Bab. 22

1989 Kata

Apartemen Sebelum acara... Ilham melangkah mondar-mandir tidak jelas. Hal itu mengusik pandangan Abi Fariz dan Ghaly. Keduanya mendekat, lalu Abi Fariz menyeret lengan Ilham, mendudukkan putra sulungnya tersebut di sofa. Pandangan Abi Fariz mengunci pada mata Ilham. Seolah mencari kejelasan tentang apa yang baru saja disampaikan putranya. "Abi tanya sekali lagi Ham, ini kamu sudah benar-benar serius? Atau cuma mau main-main saja?" Selidik Abi Fariz. Ilham menggeleng cepat, "Yaa Allah, Abi! Giliran udah serius malah nggak percaya. Beneran serius Bi!" jawabnya tegas dan lugas. "Ham, menikah itu cuma sekali seumur hidup lho ya. Jangan sampai salah niatnya. Yakin beneran ini udah mantap mau dikhitbah?" Ghaly ikut menimpali pembicaraan. Ilham menghela napas panjang. Kemarin didesak

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN