Butiran Obat

1063 Kata
"Di mana ruangan Kak Rendra?" Ciara bertanya sambil membuang pandangan. Laki-laki dan wanita di depan sana sedang memberikan arahan kepada sekelompok mahasiswa yang akan magang. Tawa renyah dan binar kebahagiaan terlihat jelas di wajah mereka. Ciara merasa iri karena tak bisa melakukan hal yang sama. Entah mengapa keadaan enggan memberikan dukungan. Pertama kali keluar rumah pasca menikah, justru dihadapkan pada sesuatu yang menyinggung lukanya. "Ayo!" ajak Dion, beberapa detik kemudian. Ciara tak menjawab, tetapi kakinya langsung terayun dan mengikuti langkah Dion. Mereka masuk lift dan menuju lantai 4, lalu berhenti di ruang direktur. Ciara langsung duduk di depan Rendra. Menopang dagu sambil menilik setiap jengkal ruangan, hampir keseluruhan berwarna putih. Mungkinkah Rendra menyukai warna putih? Selisih umur yang cukup jauh, membuat Ciara tak akrab dengan Rendra, kendati keluarga mereka bersahabat. Beberapa kali temu, Ciara hanya menatapnya sepintas lalu. Itu sebabnya ia tak banyak tahu tentang suaminya. "Kami berangkat, Ara. Kamu baik-baik ya di rumah. Kalau pekerjaannya sudah selesai, Mama dan Papa akan segera pulang." Ciara menoleh kala mendengar ucapan ibunya, yang disertai sentuhan di pundak. Meski terpaksa, Ciara mengulum senyum, lantas beranjak dan memeluk orang tuanya. "Mama dan Papa hati-hati, ya," ucap Ciara. "Iya, Nak." "Hati-hati ya, Ma, Pa. Maaf, saya tidak turut mengantar," ucap Rendra ketika menyalami mertuanya. "Tidak apa-apa, kami sudah berdua, Ndra. Kamu hati-hati ya di rumah." Dion merangkul Rendra. "Papa titip Ciara," sambungnya dengan bisikan. "Iya, Pa." Tak lama kemudian, Dion dan Ratna berangkat. Ciara dan Rendra mengantarnya hingga ke ambang pintu. Lalu kembali duduk setelah tubuh orang tuanya menjauh. "Sayang, sebentar ya. Ada sedikit pekerjaan yang harus aku selesaikan," kata Rendra. Ia menatap Ciara sekilas, lalu kembali fokus dengan berkas-berkas di hadapannya. "Iya." "Kalau kamu lelah, aku antar ke ruang pribadi. Di sana ada ranjang, jadi kamu bisa berbaring." Rendra bicara sembari menunjuk ruangan yang ada di samping mereka. "Di sini saja tidak mengganggu, 'kan?" Rendra terkekeh, "tentu saja enggak, Sayang. Yang ada aku makin semangat." Ciara tersenyum sekilas, lalu diam hingga beberapa menit lamanya. Berulang kali Rendra menawarkan minuman dan camilan, tetapi Ciara hanya menggeleng. Cukup lama keheningan menyelimuti mereka, sekadar bunyi ketikan keyboard dan embusan napas yang terdengar. Dalam diam Ciara menilik suaminya. Terlihat lelah. Bintik-bintik keringat membasahi wajah, padahal suhu AC cukup dingin kala itu. Lengan kemeja pula digulung asal sampai ke siku, sedangkan jas dibiarkan menyampir disandaran kursi. Aku ke London bukan untuk meninggalkan kamu, tapi mencari bekal untuk masa depan kita. Setelah menikah, cukup aku yang memeras keringat. Aku tidak rela jika kamu turut memikirkan biaya hidup. Lagi-lagi ingatan tentang Rifky muncul tanpa tahu malu. Begitu jauh janji yang ia ucapkan, meski kala itu masih mengenakan seragam putih abu-abu. Sekarang, janji hanya tinggal janji. Tak peduli apa alasannya Rifky hilang kabar, yang jelas hal itu membuat Ciara berkhianat pada cintanya. "Kini, orang lain yang memeras keringat demi aku, dan janji kita kandas seiring waktu yang tak bisa ditebak," batin Ciara. Ia menunduk dan berusaha menutup luka yang lagi-lagi menganga, juga mengerjap cepat guna menahan air mata yang siap berlinang. Sampai akhirnya, sesak di d**a teralihkan oleh ketukan pintu. "Masuk!" kata Rendra dengan intonasi tinggi. Ciara menoleh ke arah pintu dan mendapati sosok perempuan cantik sedang membawa tumpukan berkas. Kendati tubuhnya mungil, tetapi kharismanya amat tinggi. Jauh lebih elegan dibandingkan dengan wanita glamour yang ia temui di Sandya Resto. "Permisi, Pak. Ini proposal yang Bapak minta kemarin. Silakan diperiksa, bila ada yang kurang nanti saya perbaiki." Perempuan itu bicara dengan nada luwes, sangat menyita perhatian Ciara. "Terima kasih," jawab Rendra. "Sama-sama, Pak. Kalau begitu saya permisi dulu." Perempuan itu tersenyum dan menatap Ciara. "Mari, Bu." "Iya." Ciara mengangguk tanpa mengalihkan tatapan. "Sayang, kenapa?" tanya Rendra. Ia merasa heran saat melihat Ciara menilik bawahannya. "Beruntung sekali dia, memiliki kesempatan berkarier," sahut Ciara. "Kamu menginginkannya, Sayang?" Rendra bertanya sambil menatap lekat. "Nggak ada cerita wanita karier lulusan SMA." Ciara menunduk dan menghindari tatapan Rendra. "Kuliah tidak harus lajang, Sayang. Meski___" "Tapi aku hamil," pungkas Ciara. "Tunggu sampai dia lahir. Nanti kuliahlah dan kejar apa yang kamu impikan." Rendra tersenyum dan mengusap pipi istrinya dengan lembut. "Kakak masih lama?" tanya Ciara mengalihkan pembicaraan. Teori Rendra memang terdengar sederhana, tetapi entah praktiknya. Memiliki bayi sambil kuliah pasti tidak mudah, walau dengan bantuan pengasuh. "Kenapa?" "Aku ... lelah. Boleh aku tidur saja?" jawab Ciara. "Ayo kuantar." Rendra beranjak dan menggenggam lengan Ciara. Lantas mengantarnya ke ruangan pribadi. "Eiffel," gumam Ciara ketika pintu ruangan terbuka lebar. Matanya menatap miniatur Menara Eiffel warna perak. Sangat indah. "Iya, itu kudapatkan waktu kuliah di Paris. Kamu suka?" tanya Rendra. "Dari sekian banyak negara, Perancis yang paling ingin aku kunjungi. Terkadang ... aku berkhayal memiliki tempat tinggal di sekitar menara. Konyol ya," ujar Ciara diiringi senyuman tipis. "Itu hal wajar, aku pun sering berkhayal. Oh ya, nanti kita bawa saja miniaturnya. Dipajang di kamar." "Terima kasih." Ciara melebarkan senyuman. "Iya." Rendra tersenyum sambil mengusap lengan Ciara. "Mmm, kalau hari ini agak telat nggak apa-apa 'kan? Mungkin ... lepas senja baru selesai," sambungnya. "Nggak apa-apa." Kemudian Rendra mencium kening Ciara sekilas, lalu kembali ke kursinya. Ia tak langsung bekerja, melainkan menatap ke arah pintu terlebih dahulu. "Arsitek dan Paris. Semoga aku bisa mewujudkan impianmu, Ara," gumam Rendra. Sementara itu, Ciara menutup pintu dan duduk di tepi ranjang. Memandangi miniatur yang berdiri tegak di atas nakas. Sesekali ia mengusapnya, sambil bermimpi suatu hari bisa berpijak di negara itu. Puas memandangi miniatur, Ciara merebahkan tubuhnya. Menatap langit-langit kamar yang lagi-lagi berwarna putih. "Mungkin ... Kak Rendra memang menyukai warna putih," ujar Ciara. Lantas ia memejam dan menikmati aroma cherry blossom yang memenuhi ruangan. Cukup lama Ciara bertahan di posisi itu, hampir satu jam. Namun bukannya rasa kantuk, justru rasa penasaran yang mengusiknya. Ruangan itu adalah ranah pribadi Rendra sedari mereka belum menjalin hubungan. Ciara ingin tahu seperti apa isinya. Ciara bangkit dan kembali memandangi nakas. Tak ada apa-apa di sana. Sekadar miniatur menara dan foto dirinya. Lalu ia melirik ke sana kemari, dan perhatiannya tertuju pada almari di sudut ruangan. Tanpa pikir panjang, Ciara beranjak dan medekati almari itu. Tidak dikunci. Lalu Ciara membukanya dan mendapati beberapa helai pakaian tertata rapi di sana. Ciara terus meneliti dan tak sengaja menatap botol kecil terselip di antara kemeja. Ciara meraihnya dan kemudian mengerutkan kening. Botol kecil itu terbuat dari kaca, isinya butiran obat berwarna putih. Ciara memutarnya, tetapi tak menemukan tulisan atau gambar apa pun. Apa gerangan? "Mungkinkah Kak Rendra pemakai?" batin Ciara dengan jantung yang tiba-tiba berdetak cepat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN