"Sayang!"
Ciara tersentak dan spontan mengembalikan botol ke tempat semula. Dengan gerakan kilat ia menutup almari dan kembali berbaring di ranjang.
"Sayang!" Rendra kembali memanggil, kali ini sambil membuka pintu.
"Aku ... aku ... barusan tidur," ujar Ciara dengan gugup.
"Apa aku mengganggu?" Rendra bertanya sambil duduk di tepi ranjang. Menatap Ciara lekat sembari membelai pipinya.
"Tidak, tentu saja tidak." Ciara menggeleng cepat. "Apa ... sudah selesai?" sambungnya mengalihkan pembicaraan.
"Sudah. Apa kita berangkat sekarang?" Rendra balik bertanya.
"Terserah Kak Rendra. Kalau masih capek, istirahatlah dulu," jawab Ciara.
"Aku nggak capek, Sayang. Tapi mau ganti baju sebentar. Kamu ... menunggu di sini atau di luar?" tanya Rendra masih dengan nada lembut.
"Aku tunggu di luar saja, tiba-tiba ... kepengin cemilan yang tadi," dusta Ciara.
Sejauh ini ia belum pernah melihat Rendra ganti baju, rasanya masih risih. Itu sebabnya ia memilih keluar. Rendra pula tak mempermasalahkan alasan istrinya. Meskipun ia tahu Ciara berbohong, tetapi ia pura-pura percaya.
Setelah Ciara keluar, Rendra berjalan menuju almarinya. Meraih botol kaca dan mengambil isinya. Lantas meminumnya dengan sekali teguk.
"Maafkan aku, Ara." Rendra berbisik sembari memegangi pelipisnya.
_____________
Musik Melayu terus mengalun merdu. Menemani perjalanan Rendra dan Ciara yang hampir satu jam. Meskipun musik Melayu adalah salah satu favoritnya, tetapi kali ini Ciara memilih mengabaikan. Ada banyak kemelut yang bersarang di pikiran, salah satunya adalah botol kaca yang ada di almari Rendra.
Walau rasa cinta belum tentu ada, tetapi Ciara amat takut bila Rendra terjebak benda terlarang. Bagaimanapun juga, Rendra adalah suaminya. Jika ada sesuatu yang menimpanya, Ciara pun akan terkena imbas. Rasanya gatal sekali untuk bertanya, tetapi Ciara berusaha menahan. Tak ingin tindakan lancangnya diketahui sang suami.
"Sayang, kita makan dulu, ya," ujar Rendra.
"Boleh," jawab Ciara tanpa menoleh. Ia terus menunduk dan menatap tautan tangan di pangkuan.
"Sayang, kamu kenapa?" Rendra menatap sekilas. "Tadi tersenyum saat membicarakan Kota Paris, kenapa sekarang murung begini?" sambungnya dalam hati.
"Aku tidak apa-apa," jawab Ciara.
"Syukurlah. Kalau misalkan ada apa-apa, bilang ya. Murung terus kasihan lesungnya, nggak ada kesempatan tampil," gurau Rendra.
Ciara tak manjawab, sekadar bergumam pelan. Lantas suasana kembali hening sampai tiba di depan restoran.
Jajaran mobil mewah dan lalu lalang orang berpakaian formal menyambut mereka, juga desain eksterior yang tampak mewah dan elegan. Terlihat nyata bahwa tempat itu adalah restoran bintang lima.
Ciara membuka pintu mobil dan melangkah turun. Tak lupa ia sambar tas selempang yang berwarna senada dengan gaunnya.
Rendra pun turut turun. Lantas menggandeng tangan Ciara dan mengajaknya masuk ke restoran. Banyak pasang mata yang mengikuti langkah mereka. Paras ayu Ciara terlihat nyata, walau hanya dipoles mekap tipis. Begitu pun dengan Rendra, wajah rupawannya mengundang kekaguman para kaum hawa.
Rendra dan Ciara duduk di meja paling sudut. Menunggu pesanan sambil sesekali berbincang. Meski tak hangat, tetapi Rendra terus berusaha mencairkan suasana.
"Dulu ... Kak Rendra sering lembur, ya?" Untuk pertama kalinya Ciara berinisiatif bertanya.
"Lumayan. Kadang kalau lemburnya sampai larut, aku biasa nginap di kantor. Di ruangan tadi," terang Rendra.
"Kak Rendra nggak capek lembur terus?" pancing Ciara, sungguh ingin tahu obat apa yang ia temukan.
"Kadang capek, tapi ... mau gimana lagi. Pekerjaannya nggak bisa ditunda," jawab Rendra diiringi senyuman lebar.
"Sering memaksakan pekerjaan ... apa itu nggak bikin sakit?" Ciara memberanikan diri menatap Rendra. Hendak mengulik kejujuran dari apa pun yang suaminya lontarkan.
"Sakit?" Rendra menegang sesaat. "Tidak, tentu saja tidak. Aku sangat baik-baik saja. Tubuhku cukup kuat, lembur ... bukan masalah bagiku," sambungnya dengan gugup.
Ciara kesulitan menelan ludah. Ia seakan yakin dengan prasangka buruknya. Rendra berkali-kali menegaskan bahwa dirinya baik-baik saja, juga sikap dan nada suaranya yang menyiratkan kegugupan. Mungkinkah itu benar benda terlarang?
"Katanya, obat itu bisa menghilangkan rasa kantuk, lelah dan lapar. Apakah Kak Rendra mengonsumsi itu untuk menopang tenaganya? Kenapa? Tidak bekerja keras pun tak akan membuatnya miskin, lalu kenapa menjebak diri dalam hal salah, hanya demi pekerjaan?" batin Ciara.
"Sayang, kenapa?" tanya Rendra.
"Tidak apa-apa." Ciara menggeleng. "Aku ... tidak menuntut banyak darimu, Kak. Tidak perlu bekerja terlalu keras. Aku tidak suka foya-foya, apalagi kemewahan yang berlebihan. Jaga kesehatan saja, jangan terlalu memaksakan diri," sambungnya.
"Apa maksudmu, Ara?" Rendra menilik istrinya. Lalu mengunci tatapannya hingga Ciara tak bisa berpaling barang sekejap.
"Tidak ada, aku hanya___"
"Kamu menyembunyikan sesuatu dariku?" pungkas Rendra.
"Sesuatu ... mmm tidak, tentu tidak. Aku tidak punya rahasia apa-apa. Apa pun yang ada padaku, kamu sudah tahu, Kak." Ciara berusaha tersenyum, walau sebenarnya terbelenggu rasa gugup dan takut.
Rendra mengusap wajahnya dan tersenyum sekilas. Lalu membuang pandangan sembari mengembuskan napas kasar. Seolah Rendra-lah yang menyembunyikam sesuatu.
"Kak Rendra ... kenapa?" tanya Ciara dengan pelan, nyaris seperti bisikan.
Belum sempat Rendra menjawab, tiba-tiba pelayan datang mengantarkan pesanan. Rendra langsung mempersilakan Ciara menikmati makanannya, seakan tak ada pertanyaan yang membutuhkan jawaban. Ciara pun tak mempermasalahkan hal itu. Ia berusaha paham bahwa Rendra punya kesulitannya sendiri. Lalu keduanya terdiam. Tak ada kata, sekadar denting sendok dan samar-samar derap langkah yang terdengar. Keduanya tak hanya fokus pada makanan masing-masing, tetapi juga pada pikiran yang bersimpangan.
"Maafkan aku, Ara, tak bisa mengatakan apa pun padamu. Cukup bersamaku dan aku akan keluar dari kesulitan ini sendiri. Kamu cukup tahu bahwa aku baik-baik saja," batin Rendra.
"Meski tidak mencintaimu, tapi aku hidup bersamamu. Tak peduli bagaimana akhir pernikahan kita nanti, tapi aku berharap Kak Rendra senantiasa baik-baik saja. Kak Rendra sudah menolongku, sekarang ... biar aku yang menolongnya lepas dari benda itu. Aku tak mau Kak Rendra berurusan dengan hukum, hanya karena mengonsumsi sesuatu yang salah." Ciara membatin sambil sesekali melirik Rendra.
Usai menyantap hidangan, keduanya beranjak dan membayar tagihan. Lantas melangkah pergi dan meninggalkan restoran. Kali ini, Rendra tak menggenggam tangan Ciara. Perbincangan pun sepatah-dua patah belaka. Kecanggungan terbentang nyata di antara keduanya.
"Ara."
Panggilan seseorang menyita perhatian Ciara, membuatnya mendongak dan menatap ke sumber suara. Kala itu, ia sudah berada di halaman restoran.
Ciara gemetaran, ketika mendapati sosok lelaki berdiri tepat di hadapannya. Tatapan yang lelaki itu berikan, laksana belati yang mengulitinya hidup-hidup. Sangat menyakitkan. Lantas Ciara melangkah mundur dan merapatkan tubuhnya di badan mobil.
"Ara," lelaki itu kembali memanggil.
Namun, Ciara tak menjawab, lidahnya kelu seketika. Justru mengalihkan pandangan dan berusaha menenangkan diri yang makin tak terkendali.
"Sayang, kamu kenapa?" Rendra merangkul tubuh Ciara dan memberikan perlindungan penuh.
Namun, tak lantas membuat Ciara tenang, justru rasa takutnya melebihi batas normal.