9. Tumis Buncis Wortel

1928 Kata
Aku melihat refleksi diriku yang tampak jelas di cermin yang kuletakkan di dalam kamar. Tepat di antara lemari pakaian dan meja yang sering aku gunakan untuk mengungkap kasus-kasus yang tengah dan yang akan aku selidiki dengan lebih baik lagi. Seperti biasa, hari ini pun aku berusaha cukup keras untuk menjaga penampilanku agar tetap kelihatan apik. Aku menyingkap rambut dari depan ke belakang, lalu dari sisi kanan ke sebelah kiri. Tanganku bergerak mengambil sisir yang dengan sengaja kuletakkan di dalam tempat penyimpanan alat tulis, lalu kugunakan benda itu untuk menyisir rapi tiap sisi rambutku. Mulai dari sisi kanan yang lebih luas, kemudian ke sisi yang sebelah kiri. Setelah merasa cukup rapi, aku pun menyemprotkan hair spray ke rambut hitamku ini. Dan aku memperhatikan sekali lagi refleksi diri ini yang terpatri melalui cermin. Hm, entah mengapa aku merasa bahwa masih ada sesuatu yang kurang. Lalu aku pun mengalihkan atensi ke seisi ruangan yang luasnya tak seberapa itu. "Pantas saja kelihatan ada yang kurang," gumamku sewaktu mendapati keberadaan hal yang selalu identik dengan diriku. Dengan langkah cepat, aku berjalan mendekat ke arah lemari pakaian. Lalu tanganku bergerak mengambil jaket bomber berwarna biru kesayanganku, yang mana jaket tersebut seolah telah menyatu dengan ragaku. Aku kenakan jaket bomber biru kesayanganku ini ke tubuhku. Setelah itu, aku beralih melihat kembali refleksi diri yang tampak di cermin. "Nah, seperti ini baru pas," ucapku sembari tersenyum bangga. Aku memasukkan sisir yang tadinya sempat aku gunakan ke dalam saku jaket sebelah kiri. Kemudian kutarik ritsleting yang tadinya berada di bawah hingga bergerak pindah posisi ke bagian atas. Lalu aku beralih mengambil ponsel pintar milikku. Sewaktu hendak aku masukkan ke saku sebelah kanan, pergerakanku tiba-tiba saja terhenti kala suara bel pintu unit yang kutinggali saat ini terdengar cukup jelas oleh indra pendengaranku. Pagi-pagi seperti ini, kira-kira siapa yang datang berkunjung ke unit? Pada akhirnya, aku buru-buru memasukkan ear phone yang tak akan pernah lupa untuk kubawa lalu kumasukkan ponsel pintar ini ke dalam saku. Lalu aku pun segera beranjak keluar dari kamar dan berjalan menuju pintu unit demi membukakan pintu tersebut. "Abyan, ayo ke unitnya Raffa! Dia masak banyak banget pagi ini," kata Hans padaku seusai aku membuka pintu unit. Lelaki itu bahkan langsung menarik tanganku tanpa merasa segan sedikit pun. Akan tetapi kala Hans hendak membawa aku pergi dari ambang pintu unit yang kutempati, aku malah menepis pegangan Hans dari tanganku. Tanpa sadar, aku mengernyit mendengar ajakan Hans barusan. "Iya, tumben banget 'kan, Byan? Omong-omong Raffa ada bikin tumis buncis wortel. Pasti—" Namun belum sempat aku mengajukan pertanyaan yang muncul dalam pikiran, Hans tiba-tiba saja berceletuk. Seolah-olah, Hans tahu betul akan pertanyaan yang hendak kuajukan pada dirinya. Dan tanpa mendengarkan ucapan Hans hingga selesai, aku segera beranjak meninggalkan Hans. Lebih dari apapun, aku benar-benar tidak peduli bahkan jika Hans akan menjadikanku barang lelangan di Twenty Market saat ini juga. Demi tumis buncis wortel, aku rela melakukan apapun. Tumis buncis wortel ... aku datang, Sayang. Dan dikarenakan jarak unit yang aku tempati hanya berselang satu unit saja dengan unit yang ditempati oleh Raffa, aku dan Hans tiba dalam hitungan detik. Kulihat pintu unit Raffa yang tampak terbuka cukup lebar. Tanpa permisi terlebih dahulu, aku dan juga Hans segera menerobos masuk ke dalam unit Raffa. Demi apapun, ini merupakan hal yang benar-benar tidak patut untuk dipraktekkan oleh siapa saja. Segera setelahnya, aku langsung mendudukkan bokongku ke kursi meja makan. Lalu, aku menarik napas dalam-dalam. Selain untuk bernapas, aku juga sedang menghirup aroma masakan Raffa yang benar-benar menggugah selera. Sejujurnya, aku bukan tipe orang yang wajib sarapan. Seperti beberapa orang lainnya, aku hanya sarapan sesekali saja. Hanya disaat aku benar-benar merasa kelaparan yang luar biasa. Jika tidak, aku hanya mengawali pagiku dengan segelas kopi instan juga mie instan. Namun kadang-kadang, aku juga menyarap roti tawar selai. "Andai saja aku bukan lelaki, pasti sudah kuajak nikah kamu, Raf," celetuk Hans. Usai mendengar celetukan dari Hans, secara spontan aku beralih memperhatikan Hans yang saat ini sedang menatap Raffa dengan tatapan berbinar. "Andai saja aku bukan lelaki, dan kamu juga, Hans ...," Aku memberi jeda pada ucapanku demi melihat ke arah Hans. "Bukan lelaki," lanjutku. "Dan kamu menikah dengan Raffa, sudah pasti akan langsung aku rebut Raffa dari kamu, Hans" timpalku. Akan tetapi anehnya, aku dan Hans secara kompak tertawa setelah melihat respons dari Raffa yang tampak menatap ke arahku juga Hansel dengan tatapan yang terlihat begitu jijik. Sewaktu aku hendak mengambil tumis buncis wortel yang ada di mangkuk, Raffa tiba-tiba saja memukul tanganku dengan centong nasi. "Cuci tangan dulu sana. Jorok banget," cibir Raffa padaku. Entah mengapa ingatanku tiba-tiba teringat akan insiden roti tawar selai tempo lalu, apakah ini termasuk dalam kategori karma? Atau ini hanyalah sekadar pembalasan dendam dari Raffa semata? Kendati demikian, aku tetap beranjak dari kursi. Berjalan ke arah wastafel. Lalu aku memutar kran air dan segera kubasuh kedua tanganku di bawah air yang tengah mengalir itu. Setelahnya aku pun kembali duduk di kursi meja makan. Namun bukannya langsung menyantap makanan yang telah disajikan oleh Raffa ke meja makan, aku malah menopang dagu dan menatap memperhatikan Raffa dengan begitu saksama. Pasti beruntung sekali perempuan yang akan menjadi pendamping hidup Raffa nanti. Selain tampangnya yang menjual, Raffa juga pintar masak. Lebih-lebih lagi, Raffa itu seorang apoteker. Jadi, andai kata istrinya sedang sakit, Raffa bisa langsung menanganinya dengan baik. Hanya dengan membayangkan hal itu, aku tanpa sadar berdecak kagum. Wah, hidup istrinya Raffa nanti pasti benar-benar nyaman. "Kalau saja kamu tidak pelit, Raf ... pasti rating kamu sebagai calon menantu idaman akan bertambah," celetuk Hans. Aku terperangah. Celetukan Hans barusan benar-benar berhasil menjatuhkan semua khayalanku tentang sisi positif dari kehidupan Raffa. Apa yang dikatakan oleh Hans memang benar. Dan mengapa aku bisa-bisanya melupakan hal penting yang sudah mendarah daging pada raga dan jiwa Raffa? Aku pun berdecak pelan secara spontan. Daripada memikirkan hal yang sangat tidak penting seperti itu, bukankah lebih baik aku menikmati makanan hasil masakannya Raffa langsung? Aku pun menaruh beberapa sendok tumis buncis wortel ke piring yang berisikan nasi. Kuletakkan tumis buncis wortel itu ke pinggir piring sebelah kanan. Lalu aku mengambil sepotong ayam goreng bagian pahanya dan kuletak di pinggir sebelah kiri. "Omong-omong ... tumben banget, Raf, kamu mau memasak sarapan untuk aku dan Hans?" tanyaku lalu menyuap sesendok nasi beserta lauknya ke dalam mulut. Lebih dari apapun, masakan Raffa benar-benar tidak ada tandingannya. Rasa-rasanya, aku ingin menangis sekarang juga karena Raffa pada akhirnya memasak masakan yang sempat kupinta pada dirinya beberapa hari yang lalu. Tekstur buncis dan wortel yang dicampur oleh Raffa sama sekali tidak terasa keras. Juga tidak terlalu lembek. Sehingga terasa pas sekali sewaktu lidahku menyicip rasa tumis buncis wortel ini. "Kasihan saja aku melihat kalian. Pagi-pagi seperti ini sudah langsung pergi kelayapan dengan perut kosong. Yang satu sibuk memantau cash drawer. Yang satunya lagi sibuk berpetualang entah ke mana saja," sahut Raffa dengan begitu santainya. Wah ... aku jadi merasa begitu bingung harus memberi respons seperti apa atas sahutan Raffa barusan. Demi apapun, aku benar-benar tidak menyangka Raffa akan sepeduli itu padaku dan juga Hans. "Hans boleh peluk Raffa 'kan ya?" Itu bukan aku, tetapi Hans yang saat ini sedan membentangkan kedua tangannya di hadapan Raffa dengan lebar-lebar. Dan kulihat, tanpa merasa segan sedikit pun Raffa langsung memukul kepala Hans dengan centong nasi yang sempat digunakan oleh Raffa untuk memukulku tadi. Raffa bahkan melontarkan umpatannya untuk Hans seorang dengan begitu enteng. "Aku masih normal ya, Hans. Kalaupun populasi cewek sudah tidak lagi ada, lebih baik aku menjomblo daripada memiliki hubungan dengan sesama jenis. Lebih-lebih lagi orang itu kamu. Serius, najis banget." Well, bukan Raffa namanya jika segala kalimat yang keluar dari mulutnya tidak berupa cemoohan. Aku menggeleng beberapa kali melihat interaksi di antara Raffa dan Hans barusan. Tanpa menghiraukan hal itu lagi, aku pun kembali menikmati sarapanku. "Raffa, aku dengar semalam kamu juga ikut diinterogasi ya?" tanyaku sewaktu teringat akan hal yang diberitahukan oleh Pak Faisal kemarin. Raffa menoleh menatap ke arahku. "Iya. Semalam aku diminta untuk memberi kesaksian. Karena obat pil melatonin yang diminum oleh Daffin itu berasal dariku. Daffin membeli di apotek punyaku," jawab Raffa. "Ada apa, Byan? Em ... kalau ada yang mau kamu tanyakan, tanya saja langsung," lanjutnya. "Si pelaku bunuh diri, maksudku Daffin Arjuna, dia memang sering minum obat melatonin itu?" tanyaku. Raffa mengangguk sebagai respons. "Sebenarnya, Daffin sudah dari akhir tahun lalu sering datang ke apotek. Di antara berbagai alasan, Daffin paling sering ke apotek dengan keluhan insomnianya," jawab Raffa. "Kamu tahu sendiri 'kan kalau obat tidur tidak dijual secara sembarangan, juga ke sembarang orang?" Aku mengangguk beberapa kali. "Karena itu, awalnya dosis melatonin yang aku resepkan untuk Daffin cuma tiga miligram saja. Tapi karena Daffin terus mengeluh kalau insomnianya makin lama makin tambah parah, akhirnya aku tambah dosis obat melatonin yang tadinya cuma tiga miligram jadi lima miligram," jelasnya. "Terakhir kali kapan Daffin beli obat melatonin itu?" tanyaku padanya. "Semalam. Sekitaran jam tujuh ... mungkin," jawab Raffa atas pertanyaan yang kuajukan. "Memangnya kenapa, Byan? Menurut kamu ini kasus pembunuhan juga? Sama seperti hal yang terjadi pada Randy?" tanya Hans padaku. "Menurut kamu sendiri bagaimana, Hans?" Bukannya memberi jawaban yang jelas kepada Hans, aku malah menanyainya balik dengan pertanyaan yang tidak jauh beda. Untuk beberapa saat Hans tampak terdiam. Dan aku memperhatikan bola mata Hans yang tengah melihat ke arah kanan atas. Sembari menunggu jawaban dari Hans, aku kembali melahap sarapanku. "Kalau kamu tanya menurut aku sih, sudah jelas 'kan kalau Daffin bunuh diri? Pertama, dia minum obat pil melatonin itu, terus karena obatnya tidak juga bereaksi, Daffin lebih memilih untuk mengakhiri hidupn sendiri dengan cara memotong urat nadinya," jawab Hans. Dan Hans tiba-tiba saja mengalihkan tatapannya dariku. Lelaki berbola mata biru yang selalu tampil modis itu menoleh menatap Raffa yang saat ini tampak asyik menikmati hasil masakannya sendiri. "Omong-omong, Raf ... orang yang potong urat nadinya bisa langsung kehilangan nyawa. Tapi kenapa orang yang diamputasi tangannya masih bisa baik-baik saja?" Secara spontan, aku ikut menoleh menatap ke arah Raffa. Kulihat Raffa yang tadinya hendak menyuap sesendok nasi ke mulutnya malah urung sewaktu aku dan Hans menatapnya dengan tatapan menuntut. Lelaki yang berprofesi sebagai apoteker itu terlihat begitu terpaksa untuk meletak kembali sendok ke piring yang masih terdapat nasi di sana. "Singkatnya seperti ini, ada beberapa arteri yang terhubung langsung dengan jantung. Andai kata arteri besar diiris sampai terpotong, pemasukan darah ke jantung jadi kurang cepat. Dan manusia akan kehilangan nyawa hanya dalam kurun waktu beberapa menit. Karena pembuluh arteri ini tugasnya membawa darah dari jantung ke seluruh tubuh," jelas Raffa. Lelaki itu kemudian melihat memperhatikan aku dan Hans secara bergantian. "Kalian paham 'kan mengenai apa yang baru saja aku jelaskan?" tanyanya kemudian. Aku mengangguk. Sedangkan Hans, kulihat dia menggelengkan kepala. Alisnya tampak sedikit bertaut, sementara mulutnya sedikit terbuka usai mendengar penjelasan yang diberikan oleh Raffa. Lalu aku kembali menoleh menatap Raffa. Lelaki itu baru saja menghela napasnya. Aku rasa, kondisi mental Raffa benar-benar tertekan saat ini hanya karena Hans seorang. Dan kulihat Raffa tiba-tiba saja menyingsingkan lengan kemeja yang dikenakan olehnya. Lelaki itu menunjukkan pergelangan tangan kirinya padaku dan juga Hans. Lalu Raffa berujar, "Kalau urat nadi yang diiris— atau dipotong, darah akan keluar banyak, sekaligus begitu dan bisa mematikan. Dan hal itu jelas berbeda dengan yang namanya amputasi. Kalau amputasi, aliran darah yang keluar, akan langsung dihentikan sehingga tidak keluar darah," jelas Raffa lagi. Sungguh, jika Hans tetap tidak mengerti meski Raffa telah menjelaskan sambil memperagakannya, itu berarti ... ah, aku benar-benar enggan untuk melanjutkan isi dari lubuk hatiku yang paling dalam ini. "Sudah paham 'kan, Hans?" tanya Raffa pada Hans. Aku menoleh melirik Hans. Kala melihat ia mengangguk beberapa kali, aku menghembus napas lega. "Paham, kok. Paham," sahut Hans kemudian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN