BAB 3

1277 Kata
Jam hampir menunjukkan pukul 12 malam. Rissa masih terus mencari sosok Farhan. Tiba-tiba cowok itu menghilang. Tapi dia sama sekali tidak berhasil menemukannya. Bahkan dia sudah berkeliling baik di luar maupun di dalam pesta. Hasilnya nihil. Farhan tidak dia temukan dimana pun. Bahkan Bima dan Kiky yang tadi bersamanya juga ikut hilang. Entah kemana mereka semua. Akhirnya Rissa menyerah dan masuk kembali ke dalam pesta. Siapa tahu nanti Farhan akan muncul. Rissa kemudian duduk kembali di kursinya tadi. Kini teman-temannya banyak yang sudah pulang. Tapi dia ingin terus menunggu Farhan. Tak lama kemudian Deny muncul menghampirinya. “Kok belum pulang, Ris?” Rissa menengadah dan tersenyum kecut. “Nunggu Farhan. Lo tahu nggak dia ke mana? Tadi gue udah cari dia, tapi nggak ketemu-ketemu.” Deny menggeleng. “Jangan-jangan dia udah pulang?” “Masak dia tega banget ninggal aku? Ah, nggak mungkin, Den.” Deny mengedikkan bahu tanpa menjawab apa-apa. “Kemana, sih, dia? Masih bareng Bima sama Kiky, ya?” tanya Rissa coba menebak. “Bima sama Kiky udah pulang. Baru aja. Mereka malah titip salam buat Farhan.” “Hah?” Rissa menelah kekecewaan. “Terus dia kemana?” Lagi-lagi Deny menggeleng. “Ini udah malem, Ris. Mending lo gue antar aja gimana? Nanti biar Farhan gue cari. Siapa tau dia lagi jalan-jalan kemana gitu, sampai lupa waktu.” Akhirnya Rissa hanya bisa mengangguk pasrah. Senyum di bibir Deny mengembang. Lalu dia bangkit berjalan menyusuri area parki dengan Rissa mengekor di belakangnya. Diam-diam senyum itu berubah menjadi senyuman licik. Sudah lama sekali dia menunggu ini semua. Akhirnya sekarang terjadi secara perlahan-lahan. Rasain lo, Far! Paling juga sekarang lo lagi digamparin cewek-cewek! *** Farhan merasa dirinya semakin aneh. Seperti ada sesuatu atau roh yang masuk ke dalam dirinya dan terus mendorongnya. Dia tidak tahu apa dan kenapa. Dia merasa sebagian kepalanya pusing dan ingin jatuh. Farhan terus berlari menyusuri lorong-lorong hotel. Tapi tidak ada kamar mandi yang dia lihat. Tidak ada dimana pun. Bahkan dia merasa nyaris pingsan sekarang. Dorongan itu sangat kuat dan tidak bisa dia tahan. Tidak bisa dia lampiaskan atau keluarkan. Farhan berlari semakin kencang. Tapi tenaganya seperti akan habis dan hilang. Dia merasa tubuhnya panas seketika. Seluruh bagian tubuhnya seperti terkendali oleh panas itu. Dia nyaris tidak kuat menahan panas yang kini semakin menyanderanya. Langkah kakinya semakin lama semakin lambat. Dan dia ingin... jatuh! BRAAK Sebelum Farhan sempat jatuh, dia menabrak seseorang. Samar-samar retina matanya mulai menangkap bayangan di hadapannya. Pelan-pelan Farhan mulai mengenali sosok yang tergambar di depannya. Sosok itu mengayun-ayunkan tangannya di depan. Bayangan itu kabur dan hampir... hilang! Tapi, satu yang dia ingat. Sosok di bayangan itu adalah si cewek mobil pink. *** Setelah bekas kotoran soda yang mengenai dress-nya hilang, Faren beranjak dari toilet. Dia berjalan pelan sambil mengingat-ingat kembali lorong mana saja yang dia lewati tadi. Tapi sepertinya dia mulai amnesia. Berkali-kali dia melewati nomor kamar yang sama. Faren melirik jam yang melingkar di tangannya. Hampir jam 12 malam. Tapi dia tidak menemukan jalan keluar dari hotel yang nyaris mirip labirin ini. Bahkan dia tidak menemukan pelayan hotel berkeliaran. Kalau pun ada, dia bisa bertanya dan segera pulang. Baru separuh langkah menuju tikungan lorong yang lain, tiba-tiba dia merasa tubuhnya terdorong ke belakang hingga nyaris terjatuh. Untungnya dia bisa menahan keseimbangan tubuhnya. Tapi seseorang yang menubruknya itu malah jatuh tersungkur di depannya. Faren tersentak kaget ketika sosok itu tiba-tiba jatuh dengan bersimbah penuh keringat. Dia mulai bingung dan ketakutan. Perlahan Faren berjongkok di samping sosok itu. Dan mengenali sosok itu sebagai si cowok menyebalkan yang menendang mobil pink-nya! Faren mengayun-ayunkan tangannya di depan wajah Farhan. Tidak ada reaksi. Kemudian dia menggoyang-goyangkan tubuh cowok itu. Tetap tidak ada reaksi. Faren menggigit bibirnya ketakutan. Dia merasa benar-benar sial. Kenapa bukan orang lain yang menemukan cowok sialan ini pingsan? Kenapa harus dia yang jelas-jelas sudah cukup sial? Faren bangkit dan mulai berlari kebingungan. Dia berlari menyusuri lorong-lorong sambil meneriakkan pertolongan. Tiba-tiba salah seorang pelayan hotel lewat di depannya. “Mas, tolong!” Faren berteriak sambil mengejar pelayan itu. “Ada apa, Mbak?” “Itu Mas, temen satu sekolah saya pingsan. Aduh gimana ya?” tanya Faren kebingungan. “Waduh... Di mana mbak?” “Di belakang situ, Mas.” Faren segera beranjak diikuti si pelayan hotel menuju tempat Farhan pingsan tadi. Pelayan hotel itu membawa Farhan masuk ke dalam salah satu kamar hotel. Faren mengikutinya dengan cemas. Setelah dibaringkan di atas ranjang, pelayan itu mengambil sebotol kayu putih dari rak dan membaui Farhan agar dia sadar. Nyatanya beberapa menit berselang sosok itu mulai bergerak pelan-pelan. Meski belum sepenuhnya sadar. “Mbak, kayaknya temen Mbak udah mulai sadar.” “Makasih ya, Mas.” Faren bangkit dengan antusias. “Iya, sama-sama, Mbak. Nanti kalau misalnya temen Mbak masih sakit atau butuh ambulan langsung hubungi resepsionis ya, Mbak.” “Oke, Mas.” Sepeninggal pelayan itu, Faren hanya bisa menghembuskan nafas berat. Kemudian dia terduduk di samping ranjang. Dia menggerutu kesal sambil terus melirik jam di dinding kamar. Entah akan jadi apa dia kalau papanya tahu dia belum ada di kamar sekarang. Faren begidik ngeri membayangkannya. Dia melirik ke arah Farhan dan mendesis. “Dasar cowok sialan! Gara-gara lo gue nggak bisa pulang! Awas aja, besok gue bakal tagih biaya sewa kamar.” Faren memandangnya kesal. Kemudian mendekatkan wajahnya ke arah wajah cowok itu.  Faren mengamati wajahnya yang bersimbah keringat. Lalu meraih tasnya dan mengambil sekotak tisu. Dia menyeka pelan-pela keringat yang masih mengalir di bagian pelipis dan leher cowok itu. “Mmm...” tiba-tiba kepala Farhan bergerak. “Lo udah sadar?” gumam Faren pelan. Farhan membuka mata pelan-pelan dan merasa seluruh pandangannya mengabur tidak jelas. “Sakit,” gumamnya kemdian. “Apanya yang sakit?” Faren menatap cemas. “Pusing.” “Oh... Pusing? Bentar ya, gue panggilin pelayan dulu.” Faren baru saja berniat bangun, tapi tiba-tiba Farhan meraih tangannya. “Apalagi?” Faren menoleh ke arahnya. “Risssaaa...” ucapnya tidak jelas. “Rissa? Rissa siapa?” Kemudian Faren teringat sesuatu. “Oh.. Maksud lo Maurissa, ya? Dia udah pulang kali. Udah nih, nggak ada yang mau lo pesen gitu? Air putih atau apa?” “Risssaaa....” ucapnya masih dengan nada yang sama. Mirip orang linglung. Faren menghembuskan nafas berat. “Mana gue tahu dia di mana. Udah, gue ke bawah bentar.” Faren meneruskan langkah. Tapi tiba-tiba tangan Farhan menariknya hingga dia jatuh menimpa cowok itu. Wajah mereka saling bertatapan. Farhan menatapnya dengan wajah seperti orang mabuk. Mendadak Faren seperti waswas. “Risssaaa....” suaranya semakin tidak jelas. Dengan sekali sentakan Farhan berhasil membalikkan posisi. Sehingga sekarang dia yang kini berada di atas Faren. “Eh, lo mau ngapain?!” tanya Faren semakin panik. “Iih... janngan pegang-pegang gue! Gue bukan Rissa! Lepaasss!” “Rissa...” Farhan menatapnya lagi. Dan mulai menciumnya. ***  Farhan membuka mata pelan-pelan. Dia melihat seberkas cahaya menerobos dalam jendela. Perlahan Farhan mengangkat wajahnya yang terasa pening hebat. Dan dia mulai menyadari ketidakberesan yang terjadi. Ini bukan kamarnya! BYUUR Lalu tiba-tiba guyuran air mendarat tepat di wajahnya. Rasanya dingin seperti es. Farhan mengusap wajahnya menggunakan tangan. Semakin tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Dan yang dia lihat selanjutnya malah si pemilik mobil pink! Ya, anak baru itu—yang bernama Faren. Sekarang cewek itu ada di hadapannya! “Dasar cowok b******k!” gumamnya marah. Farhan menatap Faren dengan kernyitan heran. “Eh, kurang ajar lo ya?! Apa maksud loe nyiram-nyiram gue kayak gini?!” Faren mencemooh kesal. “Tanya sama diri lo sendiri!” ketusnya sambil berlarian keluar. Farhan menatapnya keheranan. Dia bersiap mengejar cewek itu. Tapi langkahnya terhenti tiba-tiba saat dia menyadari suatu hal yang fatal. Ternyata dia tidak pakai baju!  Detik selanjutnya Farhan mengumpat, “s**t!” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN