14. Cerita Lalu

1331 Kata
"Alah paling mas mau bikin Ais cemburu tooo, alah paling bohong?" ujar Aisyah sambil memajukan bibirnya. "Mas nggak bohong, ada cerita di masa lalu, dulu banget saat kuliah," ujar Setya. Mata Aisyah membulat ternyata ada cerita lain yang ia tidak tahu. "Dia adik tingkatku saat kuliah, adik tingkat jauh malah, tapi ya karena sama-sama aktif di kampus akhirnya sering bertemu, aku yang sangat menyukainya, sedangkan dia sejak awal menolakku," Setya menatap mata bening Aisyah yang mengerjab beberapa kali. "Masa bu Aca nggak mau sama mas yang ganteng?" tanya Aisyah. "Saat itu dia hanya berpikir segera menyelesaikan kuliahnya, dan saat bertemu lagi di Mikala Corp. aku sempat terbawa perasaan, masih menyukainya dan Pak Fariq jadi sedikit tidak suka padaku, hahahahah sudahlah cerita lalu, yang penting sekarang ada istri sholeha, cantik, dan ssshhh menggairahkan seperti ini," Setua menarik Aisyah dalam pelukannya dan menciumi bibir istrinya hingga Aisyah terengah. "Iiiih mas mesti gini," Aisyah mendorong wajah Setya yang masih saja menatapnya dengan penuh gairah. **** Pagi-pagi Setya dan Aisyah sudah menikmati jalan raya yang tak begitu padat. Seperti rencana semula mereka akan mencari kontrakan di sekitar pondok pesantren. **** Setelah berkeliling dan sempat melihat empat rumah akhirnya mereka menjatuhkan pilihan pada rumah keempat. Berjarak sekitar 300 meter dari gerbang utama pondok pesantren, dipinggir jalan raya pula, meski harga sewa perbulan cukup mahal namun Setya tetap menjatuhkan pilihan pada rumah terakhir karena ada garasi mobil yang cukup besar. Juga ada tiga kamar tidur dan kamar mandi yang cukup bersih. Setya serta Aisyah sempat ke toko yang tak jauh dari rumah itu untuk melengkapi apa-apa yang dibutuhkan untuk rumah kontrakan itu. **** "Aku lega dan sewaktu-waktu saat aku kangen aku bisa menemuimu, saat lagi ingiiiin...," Setya menjalankan kemudi sambil melirik istrinya. "Halaaah ingin makan mas ini paling,berhenti di warung depan tuh mas, enaaak banget soto ayam di situ, eh tapi apa mas mau makan di tempat seperti itu?" tanya Aisyah. "Nggak papa, di mana saja, asal dengan dik Ais aku mau," Setya menghentikan mobilnya dan berdua memasuki warung mungil yang terlihat bersih itu. "Yu Tarsih sotonya dua, sama es jeruk juga dua yuuu," Aisyah nampak akrab dengan penjual soto di warung itu. Tak lama datang pesanan mereka dan Aisyah tampak sangat menikmati, Setya menatap wajah istrinya yang mulai berkeringat karena kepedasan. "Aku jadi ingin mencium bibirmu melihatmu mendesis berulang," "Ih mas ini sudah tahu aku kepedesan malah mau diciumi," sahut Aisyah dan Setya jadi tertawa geli. Setelah selesai tampak Setya memberikan dompetnya pada Aisyah agar segera membayar pesanan mereka. Aisyah segera menuju Yu Tarsih dan membayar pesanannya, lalu mereka segera bangkit dan berjalan menuju pintu untuk ke luar. Saat melewati pintu Setya kaget dan tertegun melihat dari jarak yang tak begitu jauh ia melihat seorang wanita yang tampak menuntun seorang anak kecil berusia sekitar tiga tahun yang membuatnya kaget karena penampilan mereka yang tampak lusuh, saat semakin dekat wajah Setya semakin mengeras karena wajah anak kecil itu semakin membuatnya mengingat hari yang membuatnya terhina, Setya segera menunduk berjalan sambil menatap ujung sepatunya. "Mbak Evaaa, dari mana saja," teriak Aisyah. "Ini dik, Reza nangis dari tadi minta bola, lihat anak para tetangga punya bola dan bermain di lapangan sana, namanya anak-anak kok ya nggak tahu kalau mamanya tidak punya uang," "Mbak Eva kenalkan ini suami saya," Sesaat Setya menatap wanita yang tak jauh darinya dengan tatapan dingin dan ia melihat wanita itu kaget, segera mengalihkan pandangannya, tersenyum pada Aisyah dan segera menyeret anak kecil itu masuk dengan langkah tergesa. Aisyah sempat kaget melihat perubahan wajah wanita yang akrab ia panggil Eva dan menoleh lalu menatap wajah suaminya yang tiba-tiba berubah dingin seperti menyimpan kemarahan. **** Selama perjalanan pulang untuk kembali ke apartemen Setya keduanya tampak diam, dan Aisyah jadi bingung melihat wajah suaminya yang sedari tadi mengeras dan menghembuskan napas dengan berat. **** Sore hari keduanya sampai di apartemen Setya, nampak Setya yang membuka bajunya, Aisyah menatap ada kemarahan dan kesedihan yang ia lihat dari wajah suaminya. Aisyah mendekat lalu ia peluk badan besar itu. "Mas kenapa?" tanya Aisyah mengusap punggung telanjang Setya, dan sesekali ia ciumi pipi Setya. "Nggak papa, kita mandi yuk dik," ajak Setya. Aisyah hanya mengangguk meski sebenarnya lelah, ia tahu suaminya pasti menginginkan dirinya. **** Setya hanya diam saja saat Aisyah mulai menyabuni badannya, ia hanya melihat wajah bingung istrinya. Setya menarik spons busa sabun dan meletakkannya di samping bathup. Menarik badan Aisyah mendekat. "Duduklah dipangkuanku," Aisyah tersenyum dan melakukan keinginan suaminya, wajah Setya yang berada tepat di depannya tanpa jarak membuatnya sedikit gugup. Aisyah merasakan milik suaminya mengeras di perutnya. Ia beranikan untuk menyentuhkan dan mengusapnya pelan lalu semakin cepat, terdengar erangan Setya sambil memejamkan mata dan wajahnya menengadah. Tak lama Setya membuka matanya, menatap wajah istrinya yang tersenyum padanya, keduanya bertatapan dan tahu keinginan masing-masing. Setya memegang pinggul istrinya berusaha melesakkan miliknya dan mengerang lagi saat mereka telah menyatu. "Bergeraklah dik," ujar Setya dengan suara hampir tak terdengar, ia tangkup d**a istrinya dengan kedua tangannya dan dengan rakus ia menikmati, menyesap, menjilat serta mengigit ujungnya berkali-kali. Aisyah merasakan badannya bergetar hebat saat serangan di dua tempat itu semakin keras dan kasar, badannya terlonjak semakin keras, air dari bathup meluber keluar tiap gerakan kasar keduanya semakin cepat. Rintihan Aisyah semakin membuat Setya mempercepat gerakannya. Mengigit bahu istrinya, dan hentakan terakhir membuat Aisyah tanpa sengaja menjerit berulang dan keduanya saling memeluk menormalkan napas masing-masing. "Terima kasih dik, peluk mas, peluk mas dengan erat," bisik Setya parau. **** Setelah selesai mandi, keduanya tanpak kembali saling memeluk di atas pembaringan, Aisyah bingung karena suamianya terlihat tak ingin lepas dari dirinya. Aisyah mengusap rambut lebat dan legam Setya, menciuminya berulang. "Mas kenapa begini sejak melihat mbak Eva tadi, mas kenal mbak Eva?" tanya Aisyah. "Aku melihat perubahan wajah mas yang terlihat marah, aneh mas ini, mbak Evanya sampai ketakutan, pasti dia bingung wong nggak kenal kok melihat dia dengan tatapan marah," ujar Aisyah lagi. "Dia mengenalku dik, sangat mengenalku," bisik Setya, hidungnya menciumi leher Aisyah. Aisyah menghentikan gerakan suaminya, menatap wajah lelahnya karena setelah selesai di bathup saat akan melangkah ke luar kembali ia diserang suaminya di bawah shower hingga keduanya benar-benar kelelahan. "Kenal, kenal di mana, apa dia berbuat salah pada mas hingga mas jadi semarah itu wajahnya?" tanya Aisyah bingung. "Dia adalah wanita yang aku lihat saling tindih dengan laki-laki lain di rumah kami, dan wajah anak kecil itu, tergambar jelas wajah laki-laki yang menindihnya, aku tidak marah, selesai sudah semuanya, hanya wajah anak kecil tak berdosa itu mengingatkanku bahwa masmu ini telah kalah telak, karena wanitanya, istrinya diam-diam bermain dengan laki-laki lain dibelakangnya, kau tahu dik alasan dia melakukan itu, karena aku terlalu sibuk dan mengabaikannya, alasan yang terlalu dicari, aku bersyukur baru enam bulan kami menikah saat itu, aku hanya kasihan pada ibu karena wanita itu pilihan ibu, anak sahabatnya yang ia pikir akan membuatku bahagia, ibu sempat merasa bersalah, ah tapi biarlah itu bagian dari masa lalu," Aisyah kaget dan menatap wajah suaminya dengan lekat. "Aku mengenal mbak Eva ya sudah tidak punya suami, ia membantu memasak di warung itu, katanya sudah bercerai sama suaminya, ia tinggal dan tidur di warung itu bersama anaknya, di bilik sempit belakang warung," ujar Aisyah. "Berarti ia ditinggal juga oleh laki-laki itu, laki-laki kaya yang membutakan matanya, dan kabar yang aku tahu dari ibu, oleh kelurganya wanita itu juga diusir, makanya ia mencari tempat yang jauh dari kota kelahirannya," "Mas terlihat marah dan sedih, mas masih ingat mbak Eva?" tanya Aisyah. "Tidak, aku hanya kaget saja, dan biasalah sebagai laki-laki rasanya harga diriku jadi terinjak-injak jika mengingat itu lagi, sudahlah, jangan banyak tanya lagi, peluk aku dik, hanya peluk aku," pinta Setya sambil memejamkan matanya. Aisyah memeluk suaminya, mengusap kembali rambut legam itu, ah betapa banyak kesedihan yang dialami oleh suaminya, sebagai istri ia hanya ingin menjadi tempat berlabuh ternyaman untuk suaminya. Tak lama Aisyah kaget dan melepas pelukannya. Setya memandang istrinya dengan bingung. "Ada apa?" tanya Setya. "Eh anu, aku lupa belum pakai celana dalam," ujar Aisyah terlihat malu. "Alaaah nggak usah, lebih enak gitu," dan Setya menarik istrinya lagi dalam pelukannya. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN