12. New apartement, again

931 Kata
EVELYN masuk ke dalam apartment mewah yang membuatnya sukses mengangga lebar. Seumur-umur hidup Evelyn, baru kali ini ia datang ke tempat yang semewah ini, apa lagi ia akan meninggali apartment ini kedepannya!  Evelyn meneguk liurnya dan mulai menjelajahi apartment mewah yang sudah Louis belikan untuknya. Evelyn berjalan pelan ke arah kamar dan matanya membulat sempurna saat melihat pemandangan di kamarnya yang begitu indah. Ia berjalan dan melompat ke atas kasurnya dan tersenyum senang saat menyadari kalau kasur ini sangat empuk dan nyaman. Ia memeluki bantal guling itu dan memejamkan matanya. Dan tanpa Evelyn sadari, ia tertidur di ranjang itu.   *****   Louis mengernyit saat masuk ke dalam apartment yang baru ia beli untuk Evelyn. Ia yakin gadis itu sudah kesini karena Louis menemukan kopernya di depan tadi. Tapi gadis itu tak tampak dimana-mana dan tidak ada tanda-tanda kehadirannya sama sekali. Louis berjalan pelan menyelusuri semua tempat di apartment luas ini. Dan setelah sekian lama mencari, akhirnya ia baru mengingat kalau ia belum memeriksa kamarnya. Louis membuka knop pintu dengan perlahan dan masuk. Ia tersenyum hangat saat melihat Evelyn tengah tertidur pulas di ranjang. Ia merapikan beberapa anak rambut dan mengecup dahi wanita itu pelan. Wanita di depannya ini sudah mengubah Louis meski sedikit. Dengannya, Louis bisa tertawa lepas. Dengannya, Louis bisa merasakan hasrat yang belum pernah sebesar ini sebelumnya. Dengannya, Louis bisa merasakan apa cemburu. Dan Louis sudah berjanji di dalam hatinya untuk menjadikan Evelyn miliknya, meski ia harus mempertaruhkan segalanya.   *****   Evelyn terbangun dari tidurnya dan menatapi langit-langit yang asing. Ia berdiri dan tersentak saat menyadari kalau ia berada di apartment baru. Gorden sudah di tutup, lampu di hidupkan dan badannya sudah di selimuti. Evelyn refleks tersenyum saat menyadari kalau semua ini adalah perbuatan Louis. Ia bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan keluar. Evelyn bisa mencium wangi daging yang menyeruak dari dapur. Wangi yang sungguh enak. Ia berjalan mengikuti aroma itu dan menemukan seorang lelaki sexy tengah memasak dengan celemek yang melekat di badannya. Evelyn meneguk liurnya dengan susah payah melihat penampilan Louis yang super ... hot. "Kau bisa memasak?" tanya Evelyn canggung, sambil duduk di meja makan. Ia masih memperhatikan Louis dari tempatnya. Louis menoleh dan tersenyum ke arah Evelyn, "Tentu saja bisa. Masak adalah hobiku, hanya saja ini pertama kalinya aku memasak untuk seseorang," ucap Louis dengan nada lembut. Evelyn tertegun melihat lengkungan senyum di bibir Louis. Sialan, lelaki di depannya ini sangat mempesona, rasanya Evelyn sudah tak lagi polos kalau berada dekat-dekat dengannya. "Kenapa tak pernah memasak untuk orang lain?" tanya Evelyn lagi sambil berusaha menutupi kegugupannya. Louis mengangkat kedua piring yang sudah ia isi dengan spaghetti masakannya dan membawanya ke depan Evelyn. Ia tersenyum saat melihat wajah Evelyn yang tampak senang dengan aroma masakkannya. "Karena aku hanya memasak untuk orang-orang spesial," ucap Louis sambil menatapi Evelyn intens. Evelyn hampir saja tersedak air minumnya saat menyadari ada nada sensual di perkataan Louis. Ia menatapi lelaki di depannya ini dengan seksama. "Benarkah? Lantas mengapa aku spesial untukmu?" Louis mengusap dagunya binggung. Ia sama sekali tak tahu jawaban atas pertanyaan Evelyn. Ia tak pernah bisa menemukannya tepatnya. Entah apa yang membuat Louis begitu terobsesi dengan Evelyn. "Aku tak tahu ... yang pasti kau spesial dan kau adalah milikku," ucap Louis lagi, posesif. "Oke baiklah. Lalu bagaimana dengan pernikahan?" ucap Evelyn berusaha mengalihkan topik karena ia tak tahan. Louis terkekeh, "Aku sebenarnya ingin melakukan pesta pernikahan besar-besaran denganmu, hanya saja itu tak mungkin. Jadi apa kau keberatan jika aku hanya mengundang Erick sebagai saksi ku?" tanya Louis. Evelyn menggeleng, "Tentu saja tidak. Aku tak pernah mengharapkan apapun darimu." Louis mendengus mendengar perkataan Evelyn. Seandainya saja ia belum menikah dengan Hilary, maka ia akan merayakan pesta pernikahan mereka selama satu minggu di Paris dengan beberapa keluarga dekat. Hanya saja ... hal itu sudah tak mungkin lagi sekarang. "Kau mau di lamar dengan cara apa?" tanya Louis dengan raut wajah serius yang mau tak mau membuat Evelyn merasa geli. "Bagaimana bisa kau bertanya begitu padaku?" balas Evelyn dengan senyum yang masih melekat di bibirnya. Louis terpana saat melihat Evelyn tersenyum. s**t, ia terus-terusan terpesona dan terdiam seperti orang bodoh jika sudah berhadapan dengan Evelyn. "Lalu aku harus bagaimana? Setidaknya aku harus melamarmu dengan baik karena kita tidak melakukan pesta pernikahan," ucap Louis saat sudah berhasil mengendalikan dirinya. Evelyn berpikir sejenak saat mendengar perkataan Louis. Sebenarnya, Evelyn selalu bermimpi untuk di lamar di pantai saat malam hari. Ia ingin melihat ombak dan menatapi bintang sambil di temani oleh alunan musik. Dan disanalah ia ingin di lamar. Ia ingin ombak dan bintang menjadi saksi hidupnya. Evelyn tersenyum dan menceritakan keinginanya pada Louis, meski ia tak yakin sih kalau orang seperti Louis mau melakukan apa yang Evelyn minta. Louis tampak terdiam sejenak sebelum mengangguk, "Baiklah," ucap Louis enteng dan itu menbuat Evelyn terkejut. "Apa? Kau setuju?" ucapnya tak percaya. Louis mengangguk, "Tentu saja. Permintaanmu sangat sederhana. Kau tak tahu bagaimana repotnya aku ketika melamar Hilary. Gadis itu meminta baju keluaran designer Alena Heilton yang terbaru. Sayangnya baju itu hanya ada satu di dunia, dan baju itu waktu itu sudah di beli. Jadilah aku harus bertawar menawar dengan pembelinya," ucap Louis menjelaskan. Evelyn terkekeh mendengar cerita Louis. Ia bisa membayangkan betapa kesalnya wajah Louis saat bertawar menawar dengan orang itu. "Aku sama sekali tak memerlukan baju keluaran designer. Yang aku perlukan adalah kesembuhan Mamaku," ucap Evelyn sedih saat tiba-tiba teringat mamanya. Louis mendengus dan mengelus tangan Evelyn pelan, "Mamamu sudah mulai di rawat dengan baik di salah satu rumah sakit ternama, jadi kau jangan terlalu khawatir ya," ucap Louis menenangkan. Evelyn mengangguk pelan, "Ya. Aku harap dia akan baik-baik saja." Louis ikut mengangguk, "Semoga saja begitu."   *****                    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN