"Ke rumah yuk Dik?" ujar Setya tiba-tiba, Aisyah memandang wajah suaminya yang asik memandangi ponselnya.
"Ayuk, kok tiba-tiba mas?" tanya Aisyah.
"Ini Rania ngajak makan bareng, mau ngasi kejutan ke ibu, hari ini ibu ulang tahun," sahut Setya.
"Oh ya, ayo kita cari kado buat ibu yuk mas?" ajak Aisyah terlihat bersemangat.
"Ok, kita ganti baju dulu sayang," ajak Setya.
Saat mereka akan melangkah menuju pintu setelah berganti baju, ponsel Setya berbunyi, lalu terlihat Setya yang mengucapkan selamat berulang dengan wajah bahagia.
"Ada apa mas, mas bicara dengan siapa?" tanya Aisyah melihat wajah bahagia suaminya.
"Dari Pak Fariq, Aca melahirkan kemarin, bayinya laki-laki, sekalian kita lihat bayinya, trus ke rumah," ajak Setya.
"Iyah bener mas sekalian kita beli apa gitu buat bayi Bu Aca dan kado untuk ibu," ajak Aisyah.
"Eh mas tapi kok ngeri, sama orang kaya mau ngasih apa ya?" tanya Aisyah tiba-tiba dan Setya tertawa lalu merengkuh bahu istrinya
"Sayang, mereka orang baik, mereka tidak akan sampai berpikir sejauh itu," ujar Setya.
****
Sesampainya di rumah sakit, kebetulan Aca baru saja selesai menyusui bayinya dan Aisyah segera meraih bayi tampan itu dan menggendonganya.
"Kamu bisa dik?" tanya Setya.
"Biasa gendong cucu nyai sepuh mas," sahut Aisyah sambil menatap bayi Aca yang sangat tampan dan lucu.
"Lah kok kamu yang gendong?" tanya Setya lagi.
"Ya suka saja mas," jawab Aisyah.
"Makanya cepat bikin," ujar Aca dan Setya tersenyum lebar.
"Nggak usah di suruh Ca, kami kan ketemunya pas weekend, sekalinya ketemu ya nggak tahu berapa kali dah bikinnya, nggak siang, nggak malam" sahut Setya dan Fariq menahan tawa saat melihat Aisyah yang terlihat malu dan menautkan alisnya, menatap Setya dengan tatapan jengkel.
"Nggak papa dik, nggak usah malu, lah memang kenyataannya gitu ya mas Yuuuu?" Aca menahan tawanya kawatir bayinya yang sudah terpejam dalam gendongan Aisyah, jadi terbangun.
"Iyaaa bener, sampai pernah kami sama-sama kelelahan dan lama nggak bangun-bangun," ujar Setya lagi.
"Ck maaaas," ujar Aisyah.
"Iyaaaa iyaaaa nggak dik Aisyah sayang,"sahut Setya, Aca dan Fariq saling pandang kembali menahan tawa.
****
"Ada apa iniiiiii ya Allah kok, banyak makanan di meja?" tanya Bu Partinah, lalu Rani, Aisyah dan Setya memeluk wanita paruh baya itu bergantian.
"Lah ibu kan ulang tahun," kata Rania.
"Halah halaaaah ulang tahun opo, ibumu sudah tua, sudah tidak pantas berulang tahun, tapi terima kasih kalian mengingatnya," mata Bu Partinah terlihat berkaca-kaca.
"Ayo ibuuu di dahar, makan ya ibuuu, enak kok,” kata Rania dan mulai mencomot sana-sini.
"Raniiii, ini yang ulang tahun ibu apa kamu?" terlihat Setya yang jengkel dan geleng-geleng kepala.
"Hihihi iya sih," sahut Rani dan berempat mereka makan siang.
Saat Aisyah memberikan kado pada ibu mertuanya, tiba-tiba Bu Partinah memeluk Aisyah, dan matanya menjadi basah.
"Terima kasih nak telah membahagiakan Setya, dia terlalu lama sendiri, sedih dan selalu dikecewakan, saat ini ibu bisa merasakan kebahagiaannya, wajahnya yang selalu terlihat segar dan senyumnya kembali lepas,"
Saat melepas pelukannya, Aisyah tersenyum menatap ibu mertuanya
"Mas Setya yang membahagiakan saya ibu, dia sabar menghadapi saya," ujar Aisyah menatap suaminya yang tiba-tiba merengkuh bahunya.
"Intinya aku dan Aisyah berterima kasih pada ibu, yang ngotot banget menjodohkan kami dan Alhamdulillah kami bisa cepat menyesuaikan diri," Setya mencium pelipis istrinya dan Rania hanya berdecak kesal.
"Hmm malah jadi film drama deh, eh mas Adit, siniiii ibu ulang tahun loh," Rania memanggil Adit yang baru saja masuk.
"Dari mana Dit?" tanya Setya, Adit mencium punggung tangan ibunya lalu berjalan ke arah Setya melakukan hal yang sama seperti pada ibunya.
"Dari rumah teman mas,"
"Duduklah Dit," ujar Bu Partinah.
Adit duduk di dekat ibunya.
"Dit kamu kapan menikah, masa kamu nggak punya calon, nggak mungkin nggak ada yang mau sama kamu, kamu ngganteng gini loh," tanya Bu Partinah.
Adit hanya menghela napas.
"Lah tahun lalu kamu bilang dah nemu calonmu, mana kok nggak dibawa ke sini? " tanya ibunya dan Adit merasa tak enak pada Setya.
"Aku masuk dulu bu, nggak enak badan," Adit hendak melangkah masuk saat ibunya menahannya.
"Dit duduklah dulu, masa kamu nggak kangen sama mas mu?" tanya ibunya.
Adit menoleh pas di depan pintu kamarnya.
"Kangen bu, tapi nggak tahu kenapa kepala Adit tiba-tiba pusing," sahutnya sambil memandang Setya dan ibunya bergantian.
"Ya istirahatlah Dit," ujar Setya, ia memahami perasaan adiknya, sementara Aisyah hanya menatap suaminya dengan canggung, ia merasakan situasi tak enak antara Setya dan Adit.
*****
Malam hari Setya dan Aisyah kembali ke apartemen, setelah sholat isyak Setya nampak asik dengan laptopnya. Sementara Aisyah terlihat merapikan baju-baju yang akan dibawa ke rumah barunya jika ia kembali mengajar di pondok nanti.
"Mas, kita jangan sering-sering ke rumah ibu, aku kok merasa gimanaaa gitu pas ada Adit," ujar Aisyah.
"Nggak papa dik, paling tidak Adit harus belajar melupakan dik Aisyah, toh kita jarang juga ke rumah, kan kasihan ibu sama Rania juga kalau kita jadi tidak ke rumah sama sekali," jawab Setya.
"Iya juga sih," Aisyah meletakkan travel bag di pojok dan melangkah ke kamar mandi saat tak terasa jam telah menunjukkan angka sepuluh.
"Wah dah jam sepuluh ternyata, mas keasikan kerja, lah akunya keasikan nyiapkan baju, yang di pondok nanti juga tak ambil bajuku, nggak banyak tapi,"
"Iya benar dik, maaf mas abaikan dari tadi, ada sedikit kerjaan," ujar Setya.
"Nggak papa, aku juga nyiapkan baju kok," sahut Aisyah.
****
"Mas dari tadi ngerjakan apa?" tanya Aisyah setelah mereka berbaring dan Setya mulai menciumi pipi istrinya.
"boleh nggak lusa dik Aisyah ijin nggak ngajar sehari?" tanya Setya.
"Ada apa, mengapa Aisyah harus ijin, boleh sih tapi alasannya kan harus jelas?"tanya Aisyah.
"Dampingi mas lusa di kantor, mas serah terima jabatan, menggantikan Aca, sebagai direktur di tempat kerja mas," sahut Setya pelan, tangannya masih saja mengusap perut rata istrinya dan Aisyah, menghentikan gerakan tangan Setya, lalu menatapnya.
"Mas yang bener?"
"Iyaaa bener, makanya tadi ada beberapa hal yang akan aku selesaikan, nanti kan ada wakil direktur baru juga menggantikan posisiku,"
Aisyah tersenyum, membelai rahang suaminya.
"Amanah baru dari Allah pada mas, harus dilaksanakan dengan benar karena berat pertanggung jawabannya kelak, aku akan selalu mendukung semua pekerjaan mas,"
Setya memeluk Aisyah dan menciumi lehernya saat Aisyah tiba-tiba bangun dan berlari ke kamar mandi.
Setelah kembali, Aisyah meraih gelas lalu meminumnya sampai habis.
"Dik, tadi ibu berpesan agar di Ais ke dokter saja, kata ibu dik Ais bolak-balik mual, kalau sakit bilang sama mas, jangan dibiarkan, atau kelelahan ya, maaf sejak dik Ais datang kita memang nggak berhenti-berhenti, nanti ke dokter ya, sejak pagi dik Ais memang pucat," ujar Setya kembali menarik istrinya dalam pelukannya.
"Nggak papa mas, kayaknya memang aku kecapean, tapi nggak papa kok kecapean melayani suami kan memang tugas Ais," Aisyah tertawa pelan.
"Makasih sudah melayani mas dengan baik, dan maaf jika mas sering kasar saat kita berdua, nggak tahu kayaknya nggak mau berhenti kalau sudah kadung meluk kayak gini," Setya menciumi leher istrinya.
"Mas ingin?" tanya Aisyah.
"Nggak, kasihan dik Ais, kelihatan capek, semalam kan sudah nggak keitung, sudahlah tidur," akhirnya Setya mengakhirinya dengan melumat bibir istrinya hingga Aisyah mendorong Setya dan bergegas ke kamar mandi lagi.
Setya menyusul dan melihat istrinya yang memuntahkan semua makanan.
"Nggak papa kan dik?" Setya terlihat kawatir.
Sambil terengah Aisyah berusaha tersenyum.
"Nggak papaaa, aku mesti gini kalau masuk angin mas, biasanya dik Mai yang ngeroki aku, trus sembuh, udah yuk balik ke kamar, tidur aja,"
"Pokoknya besok ke dokter dik," Setya semakin kawatir.
"Iyaaa mas sayaaang,"
Setya menggendong Aisyah dan membaringkan, lalu menyelimuti badan Aisyah. Mengusap rambut lebatnya.
Aisyah akhirnya tertidur dan Setya memandang wajah istrinya sambil tersenyum, istrinya yang belia dan sangat patuh padanya.
****
Keesokan harinya setelah dari dokter..
Assalamualaikum ibuuu ternyata benar kecurigaan ibu, dik Aisyah hamil ibuuu, dik Ais hamiiil..
****