Bab 1. Bertemu Gadis Cantik
“Rey, Mama cuma minta satu hal, datang ... duduk, udah! Satu jam saja.”
Reynard menghela napas panjang sambil menarik tali anjingnya sedikit lebih pendek. Udara pagi masih dingin, jalanan kompleks elite itu belum terlalu ramai. Di tangannya, ponsel menempel di telinga.
“Ma, ini sudah yang ke berapa?” tanyanya datar. “Aku sudah bilang dari awal, Aku nggak mau.”
Di ujung sana terdengar suara sendok beradu dengan cangkir, tanda mamanya sedang menahan emosi.
“Tidak mau? Kamu pikir Mama ini maksa tanpa alasan? Semua anak teman Mama sudah menikah! Kamu sudah mapan, sudah terkenal, pewaris tunggal lagi. Mau sampai umur berapa kamu seperti ini? Tinggal nikah saja repot bikin Mama pusing.”
Anjing besar berbulu cokelat keemasan itu menoleh sebentar ke arah tuannya sebelum kembali mengendus trotoar.
“Bruno, pelan-pelan,” gumam Reynard tanpa melepas ponsel.
“Rey! Mama sedang bicara!”
“Iya, aku dengar Mama bicara. Dari kecil aku sudah nurut,” jawabnya akhirnya, nada mulai tegas. “Sekolah di luar negeri, ambil jurusan yang Papa mau, lalu masuk perusahaan sesuai keinginan keluarga. Bahkan karier di dunia hiburan pun aku jalani demi brand image keluarga.”
Ia berhenti sebentar, menatap jalan lurus di depannya.
“Tapi untuk pasangan hidup, aku yang tentukan sendiri. Aku nggak mau dicampuri.”
Hening sesaat.
Lalu suara mamanya meninggi lagi. “Kamu takut apa, Rey? Takut fans kamu cemburu? Takut kehilangan popularitas? Atau sebenarnya kamu memang tidak siap menikah?”
Reynard terkekeh tipis. “Fans? Ma, aku ini bukan anak SMA yang takut kehilangan penggemar.”
“Lalu apa masalahnya? Kamu artis papan atas, CEO muda, wajah kamu tiap minggu masuk majalah. Tinggal menikah saja tidak mau. Mau jadi bujang lapuk?”
“Kalau harus nikah cuma karena tuntutan sosial, aku lebih pilih jadi bujang lapuk.”
“Reynard Alvero!”
Ia memejamkan mata sebentar, lalu membuka lagi. Tatapannya dingin. “Aku nggak akan datang ke kencan buta itu. Kalau Mama mau marah, silakan. Tapi untuk urusan pasangan hidup, aku yang tentukan.”
Tanpa menunggu jawaban, ia mematikan teleponnya.
Hening.
Hanya suara langkah sepatu di atas paving dan napas Bruno yang berat.
“Drama tiap bulan,” gumamnya pelan.
Ia menurunkan ponsel dari telinga, hendak memasukkannya ke saku jaket olahraga. Namun dalam sepersekian detik, tali anjingnya terlepas dari genggamannya.
“Bruno!”
Anjing itu mendadak menarik diri, mungkin karena melihat kucing di seberang jalan, lalu berlari kencang.
“Bruno! Sini!”
Reynard refleks mengejar, orang-orang yang sedang jogging menoleh heran melihat pewaris Alvero Group itu berlari kepanikan.
“Bruno, berhenti!”
Anjing itu justru makin semangat, menyeberang ke trotoar lain, lalu tanpa ragu masuk ke sebuah minimarket di sudut jalan.
“G¡la …,” desis Reynard.
Ia menerobos pintu kaca otomatis yang terbuka dengan bunyi ting.
“Bruno!”
Beberapa pelanggan menoleh, seorang kasir terkejut melihat anjing besar masuk begitu saja.
Dan di dekat rak minuman dingin, Bruno duduk manis. Ekor besarnya bergoyang pelan.
Di depannya, seorang gadis cantik sedang berjongkok, mengelus kepalanya dengan hati-hati.
“Shh, tenang, ya, nggak apa-apa.” Suara gadis itu mengalun lembut.
Reynard yang semula tegang mendadak berhenti.
Ia tidak lagi melihat Bruno, melainkan fokus pada gadis itu.
Rambutnya tergerai sederhana, sedikit tertiup AC minimarket. Ia mengenakan kemeja putih longgar dan celana jeans, tanpa riasan mencolok. Wajahnya bersih, tatapannya tenang nan menyejukkan.
Cantik.
Gadis itu mendongak ketika merasakan sebuah tatapan memperhatikannya.
Mata mereka bertemu. “Ini anjing Anda?” tanyanya pelan.
Reynard tidak menjawab, masih berdiri kaku yang tanpa sadar netranya tak lepas menatap sosok manis di hadapannya.
Senyum kecil tanpa sadar terlukis di wajahnya. Bruno menggonggong pelan, seolah menyadarkan.
“Maaf?” Gadis itu melambaikan tangan kecilnya di depan wajah Reynard. “Halo?”
Reynard tersentak. “Ah, iya.” Ia berdeham pelan, mencoba kembali ke mode normal. “Iya. Itu anjing saya.”
“Ooh.” Gadis itu tersenyum ringan. “Tadi dia masuk sendiri. Saya takut dia panik, jadi saya elus-elus biar tenang.”
Bruno justru makin manja, menempelkan kepala ke lutut gadis itu. Reynard menghela napas, lalu berjalan mendekat.
“Emang nakal,” katanya santai. “Suka lari-larian kalau lihat sesuatu yang menarik.”
“Termasuk masuk minimarket?” Gadis itu terkekeh kecil.
Suara tawanya menelusup begitu saja ke gendang telinga Reynard dan menggetarkan jantungnya. Dan entah kenapa, membuat Reynard merasa pagi ini tidak seburuk tadi.
Ia menunduk, memegang tali Bruno, tapi tidak langsung menariknya. Sebaliknya, ia mengulurkan tangan ke arah gadis itu.
“Reynard.”
Gadis itu menatap tangan yang terulur sebentar, lalu menyambutnya dengan sopan.
“Alyssa.”
Sentuhan singkat.
Hangat.
“Terima kasih sudah jaga Bruno,” katanya.
“Bruno?” Alyssa mengulang, tersenyum pada anjing itu. “Namanya cocok.”
“Dia lebih nurut ke orang asing daripada ke saya,” gumam Reynard.
“Berarti dia punya selera,” balas Alyssa ramah.
Reynard tertawa kecil, untuk pertama kalinya pagi itu, ia tertawa tanpa beban.
“Alyssa,” ulangnya pelan, seolah mengingat nama itu.
Gadis itu melepas tangannya. “Baiklah, sepertinya pemiliknya sudah datang. Saya harus lanjut bekerja.”
Ia berdiri, kembali ke balik meja kasir dan bersiap melayani pembeli.
Reynard memperhatikan setiap gerakannya.
“Eh,” panggilnya spontan.
Alyssa menoleh.
“Ya?”
Reynard terdiam sepersekian detik. Ia yang selalu percaya diri di depan kamera, di depan ribuan orang, kini justru kehilangan kalimat.
“Kalau suatu hari Bruno kabur lagi, boleh saya langsung ke minimarket ini? Kayaknya dia suka tempat ini.”
Alyssa mengangkat alis tipis, menahan senyum.
“Semoga saja dia nggak kabur lagi.”
“Tapi kalau iya?”
Gadis itu akhirnya tersenyum lebih lebar, lesung pipinya semakin membuat manis. “Ya sudah. Saya part-time di sini setiap pagi.”
Reynard menatap papan nama kecil di dadanya.
Alyssa Valencia.
Seolah mengukirnya dalam ingatan.
“Baik,” katanya pelan. “Semoga Bruno cukup nakal untuk memberi saya alasan datang lagi.”
Alyssa menggeleng kecil, lalu menyibukkan diri mengelap barang display
Sementara Reynard masih berdiri di tempatnya beberapa detik, sampai Bruno harus menarik talinya pelan.
“Tenang,” gumamnya pada anjing itu, tapi matanya masih mengikuti sosok Alyssa.
“Papa lagi mengamati calon Mamamu, Bruno. Kamu nakal lagi saja besok, biar Papa ada alasan lagi ke sini. Kamu harus jadi anak baik, anak penyambung Papa dan Mama. Nanti Papa bukakan kaleng daging sampai rumah, ya.”
Perlahan, ia keluar minimarket sambil menarik Bruno, meski ekor matanya masih curi-curi pandang.
Sepertinya, pilihannya menentukan calon istri sendiri sudah tepat, dan kini ia sudah mendapatkannya.
"Harus pastikan dia single, besok Bruno harus bantu Papa PDKT!"