya!"
Langkah Salsa terhenti, apa yang dilihatnya sekarang? Sahabatnya, dipeluk oleh Rafka!? Bahkan terlihat jelas bibir Rafka menyentuh kening sahabatnya.
"Pulang nanti, sama gue ya?" pinta Rafka menatap Alana. Gadis itu mengangguk, masih dengan tatapan tak percaya.
"Lana, gue juga beli roti." Salsa kembali bersuara setelah menaruh gelas teh di meja dekat Alana.
"Makasih," ucap Alana tulus.
Salsa mengangguk lalu menatap Rafka yang hanya menatap Alana.
"Gue, mau ke koperasi dulu. Beli seragam buat lo!" ucap Salsa dan saat Alana hendak mencegahnya, Rafka menggeleng membiarkan Salsa pergi.
"Ayo, minum," ucap Rafka membantu Alana minum.
Sedari tadi, Alana bingung harus berkata apa lagi. Ia ingin Rafka pergi meninggalkannya, dan hidupnya kembali seperti dulu. Namun setelah semua yang terjadi, apakah bisa?
"Selai cokelat, lo suka?" tanya Rafka setelah membuka bungkus roti.
Alana kembali mengangguk menerima roti tersebut lalu memakannya.
"Kak Rafka, nggak masuk kelas?" tanya Alana menatap jam dinding yang sudah menunjukkan jam masuk.
"Gue mau nemenin elo," jawab Rafka menarik kursi duduk menghadap Alana.
"Luka ini, masih sakit?" tanya Rafka menatap dua lutut gadis itu.
Alana menggeleng. "Makasih, udah obatin luka aku," ucap Alana dengan senyum manis.
"Bukan gue, tapi Rafli."
Senyum Alana memudar, rasanya ia sudah tak bernafsu untuk melanjutkan makannya.
"Makasih..." ulang Alana menundukkan wajah.
Waktu cepat berlalu, saat ini Rafka sudah mengantarkan Alana pulang. Disampingnya terdapat Nesya yang asik bermain ponsel.
"Abang," panggil Nesya membuat Rafka menoleh sejenak.
"Abang juga sih, terlalu nunjukin Alana. Jadinya kena bully," ucap Nesya.
"Tanpa lo bilang, gue juga udah tau ini kesalahan gue," balas Rafka mengacak pelan rambut adiknya.
"Ih!" kesal Nesya kembali bermain ponsel.
Mereka tiba di rumah, mendapati ibunya tengah memasak makanan untuk makan malam bersama para asisten rumah tangga.
"Rafka, Neysa, langsung mandi. Kalau belum shalat ashar, shalat dulu." Ucap Ray menatap anak- anaknya sejenak.
"Rafli udah pulang?" tanya Rafka.
"Udah, jangan ganggu adik kamu," tegur Ray membuat Rafka tersenyum lalu melangkah menaiki tangga hingga tiba dikamar Rafli.
"Lo ngomong apa sama Alana?" tanya Rafli setelah mendapati Rafli tengah bermain game masih mengenakan celana abu- abu.
"Hah?" Rafli enggan menoleh, fokus pada gamenya hingga Rafka dengan tanpa pikir panjang mencabut stop kontak layar televisi besar itu.
"Lo kenapa sih! Pergi sana! Ganggu aja!" gusar Rafli melempar asal stik gamenya.
"Gue nanya, lo ngomong apa sama Alana?" ulang Rafka sudah menghempaskan tubuhnya dikasur Rafli.
"Tuh cewek ngadu apa sih ke elo?" tanya Rafli menatap saudaranya.
"Terserah gue dong, mau ngomong apa!" ucap Rafli dingin.
"Lo suka ya sama Alana?" duga Rafka menatap langit- langit kamar.
"Gue? Suka sama dia?!" tanya Rafli sinis.
"Cewek di dunia ini bukan cuman dia!" ucap Rafli membuat Rafka bangkit menatap saudaranya.
"Tapi cewek di dunia lo cuman Alana, benar kan gue?" tanya Rafka tertawa kecil.
"Pergi lo!" usir Rafli menunjuk pintu yang masih terbuka.
"Ya ampun... kalian ini, jangan ribut. Bentar lagi Ayah datang, cepat mandi." Ray berdiri diambang pintu dengan berkacak pinggang.
"Rafli," panggil Ray mendekati puteranya.
"Hm?" tanya Rafli kembali menyalakan layar video gamenya.
"Maafin, Bunda ya?" ucap Ray mencoba tersenyum mengusap kepala Rafli.
"Mana bisa, Rafli marah sama Bunda," balas Rafli yang sudah menatap layar besar itu.
"Anak pintar..." puji Ray tersenyum membuat Rafli tersenyum tipis.
"Bang Rafka!!" panggil Nesya ikut masuk kekamar Rafli mengetahui ibunya juga berada disana.
"Apaan?" tanya Rafka.
"Habis magrib, temanin Nesya ke Supermarket yuk! Nesya mau beli sesuatu!" pinta Nesya pada kakaknya.
"Rafli aja ah, gue malas." Ucap Rafka jujur.
"Ogah," singkat Rafli membuat Ray tersenyum.
"Rafka, tumben kamu malas, biasanya kalau soal keluar malam, kamu nomor satu," kekeh Ray membuat Nesya mengacungkan jempol pada perkataan ibunya.
"Sakit hati, Bun. Habis di putusin Alana," jawab Rafka membuat Rafli tertawa pelan.
"Pacaran aja belum!" singkat Rafli tanpa mengalihkan pandangannya dari layar video game.
"Di putusin?" tanya Ray bingung.
"Iya, tadi Alana kena bully," balas Rafka tanpa sadar membuat Rafli melotot.
"Eh!" Rafka tersadar pada kalimatnya. "Tapi! Rafli nolong dia! Jadi jangan hukum Rafli!" ucap Rafka memohon pada ibunya.
"Iya, lagian. Ini salah fans fanatiknya Bang Rafka!" tambah Nesya membela Rafli.
"Sorry..." pelan Rafka pada saudaranya.
Rafli berdecak masuk kekamar mandi meninggalkan permainannya.
"Jangan hukum Rafli ya," pinta Rafka lagi.
"Iya, Bunda yang udah terlalu keras sama dia, Rafli nggak bakal kena hukum kok," ucap Ray lembut.
"Oh ya? Jadi Bang Rafli yang nolongin Alana? Nesya dengar dari Salsa, Bang Rafka," ucap Nesya tak percaya.
Rafka terdiam dengan senyum canggung.
"Tanya aja, sama Rafli." Rafka berucap, didengar oleh Rafli yang sudah mengguyur tubuhnya dengan air.
"Dasar! Cewek itu, dia ngadu apa sih sama Rafka! Gue lagi yang kena!" gumam Rafli dengan tangan terkepal.