13. Something I won't tell you

895 Kata
HILARY menghembuskan napas dengan berat dan memoleskan make up ke wajahnya yang terlihat kusam. Sudah berapa hari ini Louis tak menghubunginya, bahkan pulang saja tidak. Lelaki itu seakan tidak menganggap Hilary ada dan terus-terusan sibuk dengan pekerjaannya sendiri. Jadi Hilary sudah memutuskan untuk mendatangi kantor Louis. Ia harus memastikan kalau Louis tidak berselingkuh dan memang bekerja di kantornya. Ia memoles lipstick merah maroonnya dengan tebal dan tersenyum palsu, karena sebenarnya ia sama sekali tak senang dengan perlakuan Louis ini. Siapa yang senang ketika ia tidak dianggap oleh orang yang ia cintai? Menyedihkan. Ia berdiri dan menggamit tasnya dan kemudian pergi menuju kantor Louis.   *****   Evelyn tengah melamun di tempatnya sambil membayangkan hari pernikahannya yang berlangsung 3 hari lagi. Ia menghembuskan napas berat mengingat janji Louis yang katanya mau melamarnya, tapi sampai sekarang tidak ada tanda-tanda kalau lelaki itu akan menepati janjinya. "Ev," panggil seseorang dengan suara berat di belakang Evelyn. Evelyn sedikit tersentak karena terkejut, kemudian ia menolehkan kepalanya dan mendapati Bimo tengah menatapinya. "Apa?" tanya Evelyn tak enak. Sebenarnya ia belakangan ini menjauhi Bimo lantaran Louis bilang ia tak boleh dekat dengan lelaki manapun. "Gue ... cuma mau nanya kenapa lo jauhin gue?" ucap Bimo ragu. Ia mengusap lehernya dan menatapi gadis cantik di depannya ini dengan lekat. "Gue ga jauhin lo kok ... Bim," ucap Evelyn yang tentu saja berbohong. Bimo menghela napas pelan, "Jujur sama gue Ev, lo lagi dalam masalah ya?" Evelyn menggeleng pelan, "Enggak Bim, bukan gitu.. gue c*m---" ucap Evelyn terpotong. "LAGI NGOMONGIN APA?" teriak Rani yang memotong ucapan Evelyn. Bimo mendengus kesal karena tak sempat mendengar alasan Evelyn menjauhinya. Ia tak mengerti, apa salahnya sampai Evelyn tak mau berada di dekatnya lagi? "Gak ngomongin apa-apa," elak Evelyn. Rani menaikkan alisnya sebelah dan menatapi kedua insan di depannya secara bergantian, "Kalian ngomongin anak Presidir yang seminggu lagi bakal gantiin posisi presdir ya?" Bimo berdehem pelan lalu menatapi Rani serius, "Kenapa lo antusias banget sih sama anak presdir?" Rani menyengir lebar menampilkan gigi-gigi putihnya yang tersusun rapi, "Kok kenapa? Ya jelas gue seneng. Gue pengen banget jodohin tu orang sama Ev," jelas Rani yang membuat Evelyn melotot. "Hah? Kok sama gue?" ucap Evelyn bingung. "Kan gue sudah bilang sama lo kemarin, siapa tahu dia bisa bantu lunasin biaya pengobatan buat Mama lo, Ev," cerocos Rani dengan lancar, tanpa memperdulikan Evelyn yang panik karena ucapannya. "Mama lo belum sembuh?" tanya Bimo pelan yang membuat Rani terkejut dan segera menutup mulutnya dan memandangi Ev penuh rasa bersalah. Ia sama sekali tak ingat mengenai Bimo karena selama ini mereka bertiga biasanya selalu membagi rahasia bersama. "B-belum Bim," ucap Evelyn tergagap. Bimo memajukan langkahnya dan menyentuh pundak Evelyn, "Emangnya mama lo sakit apa? Parah ya?" tanya Bimo ragu. Evelyn menghela napas berat. Tampaknya ia harus menceritakan semuanya pada Bimo. "Mama gue … kena leukimia," ucap Evelyn sambil menunduk. "Kemarin ... dia sempet pingsan dan pas dokter periksa ... ternyata dia harus segera di operasi," jelas Evelyn lagi. Bimo merasa napasnya tertahan saat mendengar cerita Evelyn. Entah kenapa, rasanya hatinya sakit. Evelyn sama sekali tak mau membagi bebannya pada Bimo, Evelyn sama sekali tak mau menceritakan keluh kesahnya pada Bimo. Apa Evelyn sama sekali tak percaya padanya? "Maaf... Bim, gue gak mau ngebebani lo dengan masalah gue. Jadinya gue gak pernah cerita," ucap Evelyn yang masih menunduk. Bimo menghela napas pelan dan mengelus puncak kepala Evelyn. Hatinya luluh seketika ketika tahu Evelyn mengkhawatirkannya sampai-sampai tak mau membebaninya. Evelyn mendongak ketika tangan Bimo menyentuh rambutnya. Ia menatapi lelaki itu dengan rasa bersalah, "Maaf ya," ucap Evelyn lagi. Bimo menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, "Gue gak marah sama lo ... tapi gue sempet kecewa," jelas Bimo yang membuat mata Evelyn membelak. "Tapi gue gak bisa nyalahin lo sih, itu kan pilihan lo, mungkin lo memang gak percaya sama gue karena itu lo gak cerita," sambung Bimo. Evelyn menggeleng dengan panik dan memegang tangan Bimo, "Bukan! Enggak gitu Bim, gue---" Bimo terkekeh melihat Evelyn yang panik, ia memajukan wajahnya mendekati wajah Evelyn sampai-sampai wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. Ia mencubit pipi Evelyn pelan dan menatapi matanya lekat. "Gue bercanda kok," ucap Bimo sambil tersenyum di depan Evelyn. Evelyn meneguk salivanya dengan susah payah ketika melihat senyum Bimo. Dan jujur saja, ia barusan terpesona sampai-sampai tubuhnya membeku di tempat. Rani berdecak melihat kejadian di depannya dan menarik baju Bimo keras sampai-sampai lelaki itu tertarik ke belakang dan kehilangan keseimbangannya. "Heh! Jangan godain Ev, dia punya anak presdir," ucap Rani sambil menatapi Bimo serius. Evelyn menyikut pinggang Rani pelan, "Sembarangan.” Bimo terkekeh pelan, kemudian menatapi kedua gadis di depannya ini dengan serius, "Lo mau tau berita penting gak?" Evelyn dan Rani sama-sama penasaran karena Bimo menampilkan raut wajah serius yang sangat jarang terlihat. "Apa?" ucap Rani sambil mendekati Bimo. Evelyn yang juga merasa penasaran ikut mendekat ke arah Bimo seperti yang Rani lakukan. Bimo tersenyum miring saat kedua wanita itu sudah berada di depannya, ia mencondongkan wajahnya dan berbisik pelan. "Gue ... anak Presidir," ucap Bimo pelan. Evelyn dan Rani membeku di tempatnya selama beberapa detik sampai akhirnya baru merespons. Rani memukul punggung Bimo keras karena menganggap Bimo mempermainkannya. "Sialan lo. Gue pikir lo serius," ucap Rani kesal. Bimo meringis pelan, "Gue serius kok," ucapnya lagi, namun yang ia dapat hanya pukulan yang lebih keras dari Rani sehingga ia tak lagi berniat berbicara. Evelyn terkekeh melihat tingkah Rani dan Bimo. Ia senang, punya sahabat seperti mereka di sampingnya.   *****                                        
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN