"Apa kau dapat kabar baik, Mas?" Wanita yang masih ditancapi dengan beberapa selang, infus dan selang oksigen di hidungnya itu bertanya padaku dengan suaranya lirih, nyaris tak terdengar. Melihatnya rasanya sesak di d**a, ingin pecah tangisan tapi aku menahannya, bagaimana pun, karma yang terjadi padanya disebabkan olehku. Andai aku bisa mengendalikannya, keadaanya tak akan seperti sekarang. "Sakit Mas, pedih sekaki." "Iya, Mil, sabar.." Aku iba dengan penderitaannya, aku iba dengan rintihan kesakitan dan air matanya. Akibat panasnya minyak yang membakar, banyak bagian tubuhnya yang rusak, kulit rontok dan syarafnya ikut rusak, butuh waktu lama untuk regenerasi menumbuhkan sel serta membuat urat-urat kembali mengalirkan darah. "Sakit Mas, perih sekali, aku mulai merasakan tubuhku

