Setya menatap istrinya yang tidur nyenyak, setelah mandi bersama, mereka sholat duhur berjamaah dan makan siang olahan Aisyah, tak lama kemudian Aisyah sudah tidur dengan nyenyak, rambut panjang Aisyah masih basah, Setya usap perlahan.
Aku berjanji, akan menceritakan semua padamu, agar tak jadi boomerang bagi kita Aisyah...
****
"Ini rumah siapa mas, besar sekali?"
Aisyah memeluk lengan Setya dan merapatkan tubuhnya pada badan besar suaminya.
"Ini rumah bosku, istrinya bosku langsung, tapi suaminya yang memiliki kerajaan bisnis milik keluaranya,"
Mereka menapaki rumah Fariq dan Aca, setelah dibuka oleh seorang pelayam mereka dipersilakan duduk di ruang tamu.
"Duuuh besar banget rumahnya mas, ngeri ya, gimana sih bapak ibu Fariq, nggak nakutin ya mas?"
"Nggak, tenanglah, Setya memegang tangan istrinya berusaha menenangkan, menepuk-nepuk berulang,"
Agak lama lalu ke luar suami istri itu dengan senyum lebar.
Mereka beriringan ke luar menuju ruang tamu, dan Aca terbelalak..
"Mas Yuuu ya Allah, bener-bener bikin kejutan," Aca terlihat kaget, namun bahagia melihat Setya dan istrinya segera berdiri, menyalami Fariq dan Aca, Aca segera memeluk istri Setya.
"Selamat Pak Setya akhirnya, benar-benar bikin kejutan, tadi istri saya dikagetkan oleh riuhnya suasana kantor, bagaimana Pak Setya membuat geger suasana kantor karena foto pernikahan Pak Setya?" Fariq tersenyum lebar dan Setya yang tersenyum lebar.
Aca dan Fariq melihat Setya yang berusaha membuat istrinya yang belia merasa nyaman, ia genggam tangan istrinya.
"Ini istri saya, Aisyah, dan Ais mereka ini atasanku, bos ku," Setya mengenalkan Aca dan Fariq, juga mengenalkan istrinya pada kedua atasannya.
Lalu terlihat Setya mulai menghembuskan napas berat saat ia mulai berkata.
"Saya mendengar pembicaraan Bapak dan Bu Aca di ruang kerja Ibu saat Pak Fariq memergoki saya di area parkir saat itu, saya merasa lelah, lelah Pak, dibohongi lagi, hingga akhirnya saya mengajukan cuti, tanpa persetujuan lebih dulu dari atasan, saya menuju tempat lahir bapak saya, saya berangkat bersama ibu saat itu, untuk menghilangkan rasa sakit saya, nah saat silaturrahmi ke salah satu kerabat itulah saya dijodohkan dengan dik Aisyah, lalu ibu saya mengatakan bahwa saya akan baik-baik saja jika dengan dik Aisyah, saya bismillah saja Pak Fariq, Bu Aca, dia baru saja di wisuda, tapi masih mengabdi di tempatnya mondok dulu, pengabdian selama setahun," ujar Setya menjelaskan dan sesekali menatap wajah istrinya yang lebih banyak menunduk dan tersenyum.
"Ah yaaa yaaa, in shaa Allah pilihan ibunda akan baik Pak Setya, Fakultas apa dan jurusan apa istri Pak Setya?" tanya Fariq.
"Fakultas tarbiyah, jurusan manajemen pendidikan Islam," jawab Setya.
"Semoga bahagia mas Yu, lah mas Yu sekarang tinggal di mana, kan dik Ais masih pengabdian setahun kan di pondoknya?" tanya Aca.
"Ya ke sana ke marilah dulu, kan hanya dua jam ke rumah mertua, nanti akhirnya memang akan pindah ke apartemen saya untuk sementara," Setya menatap istrinya yang tersenyum.
"Ayo ini ada makanan ringan di meja dianggurin saja mas Yu, dik Ais, yuk silakan ambil sendiri," Aca menawarkan kudapan yang ada di meja.
Sekitar jam sembilan Setya dan istrinya pamit, mereka menuju apartemen Setya.
****
Selama perjalanan pulang Aisyah diam saja, Setya menoleh pada istrinya dan menemukan wajah istrinya yang tampak biasa-biasa saja.
"Dik, nggak papa kan?" tanya Setya.
Aisyah menoleh dan tersenyum.
"Besok setelah subuh aku antar kamu ke pondok ya, aku bawa sopir saja, takut lelah, akuuu kalau boleh, nanti pengen lagi, kan masih lama ketemunya, masih jumat depan," Setya terlihat menggoda istrinya, Aisyah tersenyum dan kembali menatap jalanan yang masih saja ramai.
****
Sesampainya di apartemen, kembali satpam memberi tahu Setya jika ada yang menunggunya di loby sejak tadi tapi sudah pulang karena terlalu lama menunggu Setya, lalu Setya berpesan pada Satpam jika ada wanita yang mencarinya agar mengatakan jika ia sudah menikah, dan suruh segera pulang tanpa menunggunya.
****
"Wanita itu, paling sangat mencintai mas ya sampai bolak-balik ke sini?" tanya Aisyah saat mereka telah di kasur dan saling memeluk.
"Itu hanya akal-akalan dia saja, dia banyak pacarnya, mas sudah ditipunya," ujar Setya menciumi kening Aisyah.
"Oh yaaa, masa perempuan banyak pacarnya, hmmm dia cantik ya mas?" tanya Aisyah.
"Lebih cantik kamu, lebih muda kamu, lebih semuanya, ini juga lebih..," Setya menyusupkan tangannya ke d**a Aisyah, menaikkan baju tidur istrinya, hingga tampak dadanya yang putih bulat.
"Ah kau sengaja tak memakai bra mu?" tanya Setya mulai meremas dan memainkan ujung d**a istrinya dengan kedua ibu jarinya, menangkup d**a istrinya dan mencumbuinya bergantian.
Usia belia Aisyah kadang sulit mengartikan semua perlakuan suaminya, yang kadang terasa sakit, nikmat dan geli bergantian. Kadang ia tutup mulutnya agar tak mendesah namun tangannya sering ditahan oleh suaminya dan membiarkan ia mendesah berulang.
****
"Ya Allah sudaha adzan subuh mas aaah mas Setya sih, maunya lagiiii. lagiiii, jadi nggak shalat tahajut deh,"
Setya yang juga baru bangun akhirnya tersenyum.
"Iya mas salah, mas minta maaf deh, mandi dulu yuk, mas mandikan," ajak Setya.
"Nggak mau, nanti malah nggak jadi mandi," sahut Aisyah kesal, ia bangkit dan berteriak saat Setya menarik selimut hingga tubuh polos Aisyah terlihat, dengan cepat Setya bergerak. Ia gendong istrinya ke kamar mandi.
****
Selama perjalanan ke pondok pesantren Aisyah tidur sangat nyenyak bahkan Setya juga sesekali tampak memejamkan matanya karena di kamar mandi tadi berlanjut lagi aktivitas keduanya hingga Aisyah dan Setya sama-sama kelelahan dan tertawa karena sama-sama tak bertenaga, saling memeluk lalu mandi bersama.
****
Mereka telah sampai di gerbang besar pondok pesantren, Setya mengusap pipi istrinya agar bangun, Aisyah membuka matanya dengan berat.
Mobil terus meluncur masuk akhirnya berhenti di sebuah bangunan penginapan besar khusus putri.
"Sudah mas, turun di sini," ujar Aisyah.
"Oh iya iya,"
Setya membuka pintu mobil dan memegang tangan Aisyah.
"Ayo aku pegangi,"
Di saat yang bersamaan terlihat laki-laki yang pada saat mereka menikah tak lepas memandangi wajah Aisyah dengan sendu.
"Sayang, laki-laki itu kan yang menyukaimu?" tanya Setya dan Aisyah tidak menoleh ia merasa bahwa ia harus membatasi pandangannya.
"Hmmmm, sudahlah kan aku sudah jadi istri mas?"
"Iya tapi kalian ada di tempat yang sama, kalian akan sering bertemu apalagi ia cucu pemilik pondok pesantren ini,"
Aisyah memegang lengan suaminya sambil tersenyum.
"Kami tahu batasan, apalagi sih yang kurang dari mas, ganteng, mapan, lembut, aku tidak akan menoleh lagi pada siapapun,"
Setya tersenyum dan mencium kening Aisyah, Aisyah mencium punggung tangan suaminya.
"Jum at sore Ais tunggu di sini ya mas, sebenarnya Ais ngajar sampai kamis, tapi jum at pagi masih ada tambahan kegiatan pembinaan olimpiade matematika jadi aku bantu-bantu, nggak papa ya mas?"
"Iya nggak papa, mas berangkat ya, baik-baik di sini,"
Setelah sopir menurunkan travel bag mungil pemberian Setya yang berisi kerudung serta baju baru, mobil itu meluncur meninggalkan pondok pesantren menuju tempat kerja Setya yang lumayan jauh.
Gerak-gerik Aisyah dan suaminya tak lepas dari pengawasan Munif, ia melihat semua kemesraan Aisyah dan suaminya, ada rasa nyeri di dadanya yang tak ia mengerti.
Cemburu? Pasti, Munif merasakan bahwa semuanya telah terlambat, ia menyesal tak segera melamar Aisyah, kini ia hanya bisa meratapi nasib melihat orang yang ia cintai telah menjadi milik orang lain.
****
Aisyah bergegas masuk menuju kamarnya.
Membuka perlahan dan kaget saat penghuni kamar yang berjumlah lima orang histeris dan memeluknya bergantian.
"Ya Allah mbak Ais, ayunee, cantiknya, yak opo mbak enak ya dadi nganten anyar, enak kan jadi pengantin baru?"
"Huuuus kalian masih anak-anak kok tanya-tanya," Aisyah tersenyum penuh rahasia dan riuhlah isi kamar itu.
"Ssstttt ojo rame-rame, jangan ramai nanti dimarahi, ayo siap-siap semuanya, yang mau kuliah, yang Aliyah, ayooo, mbak mau ganti baju juga mau ngajar,"
Lalu satu per satu ke luar setelah berpamitan dan mengucapkan salam, tinggal Ais dan Maisaroh adik tingkatnya yang sudah seperti adik baginya.
"Nggak kuliah Mai?" tanya Ais sambil ganti baju, terhalang lemari.
"Angkatan tua kayak aku ya hanya konsultasi skripsi mbak, nanti siang ke kampus, lah mbak Ais ngajar jam berapa kok belum juga berangkat?"
"Jam ketiga, tapi bentar lagi aku mau ke ibu nyai sepuh dulu, mau ngaturi oleh-oleh, eh iya kok lupa Mai, ini ada kue ya Allah," Aisyah menuju goody bag, dan meletakkan box kue di depan Mai.
"Nanti adik-adik kasih ya Mai, aku mau pakai hijab dulu,"
Dan Mai memandang Ais dengan tatapan aneh.
"Duh mbaaak mbak sakit ya selama ikut suami, kerokan kok sampek gini warnanya, pasti suami mbak ya yang ngeroki, sampe biru, merah juga, ah dasar orang kota nggak bisa, biar nanti Mai yang ngeroki ya mbak, sampe lehernya kayak gitu loh, mana banyak lagi, ah suami mbak benar-benar nggak bisa ngeroki, nanti ya mbak pulang ngajar tak keroki ya?" Mai sampai mendekati leher Aisyah.
Dan Aisyah hanya mengangguk dan segera berkerudung dalam hati ia merutuki kebodohannya mengapa tidak juga memakai kerudungnya sejak tadi. Kadang ia tak mengerti apa yang diperbuat suaminya hingga leher dan beberapa bagian tubuhnya seperti itu, Aisyah benar-benar tak mengerti.
Iiiih mas Setyaaaa, aku maluuuu...
****