8. Mahasiswa 303

2093 Kata
Aku melangkah memasuki unit 303 yang terletak di lantai empat dengan begitu buru-buru, tatkala sang petugas keamanan tengah sibuk menyuruh para penghuni rusun untuk segera menjauh dan meninggalkan TKP. Setelah memperhatikan TKP dengan saksama, aku mengalihkan atensi melihat ke arah sekitar. "Pihak kantor polisi sudah ditelpon 'kan, Hans?" tanyaku pada Hans yang berdiri di dekat ambang pintu. Dan Hans hanya memberi respons atas pertanyaan yang baru saja kuajukan dengan sekali anggukan. Sementara pandangan Hans, tampak amat fokus melihat ke arah seorang pemuda yang tubuhnya tersandar di tempat tidur. Aku pun beranjak menghampiri tubuh yang tak lagi memiliki nyawa itu. Di samping kanan pemuda tersebut, aku melihat botol obat yang tampak terbuka. Hal itu menyebabkan semua pil obat yang ada di dalam botol tersebut berserakan di sekitar tubuh pemuda itu. Aku beralih memperhatikan telapak tangan kanannya. Yang mana di dalam genggaman pemuda itu terdapat pisau yang tampak berlumuran darah. Sementara pergelangan tangan kirinya terluka dengan begitu parahnya. Dan di sekeliling pemuda tersebut bersimbah darah. Lalu, aku kembali memperhatikan pemuda yang baru saja kehilangan nyawa itu dengan begitu saksama. Rambut pendek pemuda itu tampak tersisir rapi. Matanya tampak sedikit terbuka. Posisi kepala pemuda tersebut terlihat sedikit miring ke sebelah kiri. Lalu aku perhatikan warna kulitnya yang tampak berwarna sawo matang. Setelah itu, aku mengenakan sarung tangan dengan sedikit tergesa-gesa, yang mana sarung tangan ini memang sengaja aku bawa. Aku beranjak mendekat, kemudian aku merunduk memperhatikan wajah pemuda ini dengan jarak lebih dekat dari sebelumnya. Alisnya yang berwarna hitam itu tampak lumayan tebal. Hidungnya pun mancung. Sementara garis rahangnya terlihat begitu tegas. Aku menarik napas dalam-dalam lalu menghembusnya perlahan. Kemudian aku menggerakkan tangan kananku demi mengusap wajah pemuda ini. Mulai dari dahi hingga ke dagunya. Sehingga mata pemuda itu benar-benar tertutup dengan sempurna. Setelah itu, aku pun menoleh melirik ke arah Raffa yang memang sudah ada di sana semenjak tadi. "Bagaimana, Raf?" tanyaku. Mendengar interupsi pertanyaan dariku, Raffa secara spontan langsung menoleh melihatku. "Seperti yang kamu lihat, Byan ... dia meninggal karena urat nadinya yang terputus," jawab Raffa seraya menunjuk ke arah pergelangan tangan sebelah kiri pemuda itu. Setelah mendapat jawaban pasti dari Raffa, aku mengalihkan atensi melihat ke arah pisau yang sempat aku lihat tadi. Well, dari bentuk dan ukuran pisau itu, kecil kemungkinan seseorang akan tetap merasa baik-baik saja jika sudah menggunakan benda tajam tersebut. Aku pun mengangguk beberapa kali. Dan atensiku kualihkan kembali demi melihat botol obat yang ada di dekat pemuda ini. "Komandan," sapaku sewaktu melihat keberadaan Pak Faisal beserta beberapa anggota tim Pak Faisal yang baru saja datang dan masuk ke dalam unit 303 ini. Akan tetapi kala netraku melihat keberadaan seorang pemuda yang mengenakan kaos berlengan pendek berwarna putih tampak berdiri di ambang pintu, fokusku secara spontan teralihkan. Niat awalku tadi yang hendak menghampiri pemuda tersebut malah langsung urung tatkala Pak Faisal menarik kerah bajuku dengan begitu tiba-tiba. Dengan berat hati, aku harus berbalik dan segera menghampiri beliau. "Cepat jelaskan!" titah Pak Faisal kepadaku. Sembari melepas cengkeraman kuat dari Pak Faisal, aku pun membalsa, "Dugaan sementara, pelaku bunuh diri lebih dulu meminum pil obat melatonin—" aku menjeda ucapanku lalu melirik ke arah Raffa. "Benar obat tidur 'kan ini, Raf?" Raffa mengangguk sebagai responsnya. "Nah, pelaku bunuh diri ini lebih dulu minum pil obat melatonin. Boleh jadi dia mengonsumsi obat itu lebih dari resep yang dianjurkan. Tapi mungkin karena dia merasa efek obatnya tidak juga bereaksi, dia mengambil keputusan untuk segera mengakhiri hidupnya dengan cara yang cepat," jelasku lalu berjongkok di dekat tubuh pemuda ini. "Dia memotong urat nadi dengan menggunakan pisau yang ini." Aku menunjuk ke arah pisau yang ada di genggaman sebelah kanan tangannya. Lalu, aku kembali menoleh menatap ke arah Pak Faisal dan melanjutkan kembali ucapanku. "Aku rasa, pemuda ini orang yang cukup pintar karena dapat menemukan letak urat nadi dalam sekali sayat. Bekas sayatannya juga benar-benar tepat. Pas kena urat nadinya. Jadi karena itu juga, darah yang keluar lumayan banyak." Pak Faisal mengangguk beberapa kali usai mendengar penjelasan dariku. "Tim forensik sudah tiba. Sekarang kalian keluar dulu sana," ucap Pak Faisal kepadaku dan juga Raffa. Aku hanya mengangguk. Dan kuajak Raffa untuk segera ikut keluar dari unit 303. Sementara itu, atensiku lagi-lagi berhasil dicuri oleh pemuda berkaos putih yang sempat aku lihat tadi. Akan tetapi sewaktu hendak menghampiri pemuda itu, Hans malah menarik paksa lenganku dan memaksaku untuk segera keluar dari unit 303. Aku mengumpat di dalam hati atas kelakuan Hans barusan. Padahal aku benar-benar yakin, bahwa pemuda itu pasti akan memberikanku banyak petunjuk. Yang mana saat ini, itu merupakan hal yang amat aku butuhkan. "Kamu kenapa masih mau di dalam unit itu sih, Byan? Apa kamu tidak lihat raut wajah Pak Polisi sewaktu melihat ke arah kamu barusan? Tatapan Pak Polisi yang tadi itu seolah-olah siap untuk mengakhiri hidup kamu saat itu juga," omel Hans kepadaku. Secara refleks, aku menjatuhkan rahang setelah mendengar omelan Hans yang bagaikan kereta api itu. Beberapa detik kemudian, aku pun tertawa cukup lebar. Tatkala aku mengalihkan atensi, aku juga melihat Raffa yang ikut tertawa, menertawai omelan Hans barusan. "Dia mantan atasanku, Hans. Ya ... itu pun kalau kamu mau tahu sih," ungkapku pada Hans. "Asal kamu tahu saja, hubungan yang terjalin di antara aku dengan Komandan persis seperti sandal jepit. Yang kalau hilang sebelah tidak akan mungkin bisa dipakai sebelahnya saja. Dan mengenai raut wajahnya Komandan, Komandan senang pun raut wajahnya akan tetap seperti itu. Sama sekali tidak pernah berubah," lanjutku. Lalu aku menoleh melirik Raffa yang saat ini sedang melepas sarung tangan dari kedua tangannya. "Kamu kenal pelaku bunuh diri tadi, Raf?" tanyaku padanya. Kulihat Raffa menautkan alisnya kala menatap ke arahku. "Serius? Kamu menanyakan hal yang seperti itu padaku?" Raffa tampak menjatuhkan rahang. Kendati demikian, Raffa tetap memberi jawaban atas pertanyaan yang baru saja kuajukan padanya. "Aku sudah tinggal di rusun ini selama lima tahun. Jadi merupakan hal yang sangat tidak mungkin jika aku tidak mengenal Daffin," katanya. "Iya nih, Byan. Daffin termasuk salah satu penghuni rusun yang punya hubungan yang cukup akrab dengan penghuni lain," imbuh Hans. "Padahal kasusnya Randy masih belum selesai kamu ungkap, dan sekarang sudah ada lagi orang yang meninggal secara tidak terduga seperti sekarang ini," lanjutnya. Aku menoleh melihat ke arah Hans yang sedang menghela napasnya. "Setelah adanya kejadian ini, harga sewa rusun pasti bakalan langsung anjlok," celetuk Hans. "Sedang ada musibah seperti ini, yang kamu khawatirkan malah perihal uang," cibir Raffa. Aku melihat tatapan Raffa yang menatap Hans dengan ujung matanya. "Tahu nih! Benar-benar tidak berperikemanusiaan kamu, Hans," timpalku. Sengaja. Sebab, aku lebih suka jika ada keributan, dibandingkan dengan kedamaian. "Sebenarnya, aku sama sekali tidak memiliki niat yang seperti itu sih. Aku rasa, ini merupakan efek samping karena aku menonton drama Korea secara terus-menerus," kata Hans. Tidak lupa pula lelaki berdarah Eropa itu menunjukkan cengirannya pada aku dan juga Raffa. Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya pintu elevator pun terbuka. Kami bertiga segera masuk ke dalam ruangan sempit itu. Dan kuperhatikan tingkah laku Hans yang benar-benar kekanakan, menurutku. Lelaki berbola mata biru itu tampak sedang menarik-narik lengan Raffa. Meski Raffa terus-menerus mendorong tubuh Hans, Hans tetap tampak pantang menyerah. "Kenapa sih, Raf? Sesekali aku ingin bersandar di pundak kamu. 'Kan kamu sandarable," ucap Hans. Aku beralih melihat raut wajah Raffa yang benar-benar tampak tak bersahabat. Seolah-olah, Raffa akan segera menjadikan Hans sebagai salah satu bahan masakannya saat ini juga. Raffa berdecih lalu mendorong kuat tubuh Hans. "Serius, Hans. Aku benar-benar ingin menyuntik mati kamu," celetuk Raffa. "Atau kamu mau aku kasih kopi campur arsenik?" tanyanya. Setelah mendengar ancaman dari Raffa, aku spontan meringis. Ancaman Raffa memang tidak ada duanya. Pintu elevator tiba-tiba terbuka. Aku berjalan keluar lebih dulu. Meninggalkan Hans dan juga Raffa yang saat ini malah sibuk adu mulut. Lebih dari apapun, aku benar-benar tidak ingin memiliki urusan dengan kedua lelaki itu. Lalu aku segera beranjak masuk ke dalam unitku kembali. Dan kualihkan atensi demi melihat ke arah jam dinding. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 23 lebih 15 menit. Aku beralih mendudukkan diriku ke tepi kasur. Sembari duduk, aku melakukan sedikit peregangan. Tanpa sadar, aku mendesah berat sewaktu ingatanku kembali mengingat apa yang baru saja kulihat. Kondisi pemuda yang baru hari ini kulihat itu benar-benar mengenaskan. Karena ia mengiris urat nadi hingga terputus, darah yang keluar pastilah banyak. Hal itu yang menyebabkan ia bersimbah darah. Hal yang menimpa Randy masih belum dapat kuselesaikan, dan saat ini aku harus mencari tahu hal yang sebenarnya terjadi pada pemuda tadi. Karena rentang waktu yang tidak terlalu jauh, aku amat yakin bahwa ini bukan hanya kasus bunuh diri semata, melainkan ini adalah kasus pembunuhan berantai. * "Nama pelaku bunuh diri Daffin Arjuna, 21 tahun. Mahasiswa jurusan seni. Penyebab kematian, urat nadi terputus." Aku mengutarakan kesimpulanku usai membaca semua data yang baru saja diberikan oleh Pak Faisal kepadaku. "Perkiraan waktu kematian pukul 22 lewat 10 menit," kata Pak Faisal. "Jika berdasarkan hasil autopsi, pelaku bunuh diri ini memang sempat meminum melatonin dulu. Sebelum akhirnya pemuda itu memilih untuk mengiris pergelangan tangannya." Aku hanya sekadar mengangguk sebagai respons atas perkataan Pak Faisal barusan. "Keluarganya ada di mana sekarang?" tanyaku. Sebab, semalam sewaktu kejadian itu terjadi, orang tua pemuda itu tidak ada di unit. "Menurut pengamatanku semalam, aku rasa si pelaku bunuh diri tinggal sendirian di unit itu. Dan ada kemungkinan, temannya juga sering datang ke sana, atau bahkan menginap." "Dia anak tunggal. Orang tuanya kerja di luar kota," imbuh Pak Faisal. Mendengar hal itu, aku mengangguk beberapa kali. "Karena yang boleh tinggal di rusun cuma masyarakat kelas menengah ke bawah, itu berarti pekerjaan orang tuanya memiliki penghasilan yang pas-pasan," simpulku. "Saksi pertama ... Komandan sudah bertemu sama orangnya, bukan? Sudah diinterogasi juga 'kan, Ndan?" desakku. Aku memperhatikan Pak Faisal yang saat ini sedang mengeluarkan selembar kertas yang berisi data penting seseorang. Tanpa meminta izin terlebih dahulu, aku langsung mengambil kertas itu dari tangan Pak Faisal. Namun beberapa detik setelahnya, aku menoleh menatap Pak Faisal lalu memamerkan senyum cerahku pada Beliau. Tidak lupa pula aku mengucapkan permintaan maaf karena telah bersikap tidak sopan pada Beliau. Setelah itu, aku beralih memperhatikan dan membaca isi dari kertas tersebut. "Nama, Hasyir Dirgantara. 21 tahun, mahasiswa jurusan seni," gumamku usai membaca data pribadi milik temannya Daffin, si pelaku bunuh diri. "Putusan pihak polisi sudah keluar belum, Ndan?" tanyaku kemudian. Aku menoleh melihat Pak Faisal yang baru saja menggeleng. Pria dengan penampilan awut-awutannya yang cukup khas itu kembali menghela napas. "Masih belum. Mungkin nanti akan ditutup ... dan dianggap sebagai sama kasus bunuh diri, persis seperti kasus yang sebelum ini," ungkap Pak Faisal. Mendengar jawaban yang diberikan oleh Beliau, aku pun ikut menghela napas. Aku menyandarkan punggungku ke sandaran jok kursi mobil. Kedua tanganku kulipat rapi di depan d**a, lalu aku menoleh melirik ke arah Pak Faisal sebentar. "Padahal sudah cukup jelas kalau kejadian yang semalam itu merupakan kasus pembunuhan. Rentang waktu kasus bunuh diri Randy dengan Daffin juga hanya berjarak lima hari saja. Dan ada sedikit kemiripan antara waktu kematian Randy juga Daffin. Randy kehilangan nyawa pukul 21 lewat 10 menit. Sedangkan Daffin pukul 22 lewat 10 menit. Terakhir yang paling transparan, Randy dan Daffin sama-sama terjerat kasus bunuh diri," terangku. "Pelakunya pasti bukan orang biasa," celetuk Pak Faisal. Yang entah mengapa aku sebagai satu-satunya orang yang mendengar ucapan Pak Faisal barusan, merasa sangat setuju atas ucapan tersebut. Karena itu, aku pun segera memberi respons anggukan terhadap ucapan Pak Faisal. Meski merasa benar-benar enggan, tapi aku tetap harus mengakui, andai kata kasus kematian Randy dan Daffin bukanlah kasus bunuh diri, si pelaku pembunuhan yang sebenarnya benar-benar hebat. Mengingat tidak ada sedikit pun jejak tentang si pelaku yang tertinggal, ia pastilah orang yang benar-benar telaten. "Kasusnya Randy Pangestu bagaimana, Byan?" tanya Pak Faisal kepadaku. Aku menoleh menatapnya. Lalu kuturunkan tangan yang tadinya aku lipat rapi di depan d**a. "Masih belum ada kemajuan, Ndan," jawabku seadanya. "Walaupun ada bukti yang jelas, tapi belum cukup kuat untuk mencari tahu pelaku yang sebenarnya jika hanya bergantung pada bukti-bukti itu," lanjutku. Aku kemudian mengalihkan atensi ke luar kaca mobil. Dari dalam sini aku dapat melihat dengan jelas pasangan suami istri yang tampaknya tengah berselisih. Perempuan itu mengenakan pakaian yang sedikit jumbo. Sewaktu sang suami sedang berbicara, kulihat perempuan tersebut sibuk memegangi perutnya. Sesekali gerakan tangan si istri terlihat memutar seolah mengitari perutnya yang tampak membesar itu. "Abyan." Aku kembali menoleh menatap Pak Faisal. "Siap, Komandan. Ada apa?" "Seperti deduksi kamu, mungkin saja kalau hal yang terjadi sekarang ini memang kasus pembunuhan. Karena kedua pelaku bunuh diri ini tinggal di rusun itu, coba kamu cari tahu lebih dalam lagi semua hal yang berkaitan dengan rusun. Dan jangan lupa, ada sedikit kemungkinan bahwa setelah orang ini kehilangan nyawa, segera ... setelah ini akan ada korban lainnya juga."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN