14. Jealous?

824 Kata
    LOUIS mendengus kesal saat melihat Hilary tengah berada di ambang pintu sambil menatapinya sensual. Wanita itu memakai baju pendek yang memperlihatkan kaki jenjangnya. Dan tak tanggung-tanggung, Hilary juga memakai baju yang sangat mengekspos bagian atas tubuhnya. Ia berjalan dengan pelan ke arah Louis dan mengalungkan tangannya pada leher Louis. Louis yang terkejut dengan perlakuan Hilary yang tiba-tiba refleks mendorong wanita itu sampai-sampai Hilary tersungkur ke bawah. "Aduhh," ringis Hilary saat kakinya menabrak lantai dengan tragis. Louis menaikkan alisnya ketika melihat Hilary jatuh, ia sama sekali tak ada niatan untuk menolong Hilary ataupun membantunya berdiri. Wanita itu mengerutu dan berdiri dari tempatnya, ia menatapi Louis kesal dan berjalan cepat ke arahnya. Hilary menarik dasi Louis dan mencium bibirnya dengan paksa. Louis membelakan matanya dan berusaha mendorong Hilary, namun rambutnya malah di jambak oleh Hilary sampai-sampai ia meringis kesal. Hilary mengerahkan semua tenaganya untuk menahan posisi ini. Lidahnya mencari cela untuk masuk, namun sayang Louis mengatupkan bibirnya kencang sampai-sampai tak ada tempat yang tersisa bagi Hilary. Louis menggeram marah dan mendorong Hilary kasar, sampai ciuman mereka terlepas. Hilary menatap Louis tak percaya sekaligus marah karena telah mendorongnya. "Kenapa kau mendorongku? Aku ini istrimu!! Aku berhak atas kau!" teriak Hilary marah. Emosinya memuncak tiba-tiba. Entah kenapa semua emosi atas penolakkan Louis padanya meledak hari ini dan Hilary tak perduli lagi, yang pasti ia mau menjadikan Louis miliknya, seutuhnya. Louis mengusap bibirnya kasar sambil menatap Hilary jijik, "Kau tahu apa? Barusan kau bertindak seperti p*****r," ucap Louis kesal. Ia berdiri dari tempatnya dan keluar dari ruangan sambil membanting pintu dengan keras. Sedangkan Hilary hanya bisa terdiam, menatapi kepergian Louis. Ia tak akan menyerah begitu saja tentunya, masih banyak cara agar ia bisa menjadikan Louis miliknya seutuhnya.   *****   Evelyn hari ini izin pulang dari kantor lebih awal karena alasan sakit, meski sebenarnya ia sangat sehat. Tadi Louis meneleponnya untuk izin dan ternyata izinnya di kabulkan. Evelyn tak tahu apa yang mau Louis lakukan, yang pasti ia sama sekali tak mengerti jalan pikir Louis yang sering bertindak seenaknya dan suka memaksa. Sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan Evelyn, membuat gadis itu bertanya-tanya. Dan kaca mobilpun terbuka tak lama kemudian, menampilkan seorang lelaki tampan dengan senyum menawannya tengah menatapi Evelyn. "Masuklah," ucap Louis sambil tersenyum manis. Evelyn mengangguk dan masuk ke dalam mobil. Di dalam mobil, Louis memakaikan safety belt untuk Evelyn dan Evelyn sempat menahan napasnya saat menyadari kalau posisi wajah mereka sangat dekat. "Kita mau kemana?" tanya Evelyn saat Louis sudah selesai memasangkan safety beltnya. Louis tersenyum miring dan menatapi Evelyn lekat, "Ke tempat spesial, untuk kita," ucap Louis misterius. Evelyn mengernyit tak mengerti, namun ia memutuskan untuk bungkam karena tampaknya Louis tak mau lagi menjelaskan lebih jauh. Mobil menjadi hening beberapa saat karena tak ada yang memulai percakapan. Louis menolehkan kepalanya ke arah Evelyn dan menatapinya. "Hari ini Hilary menciumku." Evelyn tersentak saat mendengar perkataan Louis. Entah kenapa ada rasa sesak saat mendengarnya. Tidak, bukan hanya itu. Evelyn tidak hanya merasa sesak, tapi dia merasa ... marah? "Ia menarikku paksa dan menciumku dengan ganas," ucap Louis lagi. Evelyn menekan kukunya, menahan perasaan aneh yang mulai menjalar di hatinya. Hatinya serasa di cubit saat mendengar Hilary mencium Louis, meski sebenarnya memang Hilary berhak untuk menciumnya karena Louis adalah suaminya. Tapi justru hal itu yang membuat Evelyn semakin merasa marah. Hilary berhak mencium Louis sedangkan Evelyn tidak. Hilary adalah istri sah Louis sedangkan Evelyn bukan siapa-siapa, setidaknya untuk saat ini. "Apa kau ... marah?" tanya Louis ragu. Ia sebenarnya sengaja menceritakan hal ini pada Evelyn. Ia ingin melihat bagaimana respons Evelyn. Meski dalam lubuk hati Louis yang sebenarnya, ia hanya ingin melihat Evelyn cemburu. Evelyn menoleh sambil tersenyum palsu. Ia sering menggunakan senyum ini di saat-saat penting dalam hidupnya. Saat Papanya meninggal contohnya. "Aku tak marah ... memangnya aku siapa?" ucap Evelyn lalu memalingkan wajahnya secepat mungkin. Louis mengigit bibir bawahnya sambil menahan tawa yang hampir meledak ketika melihat ekspresi Evelyn yang menahan marah itu. Gadis itu sangat lucu, sampai-sampai Louis merasa ingin memakannya sekarang juga. "Kau tak marah? Benarkah?" ulang Louis lagi. Evelyn mengangguk, meski tak menatap ke arah Louis. Ia tak tahan dengan tatapan lelaki itu yang terlihat sangat mempesona. Evelyn pasti sudah gila. Bagaimana mungkin tatapan Louis saja bisa membuatnya berdebar dan segugup ini? "Aku kecewa ... padahal aku harap kau marah padaku. Apalagi tadi aku sempat membalas ciuman Hilary." Evelyn langsung menolehkan kepalanya tepat setelah Louis menyelesaikan perkataannya. Ia menatapi lelaki itu dengan pandangan tak percaya. Situasi ini terasa sangat aneh, karena Evelyn merasa Louis menyelingkuhinya. Padahal kenyataannya, Evelynlah yang menjadi selingkuhan Louis. "Kau membalasnya?" Louis mengangguk, "Ya, aku tak pernah berciuman dengan Hilary sebelumnya dan ternyata dia tak buruk juga," ucap Louis lagi. Evelyn merasa air matanya hampir turun saat mendengar penjelasan Louis. Ia kesal sekali. Ia kesal dan tak bisa mengungkapkannya, jadinya air matanyalah yang ingin mewakili dirinya. Evelyn memalingkan wajahnya dan menatapi ke arah kaca. Ia memutuskan untuk diam sepanjang perjalanan daripada mendengar cerita Louis yang mungkin akan menyakiti hatinya, lagi.   *****                    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN