BAB 4

1957 Kata
Hari ini hari penandatanganan ijazah. Tapi anehnya Farhan malas sekali berangkat sekolah. Sejak hari ulang tahun Deny, dia merasa ada yang aneh pada dirinya. Dia merasa ada yang mengganjal dalam dirinya. Bahkan dia merasa hidup dalam misteri. Sungguh, dia tidak mengerti mengapa dia bisa berakhir seperti itu pada malam promnight. Farhan menghembuskan nafas frustasi. Ketika langkahnya masuk ke pelataran SMA 40, rasanya semakin terasa aneh. Bukan hanya pada dirinya. Tapi juga orang-orang di sekitarnya. Bahkan ketika masuk ke dalam koridor sekolah, anak-anak lain menatapnya dengan pandangan aneh. Seperti mencemooh, atau lebih tepatnya menghina. Farhan semakin bingun dengan apa yang terjadi. Sampai tiba-tiba dia mendapati handphone di sakunya mengerjap-ngerjap. Ternyata sebuah chat dari Rissa. Ak pgn ketmu km skrg! Di rftoop! Tanpa mempedulikan tatapan di sekelilingnya, Farhan berjalan menuju atap sekolah. Dia berusaha sekuat mungkin untuk tidak mempedulikan tatapan-tatapan tersebut. Meskipun dia harus berjuang mati-matian menahannya. Benar-benar aneh. Padahal biasanya dia disegani. Tapi mendadak tatapan anak-anak menjadi dingin penuh intimidasi. Ketika sampai di atap sekolah Farhan memasang seulas senyum. Di sana Rissa sudah menunggu. Pacarnya itu berdiri memunggunginya sambil berpegangan pada kawat besi pembatas. Sementara matanya menatap jalanan di bawah lurus-lurus. Farhan mendekat pelan-pelan untuk memberi kejutan. Perlahan ditutupnya kedua mata Rissa dengan telapak tangan. Beberapa detik berlalu dan Rissa mulai sadar. Kedua jemari cewek itu meraba telapak tangan Farhan. Setelah agak lama, akhirnya Farhan membuka tangannya. Rissa kemudian berbalik dan melihat Farhan ada di depannya dengan senyum yang mengembang. “Hai sayang—” Belum selesai Farhan berbicara, satu tamparan dari Rissa melayang turun. Farhan meringis kesakitan sembari meraba pipinya. Benar-benar shock mendapat tamparan yang mendadak itu. Tidak adil sekali Rissa membalas kejutan manisnya dengan tamparan menyakitkan ini. “Kok kamu tampar aku, sih?” protes Farhan. Rissa menatap Farhan penuh amarah. “Kamu emang pantas ditampar! Bahkan kayaknya tamparan aja nggak cukup!” “Maksud kamu?” Farhan menatap Rissa bingung. “Nggak usah pura-pura b**o, deh!” “Kamu kenapa jadi aneh gini sih, Ris?! Kamu aneh, anak-anak juga aneh! Kok semua jadi aneh gini sama gue?!” Rissa tersenyum sinis. Senyum yang tak pernah Farhan lihat. Bukan senyuman seorang Rissa yang sabar, kalem, dan baik hati. Tapi senyuman iblis. Bukannya menjawab, Rissa malah mengulurkan i-pad yang ada di genggamannya ke arah Farhan. Farhan nyaris pingsan melihat video yang diputar di layar i-pad itu. Sebuah video m***m dengan tokoh utama dia dan si pemilik mobil pink. Tidak begitu jelas. Gambarnya gelap dan kabur. Tapi cukup untuk mengenali siapa orang yang ada di dalam situ. Farhan menyerahkan i-pad itu dengan kasar. “Ini fitnah, Ris!” “Fitnah? Kamu masih bilang fitnah?! Udah jelas-jelas itu kamu! Dan cewek itu Faren, kan? Aku nggak pernah nyangka kamu punya hubungan sama dia!” “Ris, percaya sama aku. Aku nggak pernah kayak gitu!” “Nggak usah ngelak, deh! Udah mending video itu cuma nyebar di murid-murid SMA kita doang. Coba kalo sampai nyebar ke guru atau polisi? Mau jadi apa lo?! Sampah masyarakat?” Farhan diam saja. Kedua tangannya mengepal erat. Emosinya nyaris mencuat-cuat ke ujung kepala. Dia tidak pernah merasa melakukan hal sekeji dan sehina itu. Tapi kenapa ada video semacam itu? “Dasar biadab!” Lalu tamparan selanjutnya datang. Dua kali tamparan. Dan rasa sakitnya berkali lipat! Rissa kemudian berlari menuruni tangga sambil menahan tangis. Secepat kilat Farhan mengejarnya. Tapi Rissa berlari sangat cepat. Bahkan nyaris menuruni dua anak tangga sekaligus. Dan dia menubruk seseorang ketika hampir sampai di bawah.        Dan orang itu... Faren! Begitu menyadari siapa yang dia tabrak, Rissa bukannya minta maaf malah mendorong Faren dengan sengit. Farhan terdiam di belakang Rissa. Dia bahkan tidak berani menatap wajah Faren. Dia berusaha mengalihkan pandangannya sebisa mungkin. Langkah kakinya mendadak kaku. “Dasar para pendusta!” teriak Rissa sambil melihat ke arah mereka. Kemudian dia berlari menjauh. Farhan dan Faren langsung bertatapan ketika mendengar penghinaan yang ditujukan untuk mereka. Detik selanjutnya Farhan mengalihkan pandangan. Berusaha menghindari tatapan Faren. Dia meneruskan langkahnya untuk mencari Rissa yang kini sudah menghilang. “Rissa!” Farhan berteriak memanggil namanya. Tapi cewek itu sudah menghilang. Dia berniat untuk mencarinya, tapi tidak jadi karena tiba-tiba dia teringat sesuatu. Cewek itu ngapain ke atap? Jangan-jangan... Farhan berjengit kaget. Secepat mungkin berbalik dan kembali menaiki tangga menuju atap sekolah. Di sana dia melihat Faren berdiri sambil memegang kawat penyangga yang pendek dan rikuh. Farhan berlari ke arahnya dan menarik tangannya. Faren menoleh kesal. “Jangan pegang-pegang gue!” katanya sambil menepiskan tangan Farhan dengan kasar. “Jangan bunuh diri, please. Gue mohon...” Faren menatapnya dengan tampang mencemooh. “Gue nggak sebego lo! Dasar b******k!” Dia mengalihkan pandangan dan memegang terali besi dengan kuat. Farhan menghembuskan nafas berat. “Terus aja bilang gue b******k! Tapi gue sama sekali—” “b******k!” Faren menyela dengan nada yang lebih menyakitkan. Farhan menatapnya pasrah. Lalu mendekatkan wajahnya. “Lo mau nampar gue? Khusus buat lo, boleh lebih dari tiga kali. Empat, lima, enam? Berapa pun yang lo mau, gue siap ditampar. Mumpung gue lagi kebal menghadapi virus kayak tamparan.” “Gue nggak butuh tampar lo! Nggak guna sama sekali!” semburnya sambil berlari turun. Farhan menatap Faren yang pergi menjauh. Dia hanya bisa menghembuskan nafas pasrah. *** Farhan berjalan dengan lambat menuruni anak tangga. Baru beberapa langkah di depan pintu toilet cowok, tiba-tiba ada yang menarik lengannya. Lalu dia didorong masuk ke dalam salah satu bilik toilet di sana. “Huusstt...” Bima menyilangkan tangan di depan Farhan. Sementara Kiky di sampingnya menutup pintu toilet rapat-rapat. “Apaan sih lo berdua?! Gue mau pulang!” Farhan berteriak kesal. Lagi-lagi Bima menyilangkan tangannya kembali. Kiky juga melakukan hal yang sama. Farhan menghembuskan nafas berat. Dan bicara pelan-pelan. “Apa sih?” desisnya. Farhan sudah menduga apa yang kedua temannya akan lakukan. Ternyata benar. Kiky mengulurkan handphone ke arahnya. Dan  pasti ada hubungannya dengan video m***m sialan itu lagi. Dia sudah cukup capek! Apa dua gamparan yang dahsyat tidak cukup? “Gue nggak peduli! Gue mau pulang!” Farhan tidak mau menerima handphone yang diulurkan Kiky padanya. Dia menerobos Kiky dan Bima menuju pintu toilet. Tapi lagi-lagi Bima dan Kiky mencegahnya. Farhan menatap mereka menahan kesal. “Apalagi, sih?!” “Far, itu beneran lo?!” Bima menatapnya tak yakin. “Iya itu emang gue! Puas?!” “Tapi Far, ini aneh banget!” cerocos Kiky sambil memukul-mukulkan handphone ke telapak tangannya. “Udahlah Ky, itu emang beneran gue! Jadi nggak usah dibahas lagi!” “Tunggu, deh, Far! Gue tetep ngerasa ada yang aneh sama semua ini! Gue setuju sama Kiky!” Bima mengeluarkan argumen ala profesor. Di antara mereka berempat, Bima memang paling pintar. Dia jago menganalisis dan mengeluarkan argumen semacam hipotesa. “Jangankan lo berdua, gue yang udah jelas-jelas pelaku aja nggak tau apa-apa!  Emang aneh banget! Dasar video sialan!” “Ada hubungannya nggak, sih, sama yang waktu lo mau ke toilet?” tanya Kiky asal. Tapi justru pertanyaan itu malah membuat Farhan dan Bima langsung menatap ke arahnya. Farhan memejamkan mata. “Gue nggak yakin, sih. Tapi, waktu itu sebenernya gue nggak gebelet pipis. Cuma tiba-tiba tubuh gue panas.” Farhan menatap kedua temannya memberi kode. Bima dan Kiky berpandangan, lalu mulai mengerti. “Terus habis itu lo ke toilet?” “Gue nggak nemu toilet. Gue malah nabrak cewek itu. Terus—” Farhan mencoba mengingat-ingat. “Gue lupa.” “Oh iya, inget nggak, Ky?” Bima menepuk bahu Kiky. “Kemarin waktu kita bilang mau nyari Farhan dulu, Deny malah ngelarang kita dan nyuruh kita pulang.” “Iya, gue inget. Apa coba maksudnya?” Kiky mulai berpikir. “Jangan-jangan—” Bima mulai menerka. Sebelum Bima selesai bicara, tiba-tiba Farhan menerobos mereka dengan kasar dan berjalan keluar dengan cepat. “Pasti ada hubungannya sama Deny!” Farhan mendesis sambil berlarian. “Far, lo mau kemana?” Bima mengejar Farhan. Farhan menoleh dengan masih menahan amarah. “Nyari kebenaran! Lo berdua bantu gue! Oke?” katanya sambil memberi kode tanpa banyak bicara. Bima dan Kiky mengangguk mengerti dan segera berlari ke arah lain. *** Deny tersenyum penuh kemenangan. Semua berjalan terlalu mulus, bahkan di luar dugaannya. Sahabat sekaligus musuhnya itu telah hancur perlahan-lahan. Deny sangat yakin Rissa akan melupakan laki-laki b******k itu dan datang padanya. Cinta pertamanya itu akan berpaling kembali padanya. Dan dia akan datang sebagai angel untuk menyingkirkan devil itu dari hati Rissa. Deny berjalan memasuki koridor itu sambil terus tersenyum. Dia tidak bisa memungkiri perasaannya, sekarang ini dia benar-benar bahagia. Bahagia di atas penderitaan orang lain, maksudnya!  Tiba-tiba saku celananya bergetar. Handphone di dalamnya berbunyi dengan nyaring. Deny menyipitkan mata membaca kontak yang tertera di layar. Dia celingukan kesana kemari. Begitu yakin suasana mulai sepi, dia segera berderap masuk ke dalam gudang olahraga “Halo, Jorghi.” “Gimana, Bro?” jawab seseorang di seberang sana. Deny tersenyum lagi. “Thanks, obat yang lo kasih itu manjur banget. Gue aja nyampe penasaran gimana kejadiannya secara langsung. Udah hampir mati, kali! Hahaha.” “Iyalah, Bro, mahal banget itu obat.” “Gue tahu. Tenang aja, gue bayar tiga kali lipat, kok. Dan soal video itu, lo emang the best! Gue salut banget sama lo semua. Uangnya nanti langsung gue transfer. Gue janji.” Deny menutup percakapan dengan senyum yang mengembang. Baru ketika dia memasukkan handphone itu ke dalam saku, seseorang menendangnya dari belakang hingga handphone di tangannya jatuh dengan kasar. Seluruh isinya berhamburan. Layarnya retak tak bersisa. Deny menoleh ke belakang dan lebih kaget lagi melihat Farhan berdiri di sana. “Jadi semua ini ulah lo, Den?!” Deny berusaha menyembunyikan kekagetannya. “Bagus, deh, kalo lo udah tahu,” jawabnya santai sambil memasukkan tangannya ke saku. Lalu hantaman keras datang tiba-tiba dari Farhan. Deny terdorong ke belakang. Hampir saja dia jatuh menabrak gawang sepak bola yang sudah berkarat di belakang. Untung dia segera mencari pegangan. “Gue nggak nyangka lo sekejam ini sama gue, Den!” Deny diam saja. Dia hanya tersenyum sinis sambil memegangi pelipis kirinya yang kini berdenyut hebat. “Gue kira selama ini kita temen! Ternyata... Loe nusuk gue dari belakang!” Farhan memandang Deny dengan penuh kekecewaan. “Jadi, selama tiga tahun ini lo anggap gue apa? Musuh yang harus loe taklukin?” “Sejak awal, lo emang musuh gue!” Deny akhirnya angkat bicara. “Lo udah rebut cinta pertama gue! Lo yang nusuk gue dari belakang, Far!” Farhan mengangkat sebelah alisnya. “Maksud lo apa?! Cinta pertama siapa? Gue nggak ngerti—” “Rissa. Gue duluan yang kenal dia daripada lo. Gue juga udah suka sama dia sejak SMP. Dan lo malah dengan seenaknya ngambil dia dari gue!” Farhan menatapnya dengan penuh amarah. Deny tersenyum penuh kemenangan di hadapannya. Denny telah berhasil merusaknya tepat di hadapan Rissa. Membuatnya dimaki, dihina, dan ditampar oleh Rissa. Seseorang yang jelas-jelas sangat dia cintai. Deny telah menang. Farhan menarik kerah baju Deny. Bersiap menghajarnya lagi. Tapi tiba-tiba Bima dan Kiky datang menghalanginya. “Udah, Far!” Bima menengahi. Tapi Farhan terus berusaha memukuli Deny. Kiky berusaha menjauhkan Deny dari jangkauan Farhan. Sayangnya gagal. Farhan memukuli Deny dengan sekuat tenaga. Emosinya sudah meracuni pikirannya. Amarah yang sejak kemarin dia tahan, kini keluar sudah. Deny tidak tinggal diam. Berusaha membalas perbuatan Farhan. Begitu terus pukul-pukulan berlangsung. Sampai satu suara datang menghentikan semuanya. “Berhenti!” Suara itu milik Rissa. Perkelahian itu pun terhenti dalam sekejap. Semua orang menoleh ke sumber suara. Di sana ada Rissa! Yang tak disangka, dia berjalan mendekat. Lalu mengulurkan tisu ke arah Deny yang hidungnya kini mulai mengalirkan darah. Kemudian pelan-pelan Rissa memapah Deny berjalan. Sebelum pergi, Rissa melirik bengis ke arah Farhan. “Pengecut!” katanya dengan nada kejam. Mereka berdua pun pergi menjauh. Farhan hanya bisa memandang kepergian mereka. Seketika Farhan merasa hatinya telah hancur dan remuk berkeping-keping. Bima dan Kiky hanya bisa menepuk pundaknya, mencoba menghibur. ***   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN