"Kita makan di mana ini mas?"
"Di lantai bawah sana ada tempat makan enak nggak harus ke luar apartemen, di sini lengkap, ada mini market juga, yuk aku lapar banget, kamu siiiih," ujar Setya sambil mencium pipi istrinya.
"Kok aku, mas kan yang bolak balik, masih sakit nih," ujar Aisyah terlihat memelas, Setya tertawa dan mendekap kepala istrinya ke dadanya.
"Iya mas jadi pingin terus,"
Keduanya memasuki lift.
****
Saat akan melangkah menuju kursi di dekat jendela, Setya kaget waktu ada yang menyapanya, menepuk pundaknya.
"Eh Pak Bram,"
"Wah Pak Setya, lama tidak terlihat ke kantor saya, biasanya kan...," belum selesai lawan bicaranya berbicara, Setya memotong.
"Perkenalkan, ini istri saya, Aisyah, dan Aisyah, ini Pak Bram, kenalan mas, cuman beda tempat kerja,"
"Waaah selamat Pak Setya, saya kiraaa jadi sama Tenti"
"Tidak, saya tidak akan jatuh pada perangkap yang salah, saya memilih perangkap saya, saya sengaja menjatuhkan diri pada wanita di samping saya, bukankah bapak yang pernah menyindir saya, hahahha tak apa saya tidak sakit hati bahwa saya kena jebakan dan lain-lainlah, sekarang saya hanya akan membuktikan bahwa saya tidak salah jebakan,"
"Iya iya Pak benar, bapak orang baik, rasanya sangat disayangkan jika bapak sampai memilih dia, sekali lagi selamat pak ya, tinggal saya yang belum juga menemukan perangkap, mari Pak Setya, saya duluan," dan Setya menarik kursi agar Aisyah duduk dan ia duduk di samping istrinya.
Setya melihat perubahan wajah istrinya namun seperti biasa istrinya bisa menahan diri, tapi Setya tahu, istrinya pasti berpikir siapa Tenti.
Sampai makanan datang Aisyah tak banyak bicara, ia makan dalam diam dan saat selesai ia terlihat menelpon ibunya berkabar bahwa ia baik-baik saja.
"Mau ke mini market, katanya mau masak, beli bahan-bahan lalu masukkan ke freezer tiap akhir pekan kan dik Ais ke apartemenku," Aisyah hanya mengangguk.
Wajahnya berubah agak cerah saat memilih bahan-bahan masakan. Setelah memilih mereka menuju kasir dan melangkah menuju flatnya.
****
Aisyah berganti baju dan berkutat di dapur, memasak yang ia bisa.
Setya mengamati istrinya yang memasak, dengan baju rumah hanya terusan selutut bahan kaos tanpa lengan pilihan Setya, bersandal rumah dan rambut panjangnya yang ia cepol ke atas,
Setelah selesai memasak Aisyah nampak masih membersihkan alat masak lalu meletakkannya di rak piring.
Saat berbalik sambil memegang serbet ia membentuk tubuh besar Setya.
"Ah mas, mas mau apa?"
"Pingin yang segar-segar,"
"Itu di kulkas sudah aku buatkan es buah segar, ada leci dan nanas juga nata...dan..eemmpphhh mas mmmppphhh..," serbet jatuh dan tubuh Aisyah terdorong ke dinding dapur, Setya menciuminya dan meremas d**a Aisyah dengan keras.
Saat ciumannya terlepas Aisyah menatap wajah suaminya yang masih menatapnya dengan tajam dan napas yang memburu, mengusap pipinya lalu memagut bibirnya lagi.
Aisyah meremas kaos Setya dan memukuli d**a suaminya perlahan. Setya menggendong tubuh Aisyah, melingkarkan pahanya ke pinggangnya dan merebahkannya di sofa.
Menatap kembali wajah istrinya yang bingung.
"Mas kenapa, kenapa meremas dadaku sampai sakit?"
"Aku yang harusnya bertanya, mengapa kamu diam, sejak makan tadi sampai selesai memasak kamu diamkan aku, ada apa?" tanya Setya.
Aisyah hanya menggeleng dan wajahnya kembali muram.
"Kamu ingin bertanya kan siapa Tenti, dia mantan pacarku, sudah selesai, bertanyalah jika ingin tahu, jangan diam, aku tak bisa menebak isi pikiranmu, aku ingin kita terbuka, kamu mau tanya apa lagi?" Setya masih berada di atas tubuh Aisyah.
"Laki-laki tadi kan katanya mas bukan teman sekantor kok sampai tahu hubungan mas dan kata mas, mas pacarannya sebentar kok dia sampai tahu, berarti mas keseringan jalan ya sama wanita itu?" tanya Aisyah dengan lugu.
"Sayaaaang namanya pacaran ya sering berdua, makanya dia tahu?"
"Iya iya makanya agama kita melarang pacaran karena kalau belum sah sering berdua maka akan banyak godaan, akan cenderung berzina,"
Setya tercekat mendengar kata-kata istrinya, lidahnya kelu, ia ingin berkata jujur, tapi tidak sekarang, tidak sekarang. Ia menarik kancing di d**a istrinya hingga dadanya terbuka dan menciumi d**a Aisyah yang masih berbalut bra.
"Mas, masa di sini, malu, " rengek Aisyah.
"Malu pada siapa, nggak ada orang, hanya kita," tangan Setya mengusap paha Aisyah menyusup masuk ke sela-sela celana dalam Aisyah.
"Maass jangan di sini,"
"Aku ingin di sini," Setya bangkit membuka kaosnya dan celana pendeknya.
Aisyah terlihat takut saat Setya membuka bajunya melewati kepalanya. Matanya bergerak-gerak cepat dan menutup dadanya dengan kedua tangannya lalu menutup rapat-rapat pahanya saat melihat celana dalamnya telah melewati kakinya.
"Maass aku malu, mas kelihatan semua,"
"Aku milikmu, tidak apa kamu lihat semua,"
"Tapi aku mmmpphh,"
Setya kembali menciumi bibir Aisyah dan tangannya membuka pengait bra istrinya, menarik saat terlepas dan menangkup d**a istrinya dengan kedua tangannya, mengusap, meremas, lalu melabuhkan wajahnya di sana, memainkan lidah dan giginya hingga Aisyah berkali-kali menjerit tertahan dan berusaha tidak mengeluarkan suara.
Namun Aisyah kembali mendesis kesakitan saat Setya menyatukan mereka berdua, dan sedikit teralihkan saat Setya kembali mengulum ujung dadanya. Bergerak teratur, menumbuk berulang hingga Aisyah memeluk bahu Setya agar ia tak terguncang terlalu keras.
Setya menarik tungkai Aisyah agar melingkar di pinggangnya dan ia semakin leluasa memanjakan dirinya dan istrinya.
****
Setya memeluk Aisyah berbagi tempat di sofa yang sempit. Mengusap kening istrinya yang masih menyisakan keringat.
"Mas Ais capek, mas nggak capek?"
"Nggak,"
"Ya Allah,"
Terdengar tawa Setya, kembali menangkup d**a istrinya mengusap lalu meremas pelan.
"Mas jangan,"
"Kenapa?"
"Pokoknya jangan, jadi geli semua,"
Setya tertawa dan memeluk dengan gemas tubuh istrinya.
"Terima kasih kau mau menikah denganku, mungkin ini berkah terindah dari Tuhan setelah aku berulang disakiti,"
"Mas, mas yang ganteng gini disakiti, aku memang mendengar cerita dari ibuk, tapi setelah lihat wajah mas, masa sih mas yang ganteng gini dikhianati?"
Setya tersenyum menatap wajah belia nan lugu istrinya lalu menjilati bibir Aisyah dan menggigit dagu istrinya.
"Ck mas,"
"Yang bilang ganteng kan cuman kamu Ais, aku dikhianati mantan istriku, aku melihatnya seperti ini dengan laki-laki lain,"
"Ya Allah mas, kasihan mas Setya, lihat istri mas gak pakai baju dengan laki-laki lain?" Setya mengangguk kembali mengusap pipi istrinya.
"Lalu dibohongi pacar mas, yang kamu cemburui tadi saat dengar namanya,"
Wajah Aisyah bersemu merah dan tersenyum lalu menyusupkan wajahnya ke d**a Setya.
"Dibohongi gimana mas?"
"Dia banyak pacarnya,"
"Oalah mas, ganteng-ganteng kok lebih sering disakiti, Ais janji deh nggak akan nyakitin mas Setya, kasihan sudah tua gini,"
"Apaaa, tuaaa, tenaga mas bisa bikin kamu nggak bisa jalan Ais sayang, bilang tua lagi, ayo!
"Loh kan bener mas, mas kan sudah berusia tiga puluh lima sedang Ais kan baruuu saja dua puluh dua, apa coba namanya, kan tua?"
Setya memandang istrinya dengan gemas, ia bangkit dan sekali gerak ia menggendong Aisyah ke dalam kamar.
"Akan aku tunjukkan bahwa aku memang tua secara usia tapi tidak dengan tenagaku,"
"Ya Allah maaaas, jangan sekarang, kan baru selesai...,"
****