"Ayo kita bercerai baik-baik. Pisah baik-baik tanpa harus saling menyakiti." Bola mata Revan melebar dengan wajah pucat mendengar keinginan pisah istrinya. Rasa teriris di hatinya begitu perih terasa namun apa yang ia dengar bukanlah sebuah candaan Erika untuk mengerjainya. "Aku sudah bilang tidak akan bercerai sama kamu." Balasnya cepat. "Selama beberapa bulan ini kita terus bertengkar meributkan hal yang sama. Mungkin ini jalan terbaik, kita berpisah sampai kamu membereskan masalahmu dengan Juwita." "Iya aku tahu, aku akan selesaikan tapi bukan berarti harus dengan jalan berpisah kan." "Mungkin Juwita ada benarnya. Aku hanya boneka pelampiasan. Kamu hanya terbawa suasana karena kita masih pengantin baru dan melupakan apa tujuan kamu sebenarnya menjadikan aku istri." Revan menggele

