BAB 8

2362 Kata
Farhan sengaja memakai topi, masker, beserta kacamata hitam untuk melindungi reputasinya. Sejak tadi yang dilakukannya hanya memandangi cermin untuk mengecek penampilannya. Begitu penampilannya dirasa aman, Farhan segera berlarian turun dari mobil. Disusul Faren yang langsung membanting pintu mobil. “Biasa aja, kali!” Farhan merutuk kesal. Enak saja mobilnya diperlakukan kasar begitu. Faren menatap Farhan sinis. “Nyokap lo kelewatan!” “Ya maaf,  Nyokap gue emang suka seenaknya sendiri!” Faren baru akan menyembur Farhan lagi kalau dia tidak segera sadar tampilan aneh cowok itu. “By the way, lo mau ngerampok di mana?” “Oh ini? Gue mau perang!” Farhan menyurungkan masker di tangannya pada Faren. “Lo juga pakai, Ren. Buruan! Sebelum ada yang lihat kita!” “Maksud lo?” Farhan menyenderkan tubuh pada mobil. Matanya menatap Faren sebal. “Emang lo mau muka lo kelihatan terus ibu-ibu di sini pada tahu kalau kita masih ABG? Gila kali!” “Terus gue mesti pakai ini?” “Iya, biar nggak kelihatan aja.” Benar saja. Ketika masuk ke dalam, Farhan dan Faren langsung mendapat banyak lirikan aneh dari pasangan suami istri yang berdatangan ke dalam kelas senam itu. Melihat hal itu membuat Faren menyerah dan akhirnya melepaskan senjata. Begitu juga dengan Farhan yang walaupan ogah-ogahan terpaksa menurut juga. “Nyonya Razakian?” panggil seorang ibu-ibu pelatih senam. Faren mengangguk sembari tersenyum kecut. “Ayo Ibu silahkan ke sini! Faren mencelos mendengar kata ibu. Dia merasa asing dengan panggilan itu. Harusnya dia dipanggil ‘nona’ dan bukannya ‘ibu’ atau ‘nyonya’. Ternyata status mempengaruhi tingkat usia manusia. Benar-benar sial! “Bapak tunggu di sini, ya!” Seketika Farhan melotot. Bapak??? Kurang ajar! Setua itukah gue?! Farhan hanya membalas ucapan ibu pelatih senam itu dengan senyum dipaksakan. Enak saja dia yang masih imut-imut begini dipanggil bapak! Dunia sudah tidak waras! *** Farhan memandangi tempat di sekelilingnya dengan ngeri. Sekarang dia berada di ruang tunggu ‘para suami’. Dan dia merasa benar-benar konyol. Matanya berputar menatap seisi ruangan. Dari kejauhan dia melihat salah seorang pria tampak menyemangati istrinya. Di sisi lain dia juga melihat kelas mengurus bayi. Para laki-laki di dalam kelas itu tampak sedang memasangkan popok pada bayi mainan. Farhan sampai ngeri sendiri melihatnya! Farhan menghembuskan nafas berat. Perlahan melepas kacamata dan topi hitamnya. Mendadak kepalanya pening hebat. Sepertinya dia butuh istirahat. Akhirnya Farhan menyerah dan duduk di salah satu bangku panjang. “Farhan.” Suara merdu itu muncul tiba-tiba. Mirip sekali dengan suara seseorang. Suara yang sangat dia hafal dan dia rindukan. Farhan mengangkat wajahnya dan nyaris pingsan. Ternyata benar suara itu milik seseorang yang dikenalnya. Rissa! Di depannya berdiri Rissa yang memandangnya tidak percaya.  “Lo ngapain di sini?” tanya Rissa curiga. “Gue—” Farhan menggaruk tengkuknya bingung. Dia memaksakan tawa untuk mengurangi rasa groginya. “Hahaha... Cuma nganter doang, kok. Lo sendiri ngapain?” Rissa merasa hatinya hancur seketika. Farhan yang sekarang tidak lagi berkata dengan aku-kamu seperti dulu. Sekarang dia menggunakan gue-lo. Diam-diam hati Rissa teriris. Secepat itukah semua berlalu dan berubah? Secepat itukah cinta di dalam hatinya sirna? Dia merindukan cowok itu dengan aku-kamunya yang sangat lucu dan manja. Tapi sekarang Rissa tak bisa lagi mendengar seruan itu untuknya. “Gue nganter juga. Biasa, Tante gue.” “Oh...” Farhan mengiyakan. Dalam hati berdoa agar Rissa tidak bertanya siapa yang dia antar. Tapi sayang, doanya tidak terkabul karena Rissa langsung menanyakannya. “Emangnya kamu ngantar siapa? Mama kamu hamil lagi?” Kalau bukan dalam situasi genting, Farhan pasti langsung tertawa. Mamanya yang sudah usia 47 hamil? Yang bener saja! “Gue nganter—” Sebelum Farhan sempat menjawab, pintu ruang senam terbuka. Faren keluar dengan wajah menyala-nyala penuh emosi. “Gue nggak mau ke sini lagi!” jerit Faren tertahan. Dia berjalan keluar dengan cepat. Rissa menatap Farhan dengan pandangan yang tak bisa diartikan. Farhan tahu Rissa tengah menatapnya, tapi dia segera mengalihkan wajah. Sudah cukup semua ini. Berlama-lama menatap wajah Rissa tak akan menghilangkan memorinya dulu. Akhirnya Farhan berlarian mengejar Faren. *** “Ren... Tunggu!” Farhan berlari mengejar Faren yang terus berjalan menuju area parkir. Dia membuka pintu mobil dengan kesal dan membantingnya keras. Farhan baru saja berpikir untuk melarangnya melakukan hal itu lagi, tapi terlanjur, pintu Marcedes-nya terbanting begitu kuat. “Lo kenapa, sih?” gerutu Farhan kesal. “Denger ya, gue nggak mau ke sana lagi! Emangnya lo kira gue apaan?” “Ya kalau lo nggak mau, bilangnya ke Mama dong! Jangan marah ke gue! Lagian siapa suruh hamil?!” Faren merasa Farhan mulai menantangnya. Semua ini kan salahnya! Dan sekarang Farhan menyalahkannya? Ini sangat tidak adil! “Lo nyalahin gue?!” tanya Faren tak percaya. Farhan langsung merasa salah bicara. “Eh, maksud gue bukan gitu! Lagian lo kenapa, sih, main kabur gitu aja?” Gue kan jadi malu sama Rissa. Lanjut Farhan dalam hati. “Gue nggak mau disana, Far! Jangan paksa gue!” Farhan menghembuskan nafas berat. “Terus lo maunya gimana?” “Gue mau pulang!” “Oh, oke... Gampang!” “Pulang ke rumah gue maksudnya!” Farhan langsung melotot. Neraka dunia kedua, batinnya kesal. Kalau ada neraka pasti ada iblis yang menjaganya. Dan iblis itu adalah Papa Faren. Ralat. Papa mertua Farhan juga. “Bo—Bokap lo di rumah?” “Iya, ini kan Sabtu.” Mampus! Mau diapain lagi gue setelah ini? Farhan begidik ngeri. “Kita pulang ke rumah gue aja!” Faren masih ngotot. “Gue mau ke rumah gue! Titik!” Farhan menatap Faren kesal. Rasanya dia ingin mencekik leher cewek itu. Di mana-mana istri menuruti kata suami. Sedangkan Faren? Tukang membangkang dan egois. Tidak mau menurut kata suaminya sama sekali. “Ya udah, tapi jangan lama-lama.” Farhan akhirnya mengalah. Dia membanting setir dan memutar mobil menuju jalan ke rumah Faren. *** “Papa!” Faren berseru ketika melihat Papanya sedang asyik membaca koran di teras rumah. Farhan sebisa mungkin menampilkan senyum terindahnya. Tapi tetap saja itu tak bisa menyembunyikan rasa takutnya pada mertuanya satu itu. “Eh, anak Papa yang paling cantik datang! Papa kangen sama kamu, Ren.” Papa bangkit memeluk putrinya. Meskipun dia kemarin marah-marah, dia tetaplah seorang ayah yang sangat menyayangi anak-anaknya. “Siang, Pa!” Farhan berusaha seramah mungkin. Dia mengulurkan tangan kanannya. Papa menjabat tangannya dengan keras. Untung tangan Farhan tidak terkena kram lagi seperti waktu ijab kabul kemarin. Kekuatan mertuanya memang super, sih. Apalagi kalau untuk memukuli pecundang seperti dia.  Setelah memeluk Papa, Faren berlari ke dalam rumah dan menciumi Farel. Ketika dia datang, adiknya itu sedang asyik bermain PS di ruang tamu. Farhan yang melihatnya langsung melonjak kegirangan melihat tumpukan kaset PS milik Farel yang menjulang tinggi. Dia rindu sekali saat-saat main PS seperti dulu. Maksudnya sebelum dia mempunyai segudang masalah. Dan bukannya segudang kaset PS sama seperti Farel. “Wah, lo suka main PS, ya?” tanya Farhan dengan ramah. Dan hanya dijawab dengan cibiran. Dasar kakak adik sama aja! Farhan ingin mencekik dua bersaudara itu. Dia duduk di samping Farel sambil melihat adik iparnya itu main game. Tapi Farel malah menggeser duduknya semakin jauh. Dia juga memiringkan TV ke arah lain supaya Farhan tidak bisa melihat game yang dimainkannya. Tambah kurang ajar! Farhan kembali bersungut. “Lo kok nggak sopan gitu, sih, sama gue?!” tanya Farhan tak terima. Farel celingukan sebentar. Kakaknya sedang membantu Mama di dapur. Papa masih duduk-duduk di teras. Berhubung tidak ada yang mendengar akhirnya Farel berbisik pada Farhan. “Katanya Kak Faren, kakak itu cowok b******k, kurang ajar, tukang selingkuh, dan muka dua. Jadinya Farel nggak boleh kayak kakak. Gitu katanya.” Farhan berusaha menyembunyikan emosinya yang meluap-luap. “Oh, jadi Kak Faren bilang gitu?” “He-eh.” Farel menjawab tanpa mengalihkan pandangan dari layar TV. “Terus dia bilang apalagi tentang gue?” “Katanya juga, kakak itu pemabuk, tukang mainin cewek, tukang p***o, terus—” “Terus apa?!” Farhan semakin kesal. Farel meliriknya sekilas. Dia langsung ngeri melihat wajah iblis Farhan. Akhirnya dia menjawab dengan terpaksa. “Udah, deh, kayaknya.” Farhan tersenyum tajam ke arah Farel. Kemudian dia bangkit dan berjalan mencari Faren. Ketika dia ke dapur, hanya ada Mama dan seorang pembantu tengah membuat kue. Faren tidak ada di sana. “Far, kamu udah makan?” tanya Mama dengan senyum ramah. Farhan membalas senyuman itu dan menjawab sopan, “Belum, Ma.” “Ya udah, nanti kita makan bareng-bareng, ya? Kamu panggil Faren sana.” Farhan mengangguk-angguk. “Emang Faren kemana, Ma?” Mama mendongakkan wajah dan menunjuk ke atas tangga. “Di kamarnya. Kamu naik aja ke atas. Paling pojok itu kamarnya Faren.” Farhan akhirnya melangkah menuju kamar Faren. *** “Waaa, kamar gue!” Faren berseru girang sambil melemparkan dirinya ke atas ranjang. Rasanya dia sangat merindukan kamarnya yang serba pink ini. Dia melirik ke sekeliling dan tersenyum senang melihat kamarnya sangat bersih. Boneka-bonekanya juga tertata rapi di sisi ranjang. Sepertinya mereka habis dicuci bersih. Hampir tak ada debu menempel sedikit pun di kamarnya. Berbeda sekali ketika Papa mengacak-acak kamarnya terakhir kali. Baru beberapa detik Faren berusaha memejamkan mata, ranjangnya berjengit kembali. Faren membuka matanya dan langsung mencibir melihat Farhan terlentang di sampingnya. “Jangan sentuh-sentuh kamar gue!” Faren mendorong tubuh Farhan agar dia jatuh ke bawah. Tapi Farhan tetap ngotot dan memaksa tidur di ranjangnya. Faren mendecih tak suka. “Mau apa?” “Lo juga nyentuh-nyentuh kamar gue! Berarti gue juga berhak nyentuh-nyentuh kamar lo!” jawab Farhan brengas. Dia terus menggoyang-goyangkan ranjang Faren dengan tubuhnya . Faren meliriknya kesal. “Jangan gerak-gerak!”  “Suka-suka gue!” “Lo bener-bener nyebelin!” “Lo juga!” teriak Farhan. Keduanya kemudian diam. Farhan melirik Faren yang tengah asyik membuka majalah. Kemudian dia berbicara dengan lantang. “Jadi, gue ini cowok b******k, kurang ajar, tukang selingkuh, dan muka dua? Juga pemabuk, tukang mainin cewek, dan tukang p***o? Gitu?” Faren pura-pura tidak mendengar. “Tapi kayaknya yang terakhir-terakhir itu emang bener, deh! Ternyata lo emang tahu gue banget, ya, Ren?” Farhan berusaha menarik perhatian Faren lagi. Tapi cewek itu tetap diam saja. Pura-pura asyik dengan majalahnya. Farhan mulai kesal. Dia merebut majalah dari tangan Faren. Kemudian dia mendekatkan dirinya ke arah Faren. “Terus apalagi selain itu?!” Faren mundur perlahan. Tapi Farhan malah semakin mendekat dengan wajah menyeramkan ala iblisnya. Membuat Faren menatapnya takut-takut. “Iih... Gue nggak bilang apa-apa!” katanya sambil memukul jidat Farhan menggunakan majalah. “Bohong!” Farhan semakin mendekat. Tanpa sadar dia sudah menindih Faren. Faren nyaris tak bisa berkutik. “Lo apa-apaan, sih? Sakit b**o!” “Jawab dulu!” Sebelum Faren sempat menjawab, tiba-tiba pintu diketuk. Terdengar suara Farel diiringi suara ketukan pintu. Farhan terlonjak kaget. Dia mengalihkan pandangan ke arah pintu tanpa bergerak sedikitpun. Faren menggunakan kesempatan ini untuk mendeorongnya jatuh ke bawah. “Hahaha...” Detik selanjutnya terdengar suara tawa Farel di ujung pintu. “Rasain!” gumam Faren sebal. Lalu dia berlari ke arah Farel dan berseru kegirangan. “Ayo kita makan, Rel!” “Ayo, Kak!” Farel balas berseru. Dia terkikik lagi melihat Farhan. “Kasihan, deh! Week...” Farel menjulurkan lidah. Lalu keduanya berlarian keluar. Untuk kesekian kalinya, Farhan merutuk. Dasar kakak-adik sial! *** Kekesalan Farhan semakin menggunung gara-gara Faren menolak ajakannya untuk pulang. Hari sudah malam dan kedua orang tuanya di rumah pasti khawatir jika mereka belum pulang. Tapi, Faren dengan segala sikap egoisnya mulai kambuh. Farhan semakin kesal saat cewek itu memaksanya untuk tinggal di sini. “Apa?!” Farhan menatap Faren dengan sebal. “Jadi, lo tetep nggak mau pulang?!” “Iya! Emangnya kenapa? Masalah buat lo?!” “Bukannya begitu, Ren. Maksud gue, kita kan belum minta ijin sama Mama-Papa  di rumah. Terus kalau mereka khawatir dan nyari gue gimana?” “Ya nggak tahu, lo kan anaknya! Terserah lo!” Farhan berusaha mengendalikan emosinya yang kini siap meluncur kapan pun. Dia tetap memasang senyum rayuan yang kemungkinan besar nggak akan berhasil. “Ren, kita pulang ya?” “Nggak mau!” Faren melempar boneka doraemon yang super besar ke arah Farhan. “Gue mau di sini! Kalau lo mau pulang, ya sana!” “Kalau gue pulang nggak bawa lo, gue bisa abis kena ceramah!” Faren malah tersenyum senang. “Ya bagus, deh! Gue kan bisa hidup tenang. Terus kalau anak kita udah lahir, langsung gue taruh ke panti asuhan aja nggak apa-apa, ya? Terus gue mau cari pacar baru.” Farhan mencebik sambil ngedumel. “Siapa juga yang mau jadi pacar lo? Udah bekas, sih.”  “Apa lo bilang?!” Faren menatapnya tajam. Farhan menelan ludah pasrah. “Nggak jadi. Ya udah, deh, kita tidur di sini.” Faren memaksakan seulas senyum. “Bagus!” *** Farhan menguap lebar-lebar sambil meregangkan tangan. Pagi ini udara di luar rumah Faren sangat segar. Dia melirik keluar jendela balkon kamar Faren. Terlihat Farel sedang bermain basket di halaman depan. Farhan tersenyum sambil berlari turun. “Rel, gue ikutan, ya!” Farhan berlari sambil merebut bola basket dari Farel. Farel langsung cemberut ketika bola di tangannya direbut oleh Farhan. Kakak iparnya itu sekarang tampak asyik men-dribble bola. Farel mencoba merebut bola itu dari Farhan. Dia berlari mengejar. Tapi kakaknya itu berlari sangat kencang dan lincah menggiring bola sampai ke ring kecil di ujung taman. Tak lama kemudian bola melesat masuk dengan mulus. Farel melongo di tempatnya berdiri sambil bertepuk tangan heboh. Farhan tersenyum bangga ke arahnya. “Wah! Kak Farhan jago juga!” “Iya dong!” jawab Farhan bangga. “Dulu waktu kelas sebelas kakak jadi kapten Fourty D.” Farel membulatkan bibir sembari mengangguk mengerti. “Hebat. Kapan-kapan ajarin Farel biar bisa jago, ya?” “Ehem...” tiba-tiba Papa berdeham dari teras. “Farhan, sini kamu!” Farhan mengangkat sebelah alisnya heran. Tapi kemudian dia berjalan menghampiri Papa. Beliau mengulurkan sebuah ember ke arahnya. “Buat apa, Pa?” tanya Farhan tak mengerti. “Buat masak! Ya, buat nyucilah! Memang buat apalagi?” Farhan melongo. “Sekarang kamu bantu Papa nyuci mobil, ya?” “Hah?” “Mau atau tidak?” “Ya udah, deh, Pa.” Farhan menjawab dengan terbata. Dia menatap mobil xenia perak di depan sembari menghembuskan nafas berat. Kapan ini semua berakhir?! ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN