BAB 7

2065 Kata
Farhan nyaris tidak percaya ketika melihat pantulan wajahnya di depan cermin. Dia bukan lagi seorang Farhan yang memakai baju seragam. Tapi Farhan yang memakai baju pengantin. Benar-benar sulit dipercaya. Semalaman Farhan sulit tidur gara-gara memikirkan ini semua. Dan sekarang ketika ini semua terjadi, apa yang harus dia lakukan? Apa dia harus kabur? Atau bersembunyi di kamar mandi seperti ketika tidak mengerjakan tugas dari guru? Atau melakkan apa? Farhan sama sekali tidak tahu. Lalu setelah semua ini berakhir, apa yang harus dia perbuat? Apa dia bisa menjadi Farhan yang seperti biasanya? Atau dia harus menyandang gelarnya sebagai seorang SUAMI dengan bijaksana? Suami? Menikah? Punya istri? Punya anak? Farhan nyaris gila memikirkannya. Dia tidak pernah bermimpi menjadi SUAMI secepat ini. Apalagi dengan cewek yang tidak pernah dia cinta. Ralat: Tapi pernah dia sentuh. Di mimpinya, dia akan menikah pada usia 28 tahun. Bukan 18 tahun. Dan sudah pasti istrinya Rissa. Lalu mereka akan hidup bahagia selamanya. Ini pasti mimpi buruk! Tapi nyatanya? Dia sekarang ada di sini. Menjadi seorang pengantin. Calon suami. Gila! “Far,” Kiky menjerit dan berlarian masuk. Dia menggunakan jas hitam yang lengannya digulung tiga perempat bagian. Wajahnya terlihat lebih fresh dari biasanya. “Lo ganteng banget! Sumpah!” Kiky menatap Farhan dan terpukau melihat jas ungu super keren yang dipakai sahabatnya. Farhan menatap cermin lekat-lekat. Dia memang kelihatan lebih ganteng. Lebih keren. Lebih cool. Lebih segala-galanya pada hari ini. Tapi tetap saja di matanya dia tidak lebih dari seorang pecundang dan remaja gagal. “Tapi gue bakal lebih ganteng kalau pake putih abu-abu lagi!” Farhan merespon datar. “Udah, deh, dijalani aja dengan ikhlas. Nanti pasti berkah.” “FARHAN!! LO  BENERAN NIKAH?!” Farhan dan Kiky menoleh ke sumber suara. Mereka kaget bukan main saat melihat Bima berdiri di sana dengan muka melongo tak percaya. Dia berlari mendekat dan memelototi Farhan dari atas sampai bawah.  “Kok lo ada di sini, Bim?” tanya Kiky bingung. “Iyalah! Gue langsung terbang dari Boston ke sini! Lagian siapa yang nggak pulang kalau denger kabar sobatnya mau kawin?!” Bima mulai nyerocos. “Kawin gitu loh!!! Ritual sekali seumur hidup!” Kiky mencebik. “Anang nikah dua kali, tuh!” “Ya, maksud gue untuk ukuran masyarakat biasa kayak kita! Kalau dia mah bukan masyarakat biasa. Nggak usah heran.” “Terus dia alien gitu?” Bima langsung melotot. “Ya, nggak gitu juga kali, Ky! Maksud gue, Anang kan artis. Manusia super.” Farhan menatap dua orang itu dengan kesal. Di saat yang serius ini mereka malah memperdebatkan pernikahan Anang. Benar-benar tidak penting!. Hanya membuat masalah semakin runyam saja. Akhirnya Farhan bangkit berjalan keluar sambil membetulkan jas ungu-nya yang menurut Kiky super keren itu. Di luar ruang rias, Farhan bertemu pandang dengan Deny yang tersenyum penuh kemenangan ke arahnya. Farhan pura-pura tidak melihat, tapi Deny malah datang mendekat. Membuatnya menahan gelagak emosinya yang tiba-tiba bersarang. “Cie, yang udah mau jadi suami. Punya istri. Punya anak. Komplit, deh!” ujar Deny setengah tertawa. “Jadilah suami yang jantan. Jangan lirik-lirik wanita lain! Oke?” Farhan mendecih kesal. Dia tersenyum sinis ke arah Deny dan membalas ucapannya. “Oh, thanks. Gue pasti inget kata-kata lo!” “Bagus!” Deny tersenyum lagi. Kali ini dia berbisik ke arah Farhan. “Happy Wedding! Selamat menempuh hidup baru!” *** Farhan duduk dengan gelisah. Di hadapannya ada penghulu dan Papa Faren yang menatapnya dengan penuh ketegasan. Hal itu membuatnya merinding. Ditambah lagi orang-orang yang bertaburan di sekelilingnya. Farhan merasa dia sedang berdiri di meja hijau dengan para hakim yang kejam dan akan menjatuhinya hukuman yang berat. Hukuman mati mungkin! Acara ijab kabul dimulai. Farhan nyaris tidak bisa menyembunyikan kegugupannya. Keringat dingin terus membanjiri pelipis dan lehernya. Apalagi saat calon mertuanya mengulurkan tangan. “Nak Farhan sudah siap?” Farhan menggigit bibirnya takut-takut. Dia melirik ke arah Faren yang tampak cantik dengan kebaya ungunya yang mewah dan penuh kerlap-kerlip. Wajahnya yang cantik dan putih memancarkan inner beauty. Farhan semakin gugup melihatnya. Dia segera meluruskan kembali pandangan. Lalu mengangguk mantap. Papa Faren menjabat tangan Farhan kuat-kuat. Farhan hampir menjerit ketika tulang tangannya kram mendadak akibat cekalan calon mertuanya itu. Sebisa mungkin Farhan menahan rasa sakit di tangannya dengan menghembuskan nafas berulang-ulang. “Ananda Farhan Alifardi Razakian bin Rahardyan Razakian, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri kandung saya, Farenna Rizka Amandhyta binti Farid Hasan dengan mas kawin berupa 100 gram emas, uang tunai sebesar 10 juta rupiah, dan seperangkat alat sholat dibayar tunai.” Farhan menghembuskan nafas dalam-dalam. Keringat dinginnya bercucuran lagi sebelum akhirnya dia menjawab dengan terbata-bata. “Sa—saya terima nikah dan kawinnya, Mauriss—Eh,” Farhan menutup mulutnya merasa salah bicara. Dia merutuki kebodohannya dalam hati. Benar-benar gawat. Dia hampir menyebut nama Rissa. “Ehm... Saya  ulang!” Papa Faren berdeham kasar. “Ananda Farhan Alifardi Razakian bin Rahardyan Razakian, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri kandung saya, Farenna Rizka Amandhyta binti Farid Hasan dengan mas kawin berupa 100 gram emas, uang tunai sebesar 10 juta rupiah, dan seperangkat alat sholat dibayar tunai.” “Sa—Saya terima nikah dan kawinnya, Farenna Rizka Amandhyta binti Farid Hasan dengan mas kawin berupa emas 100 gram,  uang tunai sebesar 10 juta rupiah dan seperangkat alat sholat di bayar tunai.” “Sah?” “Sah!!!” “Alhamdullilah.” Lalu suara ricuh semakin bersahutan. Dari tempatnya duduk, Farhan melihat Rissa berlari keluar dari ruangan. Farhan ingin sekali mengejarnya. Tapi yang bisa dia lakukan hanyalah memandang kosong kepergiannya. Menatap hampa punggung Rissa yang menjauh tanpa bisa meraihnya. *** Farhan masuk ke dalam kamarnya dan nyaris menjerit melihat keadaan kamarnya yang berbeda 180o  ketika dia tinggal tadi pagi. Sekarang kamarnya berubah menjadi kamar pengantin. Ranjangnya yang big size dengan seprei Manchester United itu kini berubah menjadi ranjang bidadari dengan selendang putih bertaburan bunga. Semua poster artis-artis Amerika kesukaannya hilang, terganti dengan kain-kain licin yang dihias sedimikan rupa. Farhan meliriknya jijik. Dan hei... Di mana koleksi mobil-mobilannya yang dibeli di luar negeri? Semua hilang  begitu saja. Pigura-pigura foto yang memajang fotonya dan Rissa sewaktu SMA juga ikutan hilang. Farhan merutuki dalam hati. Dia berjongkok dan melihat ke bawah meja-meja. Tapi tidak ada apa-apa. Di mana mereka menyembunyikan barang-barang itu? Faren keluar dari kamar mandi dengan menggunakan piyama ungu kado dari Mama. Dia heran melihat Farhan berjongkok-jongkok di bawah kolong meja. “Ren, bantuin gue cari!” perintah Farhan layaknya majikan. Faren mendecih tak suka, tapi tetap menjawab. “Nyari apaan?” “Mobil-mobilan gue nggak ada!” “Ya ampun.” Faren bangkit. Tidak jadi menolong. Dia merebahkan dirinya di atas ranjang. Dia tidak mau peduli mengurus urusan Farhan yang baginya sangat tidak penting. Cukup sudah semua kegilaan ini. Tidak perlu ditambah kegiatan tidak berguna itu. Farhan menatapnya kesal. Kemudian dia berlari keluar menyerukan nama kakakya. Farah. Tapi kakaknya itu malah menjawab dengan seenaknya. “Gue taruh di gudang! Lagian buat apa, sih Far, nyimpen kayak gitu? Pamali kalau udah nikah masih mainan kayak gitu!” Farhan ingin sekali menjitak kakaknya. Tapi urung dia lakukan. Sekarang dia malah masuk kembali ke kamarnya.. Ketika dia datang, suasana kamarnya sepi. Farhan berganti pakaian dengan piyama ungu yang dia dapat dari mertuanya. Setelah itu dia beranjak menuju kamar mandinya yang luas. Rupanya Faren sedang menggosok gigi. Farhan mendekat tanpa bicara apa-apa. Dia mengambil sikat giginya sendiri, mengoleskan pasta gigi, dan menggosoknya pelan-pelan. Pandangannya teralih pada kaca kamar mandinya yang luas. Di sana dia melihat pantulan wajahnya dan Faren yang kini sangat serasi menggunakan piyama pasangan. Tiba-tiba bayangan di depan Farhan mulai bermusuh. Seakan-akan di jidatnya itu tertulis kata ‘suami’ dan di jidat Faren tertulis ‘istri’. Dia nyaris frustasi memikirkannya. Dasar bayangan sial, makinya dalam hati. Kemudian dia menggosok giginya dengan cepat sambil terus memandangi cermin. Di sampingnya Faren melirik tak suka. Lalu melakukan hal yang sama. Seolah ada pertandingan tak tertulis di benak mereka. Siapa yang lebih jago gosok gigi? Anehnya, gara-gara melakukan hal konyol itu, Faren malah ingin muntah. Farhan bingung harus bagaimana. Apa dia harus menepuk-nepuk punggung Faren seperti di sinetron favorit Mamanya? Atau dia harus lari terbirit-b***t mengambil air putih? Atau malah berlari kesetanan dan berteriak, “Kamu nggak apa-apa, sayang?” Atau mungkin, “Mama nggak apa-apa, kan? Mama perlu apa biar Papa ambilin?” Persis seperti kedua orang tuanya. Benar-benar konyol! Farhan malah ingin ikutan muntah membayangkannya. Lalu mereka akan muntah bersama? Semakin konyol saja! Akhirya Farhan hanya bisa menyurungkan tisu toilet yang kebetulan lebih dekat dengannya daripada Faren. Satu bentuk perhatian kecil dari seorang suami kepada istrinya. *** Suara kicauan burung terdengar merdu bersamaan dengan bersembulnya sang mentari pagi dari balik peradaban. Sinar cahaya menelusup melewati jendela kamar. Farhan membuka mata pelan-pelan. Dia nyaris terlonjak jatuh ketika melihat Faren tertidur pulas di sampingnya. Dia sekarang ingat sesuatu. Bahwa sekarang dia sudah MENIKAH. Jadi wajar kalau sekarang dia harus berbagi ranjang dengan ISTRINYA. Farhan diam mengamati Faren. Dia tidak bergerak sedikit pun. Hembusan nafasnya terdengar begitu halus. Wajahnya tampak bercahaya. Kecantikannya seperti terpancar dan bersinar terang. Alisnya tebal, bibirnya kemerahan, begitu pula pipinya. Bekas riasan resepsi tadi malam sepertinya masih terlihat begitu jelas. Farhan masih terus mengamati wajah istrinya sampai pancaran wajah orang lain muncul. Wajah itu berubah menjadi Rissa. Ya, cintanya. Kisah cinta selama tiga tahun itu harus pupus sedemikian rupa. Hanya karena dia sekarang memiliki cinta yang lain. Cinta yang baru. Cinta yang memaksanya masuk ke lubang kehidupan yang lain. Farhan bangkit dari tidur dan memutuskan untuk tidak membangunkan Faren. Dia berjengit masuk kamar mandi. Butuh beberapa menit sampai akhirnya dia melangkah keluar dari kamar mandi. Di depannya Faren sudah bangun. Dia tampak sibuk menyisir rambutnya yang hitam panjang. Mereka berpandangan sejenak, tapi tidak saling bicara. Suara ketukan pintu terdengar tak lama kemudian. Farah melongokkan kepala ke dalam kamar. Serentak Farhan dan Faren menoleh ke arah pintu. “Ahem, pengantin baru! Lagi ngapain?” Boro-boro menjawab. Farhan malah tidak mempedulikan kakaknya sama sekali. Sementara Faren hanya tersenyum kecil menanggapi. Sama seperti Farhan, keduanya malas menanggapi. “Sarapan, yuk! Udah ditunggu, tuh!” kemudian Farah menutup pintu lagi. *** Faren memandang makanan di depannya sambil menahan air liurnya yang mau menetes. Pasalnya belakangan ini dia menjadi foodcaholic. Tadi malam saja tiba-tiba perutnya keroncongan dan tidak bisa diajak kompromi. Semalaman Faren berusaha menahan laparnya dengan memaksakan diri tidur. Tapi dia agak terganggu dengan suara nafas dan tingkah Farhan yang tidak bisa santai ketika tidur. Pada akhirnya dia bangun kesiangan. Huh, menyebalkan sekali!  “Ayo, Ren, makan dulu!” Mama mengulurkan piring dan sendok ke arah Faren. Faren menerimanya dengan senang hati. “Iya, Tan. Eh, Ma—” “Gimana tadi malem? Tidurnya nyenyak, kan?” Faren mengangguk malu-malu. “Iya, Ma.” Mama memasang senyuman lebar. “Oh iya, Ren, Mama udah daftarin kamu ke kelas senam yoga. Kebetulan yang punya Jeng Nita, temennya Mama pas SMA. Jadinya kamu bisa ikut kelas khusus.” Detik selanjutnya Farhan dan Faren tersedak Senam yoga? Apalagi ini?! “Maksud Mama apaan, sih?” Farhan melayangkan protes. Mulutnya penuh nasi. Nyaris menyembur ke mana saja. “Lho? Emangnya kenapa? Mama, kan, cuma pengen cucu Mama lahir sehat.” “Tapi itu nggak perlu, Ma. Faren masih bisa olahraga sendiri. Lagipula kandungan Faren masih muda.” Faren berusaha menolak niatan baik Mama dengan halus. “Lho, apa salahnya, Ren? Justru kalau dimulai dari sekarang itu malah lebih baik. Anak kalian bisa lahir sehat dan normal.” Papa ikut-ikutan membujuk. Faren merasa terjebak dalam situasi yang benar-benar tidak menyenangkan. Tega sekali mertuanya mengirim dia ke tempat para ibu hamil? Meskipun dia termasuk dalam kategori itu, dia lebih memilih mendapat julukan ‘remaja gagal’. Atau apapun selain itu daripada harus dipanggil ‘ibu hamil’? Memangnya dia sudah tua? “Nanti biar Farah yang antar kamu, ya?” “Beres, Pa!” jawab Farah dengan penuh semangat. “Sebelum berangkat kerja biar Farah antar.” “Ya jangan Farah dong, Pa! Suaminya Faren kan Farhan.” Mama tidak terima dengan perintah Papa. “Farhan kan bisa ikut kelas mengurus bayi sekalian! Jadi, besok kalau anak mereka udah lahir, Farhan langsung tahu harus berbuat apa.” Farhan nyaris saja menyemburkan makanan di mulutnya. Les mengurus bayi?! Apa-apaan lagi itu?! Semua ini sudah cukup kelewatan! Sepertinya baru kemarin dia ikut les matematika, tapi kenapa mendadak sekarang dia jadi les mengurus bayi? Farhan begidik ngeri ketika membayangkan dirinya nanti belajar memandikan bayi, menyuapi, mengganti popok, dan lain-lain. Apalagi pakai bayi mainan! Semakin mengerikan saja! ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN