"Fazha, berisik!" Teguran Ega saat Fazha memainkan bolpoint dengan mengetuk-ngetukkan ke permukaan buku, menimbulkan bunyi nyaring yang lumayan menggangu fokus Ega. Fazha cuek, teguran Ega menjadi angin lalu baginya. Masa bodo, dan tak acuh. Fazhura sedang tidak tenang. Sejak Terakhir kali berkirim pesan tadi pagi pada Ilham. Sampai sore begini belum ada satu pun balasan yang masuk. Apalagi jika mengingat panggilan baru pada Ilham yang ia sematkan di pesan singkat tadi pagi, rasa malu terus saja menyelimuti hati Fazha. Mendadak pipi Fazhura bersemu merah. Malu dan salah tingkah. Membayangkan bagaimana nanti kalau Ilham malah meledek atau menjaili gara-gara panggilannya tersebut. Satu buku tebal berisi tentang ilmu fiqih wanita telah melekat di tangan Fazha. Ingin memulai menyantap ba

