Sudah berulang kali Farel membunyikan bel rumah, tapi tak ada siapa pun yang membukakan pintu. Dia mengintip melalui celah jendela. Sepi senyap. Akhirnya Farel mencoba membuka pintu. Ternyata tidak dikunci.
“Kak Faren kemana, sih? Kok nggak dikunci gini?! Kalau ada maling gimana?” Farel menggerutu sambil menendang bola basketnya masuk ke dalam ruang tamu. Setelah meletakkan tas dan berganti pakaian, Farel bergegas menuju kamar kakaknya. Pintu itu terbuka. Faren tertidur pulas dengan mata yang sembab dan bengkak.
Farel menghembuskan nafas panjang. Lagi-lagi kakaknya tidur. Dari kemarin yang dilakukannya tidur terus, batin Farel kesal. Pandangannya teralih pada pintu kamar mandi kakaknya yang terbuka dengan lampu menyala terang. Tumben. Biasanya kakaknya akan mematikan lampu dan menutup pintu kamar mandi bila tidak digunakan. Belakangan ini kakaknya aneh.
Farel masuk ke dalam kamar mandi mencari-cari saklar. Tapi retina matanya malah menangkap sebuah benda kecil yang ada di lantai kamar mandi. Farel menyipitkan matanya heran, dia mengambil benda itu dan mengamatinya. Sepertinya dia pernah melihat benda seperti ini di sinetron-sinetron. Tapi Farel tidak ingat benda apa ini. Akhirnya Farel memutuskan menanyakannya pada Mama nanti setelah Mama pulang dari arisan. Farel memasukkan benda itu ke dalam saku. Lalu mematikan lampu kamar mandi dan bergegas keluar kamar.
***
Farel menembak lawan-lawan nya dengan lincah. Dia sudah berhasil menjatuhkan delapan belas musuh dan memperoleh 1500 poin. Cukup untuk membeli alat tembak baru yang lebih tangguh dari pistol kecil yang sekarang dia gunakan ini. Setelah membasmi para tentara, Farel mengeluarkan bom untuk mengenyahkan para gangster.
“Rel...” suara Mama terdengar dari balik pintu.
Farel meletakkan stik PS-nya dan berlari membukakan pintu. Mama tampak menunggu dengan tidak sabar. Di tangannya terdapat sekantong plastik brownies. Farel berseru girang sambil mengambil alih kantong plastik dari tangan Mama.
“Kok sepi? Kakakmu mana, Rel?!” tanya Mama sambil melangkah menuju dapur.
“Tidur, Ma,” Farel meletakkan kantong plastik yang dibawanya ke atas meja makan.
Mama mengambil piring dan menata brownies itu di atasnya. Farel langsung mencomot satu buah dan memakannya dengan lahap. Tiba-tiba dia teringat sesuatu. Dia merogoh saku celananya.
“Ini apaan, sih, Ma?” Farel mengulurkan benda temuannya pada Mama.
Detik selanjutnya tubuh Mama menegang. Ditatapnya benda itu dengan tak percaya. Tidak salah lagi. Benda itu testpack—benda yang tidak seharusnya berada di tangan anaknya. “Farel! Darimana kamu nemu barang kayak gini?!” suara Mama meninggi.
Farel terkesiap kaget dengan perubahan sikap Mama. “Da—Dari kamar mandinya Kak Faren,” jawabnya takut-takut.
Mama naik pitam. Segera berlarian menuju lantai atas. Farel yang melihatnya buru-buru mengikuti. Di sana, Faren tengah tertidur pulas. Tapi Mama dengan begitu kasarnya berlarian mengguncang-guncangkan tubuh Faren.
“Aww... Mama!” Faren memegangi lengannya yang kemerahan akibat ulah Mama.
“Apa ini maksudnya?!” Mama melemparkan benda itu ke atas ranjang putrinya.
Faren memandangi benda itu dengan wajah ketakutan. Air matanya mulai merembes lagi. Faren menangis tanpa bisa menjawab pertanyaan Mama.
“Apa bener benda ini punya kamu?! Jawab!”
Faren masih menangis.
“Mama bilang jawab!” Mama menggoyang-goyangkan tubuh Faren lagi. “Jawab, Ren!”
Akhirnya Faren mengangguk tanpa suara.
“Kamu—Hamil?” tanya Mama tak percaya.
Faren mengangguk lagi.
Detik selanjutnya tamparan dari Mama melayang jatuh. Tamparan yang keras itu menyambarnya bagai petir. Faren menangis semakin keras. Mama tidak mempedulikannya dan malah berjalan keluar kamar dan menguncinya. Faren menangis sejadi-jadinya.
***
Papa membuka pintu kamar dengan kasar. Faren merasa nyawanya nyaris melayang melihat Papa datang. Tidak pernah Papa semarah ini. Tidak pernah Papa semenakutkan ini. Tidak pernah.
“Faren, apa benar yang dibilang Mama kamu?!” Papa berteriak frustasi. Dia mengguncang-guncang bahu Faren dengan kasar. Matanya yang semula kering, kini mulai basah lagi oleh air mata. Sebisa mungkin Faren menjauhkan tatapannya dari Papa. Dia takut. Takut pada tatapan Papa yang seakan menggerogotinya sedikit demi sedikit.
“Faren! Jawab Papa! Apa kamu hamil?!” Papa semakin mendesak. Cekalannya pada bahu Faren semakin kuat. Faren mengangguk pelan sambil menangis dalam diam.
Papa menatap Faren tak percaya. Tatapannya membunuh bagai sebilah baja. Dia meremas pergelangan tangan Faren dengan kuat. “Bilang sama Papa sekarang! Siapa pacar b******k kamu itu?!”
Faren menggeleng. “Dia bukan pacar Faren, Pa,” jawabnya takut-takut.
“Terus siapa?!” Papa naik pitam. Dia mengepalkan tangannya kuat-kuat. “Temen cowok kamu?”
“Bu—Bukan, Pa.”
Papa semakin marah. “Terus siapa yang bikin kamu hamil?! Makhluk gaib?! Atau alien?!”
“Papaaa!” Mama berusaha menenangkan Papa. Tapi tidak berhasil karena Papa terlalu emosi. Terlalu berpikir pendek. Dan terlalu terbawa suasana.
“Siapa, Ren?!”
Akhirnya helaan nafas Faren terdengar. “Faren nggak kenal sama dia, Pa.”
“Kamu nggak kenal?!” Papa tertawa sinis. “Kamu nggak kenal, tapi kamu bisa hamil anaknya! Begitu maksud kamu?!” Faren diam saja. Dia terus menangis. “Siapa namanya?!”
Faren tetap diam dengan berderai air mata.
“Kalau kamu nggak mau jawab, Papa akan kirim kamu—”
“Maafin Faren, Pa. Maaf.”
“Siapa, Ren? Siapa?!”
Faren menarik nafasnya lagi. “Namanya—”
***
Makan malam kedua keluarga akhirnya terjadi pada hari berikutnya. Farhan tidak bisa menyembunyikan rasa takutnya pada calon Papa mertuanya itu. Sejak tadi pria paruh baya itu terus berkata dengan nada ketus dan menyebalkan. Bahkan Mama dan Papanya juga ikut ketakutan saat suara Papa Faren terdengar penuh ancaman. Lalu yang dilakukan mereka semua hanya menuruti setiap perkataan pria tersebut. Sampai akhirnya kedua keluarga mencapai puncak kesepakatan.
“Pokoknya pernikahan ini harus segera dilaksanakan!” Papa Faren masih berbicara dengan nada sarkas.
Nikah???
Farhan nyaris tersedak mendengar perkataan itu. Bagaimana nasibnya ke depan? Apa dia akan jadi ayah yang pengangguran? Atau seorang kepala keluarga yang gagal mengurus rumah tangga? Atau malah jadi mirip babysitter yang mengurus bayi? Berbagai kemungkinan berkecamuk memenuhi otaknya.
Semua ini seperti sebuah mimpi buruk. Bahkan ini jauh lebih buruk dari pada menjadi jomblowan seumur hidup. Lagipula, nikah? Getting married? Hal yang sangat tabu!
“Bagaimana? Kalian setuju, kan?” Kali ini Mama Farhan yang angkat bicara.
Farhan dan Faren bertatapan bingung. Mereka sama sekali tidak tahu apa yang harus mereka lakukan. Dalam kasus ini, mereka hanyalah korban yang tidak bersalah tapi terjerat tali. Mereka sendiri masih merasa menjadi bocah tapi harus mengurus bocah. Konyol!
“Saya mau ke belakang dulu!” tiba-tiba Faren bangkit dan berjalan keluar dari restoran. Beberapa saat kemudian, Farhan ikutan bangkit. Tapi dia tidak bilang mau kemana. Tiba-tiba langsung pergi begitu saja. Anggota keluarga yang lain menatap mereka heran.
Farhan berjalan keluar dari restoran. Dia mengejar Faren yang tampak berlarian menuju toilet. Cewek itu bergerak cepat masuk ke dalam salah satu pintu toilet. Melihatnya membuat Farhan terpaksa menunggu di luar. Dari luar pintu toilet itu, dia mendengar suara muntahan yang cukup keras. Seketika Farhan menutup kedua telinganya. Mendadak merasa nyaris gila.
Tak lama setelah itu, pintu toilet terbuka. Faren berjalan keluar dan langsung kaget melihat Farhan berdiri di depannya. Dia menatapnya dengan wajah serius.
“Karena gue yang salah—” Farhan terdiam sambil menggaruk-garuk rambutnya. Dia bingung harus bicara apa.
“Iya, emang lo salah!” Faren memotong dengan nada kejam.
“Gue tahu. Makanya gue mau nanya sama lo.” Farhan menghembuskan nafas berat. “Sebenernya apa yang lo mau?”
Faren tidak menjawab. Dia malah mengambil tisu dan membersihkan mulutnya.
“Gue mau tanggung jawab. Tapi...” Farhan menghembuskan nafas dalam-dalam. “Lo mau nikah sama gue?”
“Menurut lo?” Faren mentap wajah cowok di hadapannya dengan serius. “Apa gue punya pilihan lain?”
Farhan menghembuskan nafas kasar. “Hmm... Ya, kayaknya gue juga nggak punya pilihan lain.”
***
Farhan menatap bangunan megah di hadapannya dengan sendu. Dia menghembuskan nafas pasrah. Dengann langkah kaki berat, dia berjalan mendekati rumah itu. Farhan terdiam sebentar untuk menetralkan deguapan jantunya. Setelah dia tenang, barulah dia membunyikan bel.
Tak lama setelahnya, seorang cewek dengan rambut panjang menjuntai sebahu membuka pintu. Rissa tampak terkesiap melihat Farhan berdiri mematung di sana. Rasa benci yang baru beberapa hari ini mereda akhirnya kembali menguap lagi.
Rissa mendesis, bersiap menutup pintu kembali.
“Dengerin aku dulu, Riss!” Farhan menahannya dengan cepat.
“Mau ngapain lo masih ke sini?!” Rissa menyedekapkan tangan angkuh. “Kalau lo mau ngomong, gue kasih waktu sepuluh detik dari sekarang.”
Farhan terdiam sejenak, sebelum akhirnya dia mulai bicara. “Aku ke sini cuma pengen bilang, thanks untuk tiga tahun terindah kita.”
“Terus?”
“Selamanya kamu akan jadi cinta pertamaku, Ris.”
“Oke.” Rissa mengangguk-angguk sok yakin. “Udah, kan? Nggak ada yang lain?”
“Dan gue mau kasih sesuatu—” Farhan mengeluarkan sebuah benda persegi panjang dari balik jaketnya, lalu mengulurkannya pada Rissa. Ternyata sebuah undangan berwarna ungu dengan pita warna senada.
“Apa ini?” Rissa menatap benda itu ragu-ragu. Lalu merebutnya dengan kasar. Baru membaca bagian depannya saja, dia sudah nyaris pingsan.
A Wedding Invitation
Farhan Alifardi Razakian
&
Farenna Rizka Amandhyta
“Ka—kamu mau nikah?” tanya Rissa tidak percaya. Suaranya terdengar parau. Beku yang menutupi hatinya kini telah cair oleh segudang emosi yang memporak-porandakan hatinya. Sebisa mungkin Rissa menahan air matanya agar tidak jatuh di depan cowok yang masih sangat dia sayangi itu.
Farhan mengangguk pelan tanpa bicara sepatah kata pun.
“Secepat itukah?” tanya Rissa tiba-tiba. Suaranya sarat akan emosi yang mendalam.
“Yah, emang begitu. Gue bikin kesalahan besar di malem itu. Lo juga udah lihat sendiri apa yang gue lakuin, kan?” Farhan mengedikkan bahu. Kemudian dia pamit pulang. Rissa hanya bisa menatap kepergiannya dengan kosong.
Mobil marcedes hitam itu hilang menembus padatnya jalan raya. Tanpa sadar air mata Rissa mulai tumpah. Dia berlari masuk ke dalam kamar dan menangis sepuasnya sambil memandangi foto mereka berdua. Mungkin ini kali terakhirnya bersama.
Far, asal kamu tahu, aku masih sayang sama kamu. Aku cuma terlalu emosi. Tapi aku nggak bisa bohong Far, kamu terlalu aku sayang. Aku nggak akan sanggup kalo kamu bersanding sama cewek lain. Bener-bener nggak sanggup!
***