Bodohnya aku sempat berpikir kejadian semalam juga manisnya sikap Revan padaku adalah sebuah perubahan di kehidupan sekarang. Ternyata semua hanya hembusan kesejukkan ditiap asa dalam hati kecilku berharap Revan benar-benar tulus mencintaiku. Semua bohong, semua hanya ilusi menyenangkan sementara lalu berganti lagi menjadi sama seperti dulu. Revan akan kembali jadi suami kasar, tukang bohong, arogan dan mau menang sendiri. Bodohnya aku lupa kalau Revan hanya menyukaiku bermain panas di atas ranjang saja, selebihnya hanya caci maki yang kurasa. Bodoh, bodoh, bodoh. Aku marah, tidak akan berdiam lagi membiarkan Revan dengan keegoisannya. "Yang, please dengar dulu penjelasan aku. Kamu jangan salah paham kayak gini." "Halah! Kamu sama saja kayak Bruno. Sama-sama berengsek!" Aku menerob

