Percakapan Revan dan Juwita “Halo.” “Revan, Sayang. Maaf aku terpaksa ganggu kamu.” Jawab Juwita, suara terdengar serak seperti menahan tangis. “Ada apa, Wita? Apa ada masalah di sana?” Benar saja, Juwita menangis setelahnya. “Aku harus bagaimana, Van. Kenapa sih selalu saja aku yang dibuat menderita karena ulah dia.” Aku mengernyit tidak mengerti meski paham siapa dia yang dimaksud. Juwita tidak suka menyebut nama Erika, itu sebabnya sering mengganti dengan kata dia. “Apalagi yang dia perbuat sampai kamu menangis? Aku akan memberinya pelajaran, selalu saja begini. Apa perlu aku kesana untuk menghibur kamu, Wita? Tolong jangan lagi seperti dulu.” Sengaja bersandiwara meninggikan suaraku lalu memelas seolah begitu mengkhawatirkan dirinya. “Semalam aku ke kafe sama teman-teman kampus

