"Mbaak, mbak Ais, jadi nggak dikerokin?" tanya Maisaroh saat mereka hendak tidur.
"Ah nggak usah makasih, sudah sembuh kok," jawab Aisyah sambil berusaha memejamkan matanya.
"Iiih paling sering mandi malem yaaa makanya masuk angin trus dikerokin," goda Mai dengan suara lirih.
"Sssttt ih sok tahu, tidur," Aisyah mencubit lengan Mai
"Eh iya mbak, aku kok gimana ya, tadi aku dipanggil ibu nyai sepuh, minggu depan mereka mau ke rumah," suara Mai terdengar sedih.
"Lah ada apa?" Aisyah akhirnya memiringkan badannya menghadap Mai.
"Orang tua ustad Munif mau ke rumah, mau melamarkku," suara Mai terdengar seperti sulit ke luar.
Dan Aisyah diam saja, ia mengelus lengan Mai yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri.
"Akuuu, aku menunggu ustad Mahfud mbak, dia sering ke kampus menemuiku, meski tak bicara dan hanya memberi makanan atau apalah, aku tahu ia menyukaiku, akupun begitu," Mai memeluk Aisyah dan ia terisak lirih.
"Aku tak punya keberanian menolak karena ibu nyai sepuh ternyata sudah lebih dulu berbicara dengan kedua orang tuaku, minggu depan itu, mareka akan melamar secara resmi mbak, dan mereka hanya menunggu aku wisuda lalu kami akan menikah, piye aku mbaaak, gimana akuuu?" tangisan Mai semakin jadi dalam pelukan Aisyah.
"Jangan menangis Mai, aku sudah melalui itu semua, dan ternyata tidak seperti yang kita pikirkan, belajarlah menerima bahwa ini sudah kehendak Allah, jodoh, kematian dan rizki semua rahasia Allah,"
Akhirnya Mai tertidur kelelahan dalam pelukan Aisyah. Aisyah membetulkan posisinya ia mulai berdoa dan memejamkan matanya.
****
Hari-hari berlalu terasa lambat bai Setya, ia kembali melirik kalender di meja kerjanya, ah masih dua hari lagi....
Tiba-tiba ponselnya berdering
Ya Caaa
Ke ruanganku sebentar
Setya mematikan ponselnya dan melangkah menuju ruangan bosnya.
"Duduklah," ujar Aca sambil menyodorkan sebuah dokumen.
"Tadi ada pertemuan dengan seluruh anak perusahaan Mikala, biasa, pertemuan rutin, aku sebenarnya lelah sejak kehamilan ini, tapi aku kasihan jika mas Yu yang hadir, karena aku yakin Tenti pasti hadir dengan bosnya, dan benar, ia langsung mengejarku, dia bertanya mas Yu lagi, ya aku beri pengertian lagi, bahwa mas sudah benar-benar melupakannya dan mas Yu merasa nyaman dengan istri belianya, benar kan mas?"
Setya mengangguk dengan cepat.
"Makasih Ca, aku ingin segera hari jumat Ca, ingin bercerita semuanya pada Aisyah, hari berjalan begitu lambat meski aku sudah menyibukkan diri,"
Setya mendengar tawa Aca, ia mendengus jengkel, lalu mendengar ponsel bosnya berbunyi terdengar bosnya berbicara dengan suaminya.
"Kau membicarakanku dengan penuh kebahagiaan," ujar Setya terlihat jengkel.
Aca masih saja tertawa.
"Aku hanya mengatakan pada suamiku bahwa wakilku tak kuat menahan rindu dan dia juga tertawa mas Yuuu, ah mas Yu, semoga perjalanan mas Yu dengan dik Aisyah lancar dan bahagia," ujar Aca tulus.
"Aamiiiiiin makasih Ca, aku kembali ke ruanganku ya, ini sudah sore, aku mau mengerjakan dokumen ini dulu,"
"Ok mas Yuuu semangat menunggu Jumat yaaa?" tawa Aca kembali berderai.
"Ah kau menikmati penderitaaku Ca," Setya melangkah ke luar dan ponselnya berbunyi, ia meraih ponsel dari sakunya, melihat namanya dan dengan cepat menelpelkan pada telinganya,"
Gimana apa yang kamu dapat, hah baguslah, dengan orang berbeda? Hmmm yaa yaaa aku memang bodoh, ok segera kirim padaku semuanya, lanjutkan tugasmu...
Setya memasukkan ponselnya ke sakunya kembali, melangkah ringan ke ruangannya, kembali terbayang wajah lembut istrinya, kepasrahannya dan kepolosannya, ia segera duduk di mejanya, memejamkan matanya, mengerang perlahan saat menyadari pangkal pahanya mengeras dengan hanya membayangkan wajah istrinya saat mereka berdua.
Ahhhh dik Aisyah, jika aku tak tahan terpaksa sebelum jumat aku akan menemuimu...
Setya membuka matanya kembali ia abaikan pangkal pahanya yang terasa nyeri, berusaha berkonsentrasi pada pekerjaannya dan tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, baru kali ini ia seperti ini dengan hanya membayangkan wajah orang yang ia cintai.
****
Setya ke luar dari ruangannya jam menunjukkan angka sembilan malam, ia bertemu dengan satpam yang berputar mengawasi kompleks perkantorannya, mobilnya sudah berada di depan lobby.
Tiba-tiba lengannya ada yang menyambar dan wajahnya mengeras, mengibaskan tangan itu.
"Jangan pernah sentuh aku, aku sudah menikah, sudah berkeluarga, hanya dia yang boleh menyentuhku, mengerti?"
"Mas, aku yakin kau hanya menjadikan pernikahanmu sebagai pelarian, kau mencintaiku, kau mengatakan itu,"
Tiba-tiba satpam mendekat.
"Perlu saya atasi Pak Setya?"
"Sebentar saya selesaikan berbicara pada orang tak tahu malu ini, lalu ingat wajahnya dan jangan boleh menemui saya lagi," ujar Setya dengan wajah marah.
"Dengar aku, saat kebohongan itu muncul, seketika itu juga cintaku hilang, aku sudah terseret dosa saat denganmu, jangan coba-coba mengancam istriku atau kau mengatakan hamil denganku, hanya kita yang tahu bahwa dua kali aku bermain aman, jika sampai kau mengancamku atau istriku dan berpura-pura hamil untuk mengacaukan pernikahan kami, aku punya bukti untuk menjatuhkanmu, heh masih mengatakan cinta padaku, lalu dengan siapa kau ini, masih mau bohong?"
Setya memperlihatkan sebuah foto Tenti dengan seorang laki-laki disebuah diskotik dengan baju yang dadanya sedikit terbuka, berciuman penuh nafsu dengan seorang laki-laki yang meramas d**a Tenti.
Tenti terbelalak..
"Mas itu, itu semua karena aku putus asa kau tinggalkan,"
"Pembohong, ini belum seberapa, ada lagi fotomu saat lunglai dan berjalan masuk ke sebuah kamar hotel dengan seorang laki-laki, masih mau mengatakan hanya aku laki-laki yang kau cinta, enyah kau dari hidupku,"
Setya melangkah ke mobilnya berteriak pada satpam yang tak jauh dari tempat mereka bicara.
"Suruh ke luar wanita ini, kantor ini tak butuh sampah seperti dia,"
Setya masuk ke mobilnya mengabaikan teriakan Tenti dan segera melajukan mobil menuju apartemennya.
****
Setya memasuki gerbang pondok pesantren dengan hati berdebar, ck kayak remaja pacaran saja pakai acara berdebar...
Akhirnya ia sampai di bangunan besar tempat Aisyah tinggal. Ia diterima dengan baik oleh beberapa ustad di sana karena tahu bahwa Setya suami dari Aisyah.
Dari jauh ia melihat Aisyah berjalan dengan beberapa wanita dan tak jauh di belakang Aisyah ada laki-laki yang membuat Setya cemburu.
****
Setelah berpamitan pada ibu nyai sepuh dan beberapa ustad ustadah yang kebetulan bersama Aisyah tadi akhirnya mereka meninggalkan pondok pesantren menuju apartemen Setya.
"Mengapa laki-laki itu terlihat tak jauh dari kamu tadi?" tanya Setya, matanya menatap lurus ke depan.
Aisyah menoleh pada suaminya dan mengernyitkan keningnya.
"Maksud mas, laki-laki yang mana?"
"Yang suka sama kamu,"
Aisyah tersenyum dan dia diam saja, mencoba menggoda suaminya dan menguji kesabarannya suaminya juga.
"Kok nggak jawab sih, dia pasti ngekor kemanapun kamu berada ya?"
"Dik, kok diam sih?" tanya Setya lagi.
"Mas tadi kami berdua puluh orang membahas perayaan Muharram yang baru saja selesai, kami mengevaluasi, apa yang kurang dari kegiatan itu," Aisyah menjelaskan dan melihat suaminya yang tampak lega.
"Lagian dia akan segera menikah," ujar Aisyah lagi.
"Ah yaaaa, sukurlah, aku jadi lega,"
Terdengar tawa Aisyah...
"Aku bahagia mendengar tawamu, eh ya, kita makan malam dulu ya dik?"
"Nggak ah makan di rumah mas saja, enak di sana kita makan berdua," sahut Aisyah.
"Ok, di apartemen saja ya, nanti sebelum masuk kita beli dulu, kita makan berdua dan setelahnya baru aku makan kamu," Setya melirik istrinya yang terlihat menunduk.
"Ah mas Setya ada-ada saja,"
****
Sesampainya di apartemen, Aisyah segera berganti baju saat Setya masuk ke kamar mandi, ia masih belum terbiasa berganti baju di depan suaminya, kalaupun terpaksa harus melakukan, bolak-balik dia meminta Setya memunggunginya, meski Setya sering menggodanya.
****
Saat makan malam berdua, tiba-tiba ponsel Setya berbunyi, Setya meraih ponselnya dan terlihat tegang, lalu menoleh pada Aisyah dan berdiri lalu agak menjauh, ia mulai menempelkan ponsel pada telinganya.
Ya, ada perkembangan baru?
......
Simpan semua foto di kamu, jangan kirim sekarang, Senin pagi saja..
......
Dia mencoba menipuku, heh dikira tak tahu akal bulusnya, ok kita sambung Senin pagi..
Setya kembali duduk di samping Aisyah, menikmati makannya dalam diam.
"Mas nggak nambah kok dikit makannya?" tanya Aisyah. Setya menatap wajah Aisyah memajukan wajahnya dan mencium pipi Aisyah.
"Mas kenyang dengan hanya melihat wajahmu,"
"Mas gombal,"
Keduanya tertawa...
****
"Mas kenapa lebih banyak diam dari tadi?" Aisyah mulai merebahkan badannya di samping Setya.
"Kecapean paling dik,"
"Ais pijit, mau?"
"Yah, nggak papa, kali aja cocok,"
Setya menelungkupkan badannya, merasakan pijitan istrinya yang nyaman ditubuhnya.
"Berbalik mas," ujar Aisyah dan mulai memijit lengan Setya.
Setya memandangi wajah cantik Aisyah, rambut panjangnya yang dijalin jadi satu di bahu kanannya.
"Berhenti dik, nanti capek, sini rebahan di samping mas,"
"Masih kurang loh mas, masih belum selesai," ujar Aisyah.
"Mas kangen meluk dik Ais,"
Aisyah merebahkan badannya, Setya segera menarik badan Aisyah, memiringkan badan istrinya hingga berhadapan.
"Dik Ais, mas mau bilang sesuatu, mas mau jujur, mas nggak mau dik Ais menebak-nebak mas seperti apa, bagaimana masa lalu mas,"
"Ya silakan mas cerita Ais akan dengarkan," Aisyah mengerjabkan matanya.
"Dik Ais janji, setelah mas cerita, dik Ais nggak benci sama mas?" tanya Setya ragu.
"Mas mau cerita apa, cerita saja, jika mas mau jujur itu sudah segalanya bagi Ais karena sulit membuka kejujuran loh mas, Ais akan ikhlas,"
"Kamu ingat wanita yang bernama Tenti yang terus mengejarku?"
"Ya, kenapa, mas masih cinta?"
"Tidaak, tidaaak dik, cintaku padanya hilang tak berbekas saat aku tahu ia berbohong, tapi maksudku aku pernah..."
Setya meraup bibir Aisyah, perlahan menjilati leher, dan membuka kancing baju tidur Aisyah mengangkat branya hingga d**a Aisyah membusung, bibir Setya bermain di sana lama hingga Aisyah mendesah dan melenguh pelan.
Setya membuka seluruh baju yang melekat di badannya dan yang tersisa di badan Aisyah, lalu perlahan, menundukkan wajahnya memanjakan Aisyah dengan berlama-lama dipangkal paha istrinya hingga Aisyah telah sampai lebih dari satu kali, lalu memposisikan badannya sejajar dengan istrinya, menciumi lagi d**a Aisyah, lalu perlahan ia menyatukan diri dengan Aisyah, menumbuknya dengan teratur dan semakin cepat.
****
Setya memeluk badan basah Aisyah yang masih terengah, mengusap punggung istrinya yang terbuka.
Lalu menyatukan keningnya dengan kening Aisyah.
"Buka matamu sayang, capek?"
Dan Aisyah mengangguk...
"Mas tadi mau bilang apa, mas pernah apa sama dia," Aisyah menatap wajah suaminya yang tiba-tiba matanya berkaca-kaca.
"Kamu janji nggak marah?"
Aisyah mengagguk
"Janji mas, Aisyah janji,"
"Aku pernah sedekat ini dengan dia, pernah seperti ini," suara Setya bergetar... Ia semakin sedih saat melihat mata Aisyah yang terlihat kaget lalu berkaca-kaca dan menetes air matanya.
"Maksud mas, seperti yang kita lakukan tadi?"
"Ya Ais, yaaa,"
Dan air mata Aisyah luruh, badannya bergetar hebat, Setya memeluk erat Aisyah...
"Benar kaaan, benar kaaan kamu marah, kamu jijik kan pada mas?"
"Berapa kali mas, berapa kali mas dengan dia...,"
"Dua kali, maafkan aku Ais, aku kotor, aku sebenarnya tak berhak memilikimu yang suci dan bersih..,"
Aisyah melepaskan pelukan Setya,memunggungi suaminya dan menangis tanpa bersuara.
Setya memeluk Ais dari belakang, ia dekap dengan erat.
"Kamu marah kan Ais, mas terima, kamu benci mas terima, tapi jangan tingalkan mas, mas mencintaimu Ais,"
"Ais bicaralah, kamu marah kan?"
"Nggak, Ais nggak marah, hanya sedih saja, Ais kawatir suatu saat dia mendatangi Ais, berbadan dua dan mengaku anak mas,"
Setya membalik paksa badan Aisyah, ia pandangi wajah Aisyah yang penuh air mata.
"Dengarkan aku, dua kali aku melakukan dengan dia, mas bermain aman, tidak akan terjadi kehamilan, percaya pada mas, kalau sampai ia mengganggumu dan mengatakan hamil, aku siap uji dna, percaya padaku Ais aku punya bukti jika dia seperti ini dengan banyak laki-laki, aku saja yang bodoh mau saja percaya padanya, aku bodoh Ais,"
"Aku mohon maafkan aku, jangan tinggalkan mas, jangan tinggalkan mas," Setya memeluk Aisyah dan menangis sambil mengusap punggung istrinya.
"Aisyah nggak akan pergi ke mana-mana, Ais akan tetap berada di sisi mas, selama mas ingin,"
Setya menangkup pipi Aisyah meraup bibir istrinya dengan air mata berlelehan, ia menyesal telah menyakiti istrinya.
Lalu membaringkan badan Aisyah lagi, menciumi seluruh badan istrinya dan berkali-kali mengatakan maaf.
Aisyah menangkup pipi Setya menghentikan pergerakan bibir suaminya.
"Mas, Ais memaafkan mas, sebesar apapun kesalahan mas, Ais memaafkannya, hanya terus terang Ais kaget, orang sebaik mas bisa berbuat sejauh itu...,"
"Aku khilaf Ais, maafkan mas, kamu jijik kan sama mas, karena telah berbuat seperti itu pada yang lain?"
Aisyah menggeleng, menghapus sisa air mata suaminya yang masih tersisa, menciumi bibir suaminya dengan ragu.
Lalu Ais mendorong badan suaminya, duduk di paha Setya, memandangi suaminya dengan tatapan malu dan ragu...
"Ais boleh menyentuh mas?"
"Boleh, sentuh di mana saja kau mau,"
Jari-jari mungil Aisyah mengusap d**a setya lalu ke perut dan dengan ragu menyentuh miliknya dengan jari-jari gemetar.
Setya menahan sekuat tenaga untuk tidak melakukan gerakan apapun, ia biarkan Aisyah memilikinya malam ini setelah semuanya dan akhirnya....
****