Bima akan pergi ke Amerika!
Jam delapan pagi, Farhan dan Kiky sudah berada di bandara Soekarno-Hatta untuk mengantar kepergian sahabatnya itu. Sejak tadi pagi Kiky terus saja menyusut air mata kesedihan. Begitu juga dengan Farhan yang memasang wajah murung dan lesu. Bima adalah seorang sahabat yang baik dan pengertian. Bima paling dewasa di antara mereka semua. Bima juga yang selalu menyelesaikan semua masalah yang dihadapi Farhan dan Kiky. Betapa besar arti Bima bagi mereka. Tapi, keadaan harus mengikhlaskannya untuk pergi.
“Bim, pokoknya lo harus sering kirim chat sama e-mail ke kita!” kata Kiky sambil merangkul bahu Bima.
“Iya Bro, gue janji!” Bima memasang senyum manis.
“Kalaul lo pergi, siapa dong yang bakal ngelerai gue sama Kiky kalau berantem?” Farhan berkata dengan murung.
Bima merangkul Farhan dan tertawa, “Makanya jangan keseringan berantem atau rebutan PS. Kalian kan tinggal berdua, nih! Jangan berantem kayak anak kecil! Kita kan udah lulus, udah jadi mahasiswa.”
“Iya, sih, tapi Kiky nyebelin! Gue nggak tahan kalo sehari aja nggak mukul jidatnya.”
“Mending lo mukul jidat lo sendiri, deh! Dari pada mukul jidat orang lain.” Kiky mulai nyerocos panjang lebar.
Bima berdecak. “Tuh, kan, mulai lagi! Baru aja dibilangin!”
“Iya, iya, gue diem!”
Beberapa saat kemudian, pemberitahuan keberangkatan pesawat diumumkan. Dengan berat hati Farhan dan Kiky harus melepas kepergian Bima. Bima tak henti-hentinya melambaikan tangan ke arah mereka, sampai akhirnya pintu menuju lapangan udara tertutup. Bima seperti tertelan jurang yang begitu dalam. Hilang tak bersisa. Sementara di sini, Farhan dan Kiky tak henti-hentinya memandang sosok Bima yang semakin lama semakin hilang.
“Sekarang tinggal kita doang, Ky.” Farhan berjalan mendahului Kiky dengan lesu.
“Iya, nih, bakalan sepi hidup kita.” Kiky menyusul langkah Farhan.
Keduanya berjalan meninggalkan bandara dengan lesu dan tanpa ada semangat sedikit pun. Farhan menghembuskan nafas berat. Satu orang lagi telah pergi! Pergi demi impiannya!
Rissa pergi, Deny pergi, dan sekarang... Bima juga pergi!
***
Faren baru saja bangun tidur ketika didengarnya suara ketukan pintu dari luar. Perlahan dia melangkah turun dari tempat tidurnya. Sedikit menguap, dibukanya perlahan pintu kamar. Samar-samar matanya menemukan sosok Farel di depan. Adik laki-lakinya itu nyengir lebar.
“Apa, sih, Rel?!” Faren menggerutu kesal sambil merapikan rambutnya.
“Ditunggu Mama di meja makan. Lagian kakak tumben banget siang-siang gini malah tidur,” jawab Farel sambil mendudukkan diri di atas ranjang kakaknya.
“Nggak tau, nih, kakak capek banget belakangan ini. Nggak enak badan gitu. Jadinya kakak tidur, deh,” jawab Faren sembari mengikat rambutnya yang tergerai panjang. Kemudian dia beranjak turun memasang sandal.
“Makanya jangan sering tidur kemaleman.”
“Tapi, kan, belajar. Buat persiapan seleksi masuk kuliah.”
Farel mencebik sambil berjalan mengikuti kakaknya. Dalam hati menggerutui kakaknya yang terlalu sering belajar demi masuk PTN. Padahal menurutnya kuliah di mana pun itu sama saja. Tidak ada bedanya baik negeri maupun swasta. Atau mungkin pandangan murid dengan otak pas-pasan sepertinya berbeda dengan otak pintar kakaknya itu.
“Yeay makan!” Faren berseru girang begitu sampai di meja makan. Matanya langsung tertuju pada aneka ragam lauk pauk yang terhidang. Ada ayam goreng, sayur sop, ikan gurameh, telur pindang balado, perkedel, dan aneka gorengan lainnya. Benar-benar lezat!
Farel melirik kakaknya ngeri. “Kayak nggak makan setahun aja!”
“Biarin!” Faren melotot ke arah adiknya sejenak. Lalu mulai menyendok nasi banyak-banyak. Kemudian menambahkan telur, gurameh, ayam, dan sayur ke dalam piringnya.
“Biasa aja dong makannya! Banyak banget!” Farel semakin berdecak.
Lagi-lagi Faren tidak menghiraukan ucapan Farel. Dia makan dengan lahap. Mama dan Papa sampai bengong melihat putrinya makan dengan rakus. Padahal biasanya porsi makan Faren cuma seperempat dari hari ini.
“Kamu laper banget, Ren?” tanya Papa heran.
Faren mengangguk sekilas.
“Hati-hati nanti maag-nya kambuh.”
Faren mengangguk tak peduli. Dia melanjutkan makannya dengan lahap. Tapi ketika sendok terakhir tersisa, dia merasa mual dan ingin muntah. Faren menutup mulutnya tiba. Secepat kilat berlari ke kamar mandi. Mama, Papa, dan Farel langsung heran melihat sikapnya yang aneh.
Beberapa saat kemudian, Faren kembali ke meja makan. Wajahnya basah oleh air. Dia membersihkan mulutnya menggunakan tisu. Lagi-lagi Mama memandangnya heran.
“Kamu muntah, sayang?”
“Iya, Ma.” Faren meraih sembarang tisu dan membersihkan mulut.
“Kamu, sih, udah dibilangin Farel jangan makan banyak-banyak, masih aja ngeyel!”
“Maaf deh, Ma.” Faren membereskan piring dan sisa makanannya. “Habis lauknya enak banget, sih. Tapi kok tiba-tiba Faren pusing banget, ya, Ma.?”
“Kamu sakit?”
“Nggak tahu, Ma.”
Mama menghela nafas berat. “Ya udah, kamu tidur aja sekarang. Nanti Mama buatkan s**u panas.”
Faren mengangguk sambil berjalan kembali menuju kamar.
***
Faren berjalan masuk ke dalam kamar dan menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang. Dia menyentuh keningnya. Tidak terlalu hangat. Faren bangkit dari tidurnya, mendadak pusing di kepalanya hilang. Seperti kemarin. Dia pusing, tapi langsung sembuh. Sekarang dia pusing lagi, lalu sembuh lagi. Aneh!
Faren memilih untuk tidak memikirkan hal itu. Dia malah mengambil majalah dan membacanya. Dia merasa tertarik dengan artikel mengenai shooping weekend para remaja. Baru beberapa kalimat, tiba-tiba dia merasa perutnya mual lagi. Mau tidak mau, Faren berlari ke arah kamar mandi. Menumpahkan apa yang ada di perutnya.
Faren membersihkan mulutnya menggunakan air keran. Dia mematut wajahnya di depan cermin. Wajahnya lesu dan pucat. Mirip seperti orang sakit. Faren diam membisu. Entah kenapa kejadian di hotel itu terlintas di pikirannya secara tiba-tiba. Mendadak Faren menjadi kaku.
***
“Setelah video laknat itu, sekarang apalagi?!” tanpa sadar Faren berteriak frustasi. Untung dia sendirian di rumah. Mama pergi arisan. Papa masih kerja. Farel ada ekskul basket di sekolah. Jadi, tidak ada yang memarahinya berteriak seperti ini.
Faren terdiam. Air matanya mengalir turun secara tiba-tiba. Dia tidak mau. Tapi dia harus mencobanya. Mau atau tidak.
Dengan berlinang air mata, Faren merogoh tas selempangnya. Dia mengeluarkan sebuah testpack kecil yang dia beli di apotik tadi. Kemudian dia melangkah masuk ke dalam kamar mandi. Entah mengapa, kamar mandi menjadi tempat yang paling menyeramkan saat ini. Faren bahkan merinding ketika merasakan hawa sejuk kamar mandi. Mungkin tenggelam di laut akan jauh lebih menyenangkan saat ini daripada harus mencoba alat mengerikan itu!
Setelah melakukan apa yang diperintah oleh kemasan benda itu, Faren segera keluar dari kamar mandi. Dia menunggu dengan cemas. Wajahnya menegang dan bibirnya mulai membiru. Dia berdoa dalam hati, semoga semua itu tidak benar.
Beberapa menit kemudian, Faren memberanikan dirinya masuk ke dalam kamar mandi. Dia merasa bulu kuduknya meremang melihat gelas kecil plastik berisi benda itu. Faren memejamkan matanya dan meraih gelas itu.
Tiga... Dua... Satu...
Dua garis.
Faren menjatuhkan benda itu ke lantai kamar mandi. Air matanya mengalir semakin deras. Faren berlari keluar dari kamar mandi. Dia menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang dan menangis di sana. Dia merasa benar-benar ingin mati. Atau hilang dan lenyap tanpa bekas sedikit pun.
***
Farhan menatap langit-langit kamarnya dengan hampa. Belakangan ini dia merasa hidupya sepi. Tidak ada Rissa yang mewarnai harinya lagi. Rissa sudah membencinya. Bahkan mungkin, bertemu dengannya saja Rissa pasti tidak mau.
Farhan memejamkan matanya rapat-rapat. Bukannya terbayang Rissa, dia malah teringat Faren! Astaga! Farhan segera bangkit dari tidurnya. Setelah kejadian video m***m itu, dia tidak pernah bertemu dengan Faren. Padahal sudah hampir tiga minggu berlalu. Dia tidak tahu bagaimana kabar cewek itu sekarang. Yah, semoga baik-baik saja.
Semoga!
***