Ijab Ulang

1115 Kata

Ciara terus menatap, sedangkan Rendra justru menunduk. Sulit merangkai kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan Ciara. Jujur tidak mungkin, tetapi mencari alasan juga terlalu rumit, karena Ciara tidak mungkin berhenti begitu saja. Pertanyaan lain pasti akan bermunculan ketika dirinya melontarkan jawaban. "Dulu aku pernah berpikir___" Ciara membenarkan selimut yang sedikit merosot. "___itu adalah obat terlarang, semacam sabu. Tapi ... sepertinya bukan. Kak, beri tahu aku itu obat apa." "Sabu? Pikirannu terlalu jauh, Sayang." Rendra terkekeh. "Lalu?" Ciara masih serius. "Itu hanya obat masuk angin. Sudah kubilang 'kan, aku nggak tahan dingin. Jadi ... aku selalu sedia obat itu," jawab Rendra sedikit gugup. Entah alasannya masuk akal atau tidak, tetapi hanya itu yang ada dalam otaknya sa

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN