"Gimana nak kabarmu?"
"Baik ibu, ini oleh-oleh untuk ibu," ujar Aisyah meletakkan oleh-oleh di depan ibu nyai sepuh.
"Ah kau semakin cantik, auramu semakin terlihat mengagumkan setelah menikah, kau bahagia anakku?"
"Inggih bu,"
"Ah syukurlah, semoga kebahagiaan terus bersamamu anakku,"
"Aamiiiiiin ya Rabbal alamiiiin, matur suwun sanget doanya ibu, terima kasih,"
"Ya sama-sama silakan jika mau berangkat ngajar nduk?"
"Iya ibu, Aisyah pamit, assalamualaikum,"
"Wa alaikum salaaam,"
****
Saat menuju ruang kelas ia berpapasan dengan Munif yang kebetulan lewat, karena ruang kuliah tempat munif mengajar tak jauh dari tempat Aisyah mengajar.
Munif menatap Aisyah sejak dari jauh bayangan wanita itu terlihat.
Aisyah menyadari itu, dia memilih menatap lurus ke depan, dan ustadah Ela melambaikan tangan hingga ia ada alasan untuk menoleh ke sisi yang lain.
Benar-benar suasana tak nyaman bagi Aisyah.
****
"Ada apa kok pagi-pagi wajahmu keruh mas Yu, pengantin baru harusnya selalu semangat, kan...," Aca menggoda Setya yang wajahnya mengeras pagi itu saat baru tiba di kantornya, masuk ke ruangan Aca.
"Wanita itu bolak balik ke apartemenku, namun diusir oleh petugas keamanan karena aku telah berpesan sebelumnya, aku bersyukur tinggal di tempat aman, jika bukan pemilik maka tidak diperbolehkan masuk, jika ada keluarga yang akan masuk maka mereka akan konfirmasi pada kita lebih dahulu, istriku kan tiap jumat sampai minggu malam ada di apartemenku, ya sudah tiap weekend aku jemput," ujar Setya.
"Mas Yu akan lebih baik menceritakan semua masa lalu mas Yu, dari pada ia tahu dikemudian hari dan menjadi masalah dalam kehidupan rumah tangga mas Yu, bentengi dengan kejujuran, maka akan mudah menghadapi rintangan dalam rumah tangga," nasehat Aca.
"Yah, jumat depan saat kami kembali bersama, aku akan menceritakan semuanya, semuanya," ujar Setya.
"Eeemmm maaf mas Yu, jika aku lancang, Tenti mengatakan padaku jika selama denganmu, ia, ia tidak menggunakan apapun agar aman, maksudku, ia bisa saja hamil kan, aku hanya berpikir Aisyah, jangan sampai gadis belia itu tersakiti, mas Yu mengerti kan maksud saya, dia hidup dilingkungan seperti itu, perbuatan mas Yu, akan sulit diterima logikanya, tapi mas Yu harus jujur, katakan semuanya, tanpa ada yang tersisa" ujar Aca dengan wajah sedih.
"Heh, dia bilang begitu, akuuu, aku akan jujur padamu Ca maaf jika aku v****r Ca, aku tidak pernah mengeluarkannya di dalam, dan hanya dua kali aku melakukan dengannya, aku malu Ca, malu bercerita seperti ini padamu, aku benar-benar b******k" suara tersendat Setya terdengar pelan.
"Ah mas Yuuu, mas Yuuuu, pergaulan telah menyesatkan mas Yu, jangan menyalahkan nafsu, kita yang harusnya mampu mengalahkannya mas, kita yang harusnya mengendalikannya, aku tidak mau munafik, aku sangat menikmati ciuman Fariq saat kami berpacaran, tapi jika dia ingin lebih, aku yang menghentikannya," ujar Aca penuh penekanan.
"Yah aku kalah Ca, kalah pada setan yang bertepuk tangan disekelilingku," sahut Setya terdengar lelah.
"Ah sudahlah, perbaiki semuanya demi Aisyah, dia kirim olehNya, karena mas Yu orang baik, jangan sia-siakan dia, belajarlah mencintainya, aku yakin akan banyak cara memupuk cinta mas Yu dan Aisyah," Aca melihat senyum samar Setya, Aca berdoa semoga jalan terbaik.
Saat keduanya sedang asik dengan pikiran masing-masing tiba-tiba dikejutkan oleh Tenti yang tiba-tiba menerobos masuk, memeluk Setya yang masih duduk dengan Aca, sekuat tenaga Setya mendorong Tenti.
Ia berdiri dengan napas memburu, Tenti kembali berusaha memeluk Setya.
"Menjauhlah kau dari hadapanku, aku tak punya ikatan apapun denganmu, sejak awal kau menipuku, aku memang buta, menjadi b***k nafsunya yang kesekian, pergi kau dari ruangan ini," Setya terlihat menahan emosi.
Tenti segera memeluk, Aca dan menangis di pelukan Aca.
"Mas, dengarkan aku, aku mencintaimu, selama kau pergi aku mencarimu, baru pertama kali ini aku merasa seperti ini, aku ingin menikah denganmu mas Setya, tanyakan pada ibu Aca, selama tiga hari aku ke sini tiap hari mencarimu, aku tak pernah seperti ini," Tenti meraung-raung.
"Dan pada setiap laki-laki kau mengatakan seperti itu, pergi kau dari sini, jangan pernah berusaha menyentuh tubuhku lagi, hanya istriku yang saat ini boleh menyentuhku, aku sudah menikah dan tak berminat lagi padamu," Setya beranjak ke luar dan Tenti mengejarnya, menarik lengan Setya dan Setya mengibaskannya hingga Tenti terduduk.
"Bohong, kau bohong, kau sengaja mengarang cerita," tangisan Tenti semakin menjadi, sementara beberapa petugas keamanan perusahaan berdiri di depan ruangan Aca, Aca hanya memberi kode agar semuanya tenang.
Aca mendekat dan duduk di kursi dekat Tenti terduduk, mengusap bahu Tenti.
"Dia memang baru saja menikah Ten, yang kapan hari dia ke rumah dengan istrinya,"
Tenti memeluk kaki Aca dan meraung lagi.
"Ibuu dia pasti melakukan itu karena sakit hati, aku yakin ia tak mencintai istrinya,"
"Cinta atau tidak, yang pasti mereka sudah menikah, mereka sah di mata agama dan negara, dan jika kau masih mengejar Setya, anggapan orang-orang maka akan semakin benar adanya, bahwa kau...,"
Tenti menggeleng dan menangis lirih..
"Ibu, sejak mengenal mas Setya, saya hanya untuknya ibu, tidak lagi dengan yang lain, saya benar-benar berhenti bermain-main, saya akui biasanya saya memang berhubungan dengan beberapa laki-laki bahkan awal mengenal mas Setya pun saya masih jalan dengan yang lain, tapi saat dia memperlakukan saya dengan lembut saya, saya berhenti ibuuu, saya tidak dengan yang lain, saya rindu sentuhannya ibuuuu," dan Tenti semakin meraung di pangkuan Aca.
"Saat ini Setya sudah menikah, maka dari itu jangan mengganggunya lagi, menjauhlah...," Aca benar-benar bingung menghadapi Tenti yang semakin jadi menangis.
"Saya mencintainya ibuuu, saya mencintainya, mengapa selalu begini tiap saya mencintai laki-laki baik dan lembut....,"
Aca mendesah pelan, mengusap rambut Tenti yang kepalanya rebah dipangkuannya.
Setya yang berada di balik pintu semakin mengeras wajahnya ia merasa direndahkan, ternyata wanita itu biasa berhubungan dengan beberapa laki-laki, bahkan saat masih bersamanya.
****
"Sudah pulang dia Ca?" tanya Setya pada atasannya. Saat keadaan sudah baik-baik saja.
"Ya sudah pulang, kau harus segera bercerita pada istrimu, aku kawatir Tenti nekad, kita tidak tahu kan jika tiba-tiba kalian bertemu dan ah aku tak bisa membayangnya gadis belia itu tersakiti," Aca menggeleng sedih.
"Pasti Ca, pasti," Setya mengusap wajahnya dan menghembuskan napas berkali-kali.
****
Aisyah segera meraih ponselnya saat jam sudah menunjuk angka sembilan malam dan adik-adik asuhnya sudah tidur.
Ia segera ke luar kamar dan melihat nama suaminya di sana
Assalamualaikum
Wa alaikum salam
Sudah tidur Sayang?
Belum, nunggu telpon dari mas
Kan kata dik Ais bolehnya jam sembilan malam, jadi mas nunggu sampai jam sembilan
Masih lama ya hari jumat?
Empat hari lagi mas
Lama, mas kangen, sendirian di apartemen, pengen meluk dik Ais
Hihihi mas ini
He'eh bener pengen kayak kemarin yang di kamar mandi
Ck mas ini jangan ngomong itu malu
Hahahah kita lucu ya dik sama-sama kecapean
Hihihihi mas aku masuk dulu ya, aku tidur dulu, nanti malam mau bangunin adik-adik untuk sholat tahajut..
Ya dah, selamat tidur dik Ais sayang assalamualaikum
Wa alaikum salaaam
****
Setya melamun sendiri di kamarnya, ia ciumi bantal yang masih tersisa aroma istrinya.
Aku tak sabar menunggu jumat Aisyah, akan aku ceritakan semua sampai tak tersisa lagi, semoga kau tak tersakiti, maafkan aku jika aku tak sesuai harapanmu, aku yang kotor ini merasa tak layak jadi imammu, maafkan aku Aisyah..
Tanpa Setya sadari air matanya mentes di bantal yang ia ciumi..
****