Aku beranjak pelan kala masuk ke dalam unit yang telah dibatasi dengan garis polisi. Di unit yang merupakan tempat kejadian perkara yang menimpa pemuda 21 tahun yang memiliki nama lengkap Daffin Arjuna itu kini entah mengapa terasa sedikit tidak biasa.
Aku pun beralih menekan sakelar lampu. Higga ruangan yang tadinya begitu remang-remang, kini tampak berubah menjadi terang-benderang.
"Komandan kenapa tidak ikut?" tanyaku pada seorang perempuan yang memiliki penampilan yang amat jauh dari kata feminin.
Rambut panjangnya yang terlihat agak lepek dan berminyak itu tampak diikat olehnya dengan begitu asal-asalan. Di leher perempuan tersebut tergantung tanda pengenal. Outsole sepatu yang dikenakan olehnya pun tampak sudah menipis.
Dan kulihat, ia melepas jaket kulit yang terpasang di tubuhnya sehingga menyisakan kaos lengan pendek berwarna abu-abu di tubuhnya.
Jaket kulit yang tadinya ia lepaskan segera diikatkan olehnya ke pinggang.
"Sebegitu rindunya Abang sama Komandan?" tanyanya padaku, "Kalau lagi berdua sama aku, jangan tanya orang lain. Malas jawabnya."
Segera setelah aku mendengarkan hal itu darinya, secara refleks aku menjatuhkan rahang. Mau berapa hari pun aku menghabiskan waktu untuk memikirkan ucapan konyol yang baru saja dilontarkan olehnya, aku rasa ... aku tetap tidak akan mampu untuk memahami isi hati juga pikirannya itu.
Tanpa pikir panjang, aku pun langsung melempari perempuan yang sempat menjadi juniorku sewaktu masih bekerja sebagai penyidik kriminal di kepolisian dengan bantal sofa.
Dan, ya. Dia menangkapnya dengan begitu mudah.
"Komandan lagi sibuk-sibuknya belakangan ini. Makanya Komandan menyuruh aku untuk datang mewakili," katanya.
Aku hanya mengangguk sebagai respons atas perkataannya barusan.
Lalu aku melangkahkan kembali kakiku menyusuri setiap sudut ruangan yang ada di unit ini.
"Mela, orang tuanya si pelaku bunuh diri bagaimana?" tanyaku.
"Karena mereka bekerja di tempat yang berbeda dan juga kota yang berbeda, jadi ibunya yang lebih dulu sampai. Dan ibu itu sekarang ada di rumah mertuanya ... mungkin selesai tujuh harian nanti baru akan kembali lagi untuk tinggal di sini. Yah ... mungkin," ujarnya. "Kalau ayahnya sih sampai sekarang masih belum ada kabar," lanjutnya.
Aku menghela napas usai mendengar hal tersebut. "Dan itu berarti, ibunya Daffin masih belum bisa untuk dimintai keterangan oleh pihak yang berwajib," gumamku.
Sewaktu memasuki kamar Daffin, banyak lukisan terdapat di sana. Beberapa di antaranya ia gantung di dinding kamar. Sementara sisanya tampak tersusun rapi di dekat tempat tidur.
Aku pun beranjak mendekat menghampiri tempat tidur tersebut. Kemudian aku berjongkok dan kusibak seprai yang menutupi bagian bawah tempat tidur.
Aku membulatkan mataku sewaktu melihat banyak lukisan yang saling tumpang tindih di bawah tempat tidur itu.
Satu per satu tanganku bergerak mengeluarkan lukisan itu dari bawah tempat tidur. Aku menyodorkan lukisan itu kepada Mela.
"Bang, berhenti sebentar terus lihat ke sini dulu coba," celetuk Mela.
Aku pun secara spontan langsung menoleh menatap padanya.
Aku memperhatikan lukisan yang saat ini diperlihatkan oleh Mela kepadaku.
Melihat hal itu, aku tanpa sadar mengernyitkan dahi. Sementara pandanganku seolah enggan untuk menoleh memandang hal lainnya, meski hanya untuk sekadar saja.
"Ini bunga marigold 'kan, Bang?" tanya Mela padaku.
Aku berpindah dari posisiku saat ini. Langkahku buru-buru beranjak menghampiri Mela. Dan tanganku bergerak mengambil alih lukisan yang dipegang oleh Mela saat ini. Lalu aku pun memperhatikan kembali lukisan itu dengan lebih saksama lagi.
Bunga marigold yang dilukis di atas kanvas itu seolah tampak begitu nyata. Jari-jariku tanpa sadar bergerak menyentuh lukisan bunga marigold tersebut.
Tekstur permukaan kanvas yang tengah kupegangi ini terasa sangat nyata dan dinamis. Akan tetapi entah mengapa terasa agak sedikit kasar.
"Mela, kamu tahu 'kan arti bunga marigold ini?" tanyaku pada Mela.
"Tahu. Intinya berkaitan dengan kehangatan dan kebahagiaan—eh, benar seperti itu 'kan, Bang?"
Aku secara spontan menoleh menatap Mela yang saat ini tampak menautkan alis. "Bunga marigold ini juga punya arti lain, Mel," ujarku. "Yaitu kematian. Bunga marigold ini melambangkan kematian."
*
Aku melangkah masuk ke dalam unit 220 dengan langkah yang lumayan lambat.
Sungguh, pikiranku saat ini benar-benar kalut. Kepalaku seolah-olah terasa mau pecah karena memikirkan kejadian yang menimpa Randy dan Daffin secara terus-menerus.
"Lesu banget sih, Byan."
Aku menoleh menatap Raffa yang baru saja menyenggol lenganku.
"Masih sibuk memikirkan hal yang menimpa Daffin?" tanya Hans.
Secara refleks, aku mengalihkan atensi menoleh menatap Hans yang baru saja menimpali ujaran Raffa.
Akan tetapi, meski sudah ditanyai oleh dua orang, aku tetap saja tidak memberi jawaban apa-apa kepada mereka berdua.
Aku hanya sekadar mengalihkan atensi ke seluruh sudut unit yang ditinggali oleh Hans.
Di ruangan yang saat ini aku injaki terasa benar-benar hampa. Di dinding ruangan ini pun dibiarkan kosong begitu saja. Seolah-olah itu merupakan ciri khas dari unit Hans.
Aku pun beralih duduk di sofa. Di atas meja yang ada di depan sofa, terdapat toples kaca dengan tutup berwarna hijau yang sepertinya diisi dengan berbagai jenis permen. Tentu dengan rasa yang berbeda-beda pula.
Sementara di ruangan yang lainnya, sejauh pandangan yang dapat kulihat juga tampak kosong.
Jika diperhatikan dengan lebih saksama lagi, hanya hal-hal penting saja yang terdapat di sana. Benda-benda seperti bingkai foto, lampu warna-warni, atau hiasan-hiasan lainnya sama sekali tidak ada.
Akan tetapi, luas unit yang ditinggali oleh Hans jelas sedikit lebih luas, jika dibandingkan dengan unit yang aku dan Raffa tinggali.
"Di luar benar-benar panas, Hans. Aku jadi mau minum yang dingin-dingin begitu," celetukku.
"Berhubung aku lagi baik hati, oke deh. Akan aku buatkan," kata Hans.
"Hans, aku lapar. Tolong buatkan aku makanan."
Sewaktu mendengar ucapan dari seorang perempuan yang memiliki aksen pengucapan kental seperti orang-orang Eropa, secara spontan aku langsung menoleh melihat ke arah pintu salah satu kamar yang baru saja terbuka.
Dan kulihat seorang perempuan berambut pirang sedang berjalan menjauhi kamar itu sembari mengikat tinggi rambutnya.
Perempuan yang mengenakan kamisol berwarna merah muda dan celana pendek itu memiliki tinggi badan yang cukup tinggi.
Aku segera menundukkan kepala dengan cepat sewaktu menyadari pakaian yang saat ini dikenakan oleh perempuan tersebut.
"Masuk sana!"
Bahkan tanpa melihat pun aku tahu bahwa Hans baru saja melempari perempuan yang kulihat tadi dengan bantal sofa.
"Harus berapa kali lagi aku kasih tahu? Kalau mau keluar kamar ketuk pintu dulu," omel Hans pada perempuan itu.
Entah mengapa setelah mendengar omelan dari Hans barusan, aku merasa ada hal yang cukup janggal.
Perlahan, aku menoleh melirik ke arah Raffa yang tampak asyik memainkan ponsel pintarnya.
"Raf? Ini aku yang bodoh atau peraturannya yang memang sudah terbalik? Bukankah seharusnya yang mau masuk yang harus ketuk pintu," bisikku pada Raffa.
"Sudah. Biarkan saja. Kita sebagai tamu yang berbudi pekerti luhur alangkah baiknya tidak perlu ikut campur dalam mengurus urusan orang lain," balas Raffa.
"Tapi ikut campur urusan orang lain itu bakatku, Raf," gumamku. Well, untuk kalimat yang satu ini aku sengaja sedikit menggerutu. Meski Raffa lagi-lagi tidak pernah peduli akan segala hal yang menimpa diriku.
"Maaf. Yang barusan itu adikku," kata Hans.
Otomatis, aku kembali mendongak. Mendapati Hans yang saat ini berdiri tepat di hadapanku dan juga Raffa.
"Ayo kita duduk di dapur saja. Sekalian aku juga mau masak untuk Grey," ujar Hans.
Aku dengan sadar menautkan alis usai mendengar ujaran Hans.
"Hans, aku lapar. Tolong masakkan aku makanan."
Atensiku kemudian beralih menatap seorang perempuan yang mengenakan setelan olahraga berwarna lavender, yang mana saat ini perempuan tersebut tampak berjalan ke arah Hans.
Tanpa basa-basi, perempuan itu langsung menarik lengan Hans secara paksa.
"Mau tetap menunggu di sini atau di dapur, Byan? Aku mau ke dapur sekalian memberikan bantuan kepada Hans yang saat ini ingin memasakkan sesuatu untuk Grey," ujar Raffa
Lelaki itu beranjak lebih dulu tanpa mendengar jawaban dariku terlebih dulu. Pada akhirnya, aku pun ikut beranjak menuju dapur.
Jujur, selain mie instan dan nasi, aku tidak bisa memasak makanan lain. Apapun itu. Karena itulah, orang-orang sepertiku lebih baik tidak perlu ikut campur tangan dalam bagian masak-memasak.
Sementara itu, Raffa dan Hans tampak mulai sibuk dengan kegiatan yang baru saja mereka lakukan.
Dan aku pun kembali mengalihkan atensi. Aku memperhatikan perempuan yang duduk di hadapanku saat ini dengan saksama.
Sama seperi Hans, bola matanya juga tampak berwarna biru. Warna alis matanya juga senada dengan warna rambutnya. Sama-sama berwarna pirang. Sementara pipinya tampak tirus.
Aku melirik melihat warna cat kuku yang dipakai perempuan itu. Warnanya merah muda. Di pergelangan tangannya ia lingkarkan gelang manik biasa.
Dari tadi aku perhatikan, perempuan itu terus menjentikkan jarinya, lalu memijat tangannya sendiri. Kulihat, kantung matanya pun tampak begitu jelas.
Aku pun berdeham demi mendapatkan atensi dari perempuan itu. "Sudah berapa lama kamu mengetik?" tanyaku.
Perempuan itu tampak terkesiap setelah mendengar pertanyaan yang baru saja kuajukan. Ia menoleh melihat ke arah Hans sebentar, akan tetapi Hans malah tengah asyik-asyiknya bercanda dengan Raffa.
"Jadi kamu orangnya. Detektif swasta yang menjadi bahan pembicaraan orang-orang yang ada di rusun ini," katanya.
Perempuan itu tampak menyingsingkan lengan bajunya. Sementara tangan kirinya ia tempatkan di atas meja, dan tangan kanannya ia gunakan untuk menopang pipinya yang tirus.
"Aku tidak terlalu ingat berapa lama aku mengetik. Tapi yang pasti, sudah tiga hari aku tidak keluar dari kamar," jawabnya. "Menurut kamu, apa pekerjaanku?"
Aku tersenyum tipis usai mendengar pertanyaan yang diajukan olehnya kepadaku.
"Karena kamu berdarah Eropa, aku yakin kamu bisa berbahasa Inggris, juga tadi meski kamu berbicara dengan menggunakan bahasa Indonesia, tetap saja ... aksen pengucapan kamu terdengar begitu mirip dengan bahasa Jerman." Aku terdiam sebentar lalu tersenyum menyeringai padanya. "Jadi, sudah berapa lama kamu bekerja sebagai penerjemah?" tanyaku kemudian.
Perempuan itu terbelalak. Mulutnya tampak sedikit terbuka usai mendengar pertanyaan yang kuajukan barusan.
Ia pun mengulurkan tangannya padaku. "Aku Greta Aubert. Dua tahun lebih muda dari Hans Halbert," ucapnya.
Dan aku buru-buru menjabat tangannya yang terasa sedikit dingin. "Abyan Immanuel," ucapku seraya tersenyum.
Perempuan itu, Greta melepaskan lebih dulu jabatan tangan kami.
Aku melanjutkan obrolanku dengannya. Aku dengarkan dengan saksama setiap keluh-kesah Greta sewaktu menyelesaikan terjemahannya.
Akan tetapi obrolanku dengan Greta tiba-tiba saja terhenti sewaktu nada dering ponsel pintarnya mulai terdengar.
Secara spontan, aku menautkan alis menatap Greta yang hendak menjawab panggilan masuk tersebut.
"Ini musik klasik. Karyanya Claude Zavier William dengan judul das Ende der Stille," ucap Greta. Seolah tahu betul isi pikiranku saat ini.
*
Jarum jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
Aku mengusap perut kotak-kotakku yang entah mengapa terasa sedikit berbeda dari biasanya. Aku rasa, semenjak aku tinggal di rusun ini aku jadi mulai jarang berolahraga. Makanan yang disuguhkan oleh Raffa tiap malam juga tidak pernah gagal untuk menggungah seleraku.
Aku pun berjalan masuk ke dalam kamar unitku lalu berdiri tepat di dekat jendela.
Tanganku bergerak menyibak gorden kemudian membuka jendela. Aku melihat memperhatikan ke arah bawah. Dan di bawah sana, tampak orang-orang masih berlalu lalang di jalanan.
Lalu aku pun menengadahkan pandanganku.
Sama seperti sebelumnya, bulan sabit tampak jelas menghiasi langit-langit malam. Akan tetapi, penampakannya malam ini tampak sedikit tertutupi oleh awan-awan yang terlihat bagaikan kabut di malam hari.
Aku tiba-tiba terbelalak sewaktu melihat sesuatu yang tidak pernah kulihat sebelumnya.
Jantungku kian berpacu dengan begitu cepat, kakiku tiba-tiba terasa amat lemas hanya untuk sekadar berdiri. Akan tetapi, aku tetap menyembulkan kepalaku ke arah luar jendela.
Dan aku melihat ke arah bawah. Tepat di bawah sana, kulihat seorang perempuan ambruk bersimbah darah.
Ya. Perempuan itu terjatuh dari lantai atas unit dan melewati jendela unitku. Sampai-sampai, tubuhnya terhempas jatuh ke bawah.