EVELYN berjalan dengan ragu menuju ruang khusus Louis yang berada di lantai dua Club Clark. Sebenarnya, ia sama sekali tak yakin dengan keputusan yang ia buat ini. Tapi keadaan terus mendesaknya untuk mendapat uang dan Evelyn tak punya pilihan lain selain menjual jiwanya.
Tangan kecil Evelyn mengetuk pintu itu dengan pelan. Sekarang club belum buka, Evelyn sengaja datang jauh lebih awal untuk bertemu dengan Louis.
Tok tok
Evelyn meneguk salivanya pelan dan berusaha menenangkan diri. Lalu tak lama kemudian, ia mendengar suara berat khas lelaki itu dari dalam ruangan.
"Masuk," ucapnya dengan singkat padat jelas.
Evelyn membuka knop pintu itu dan masuk dengan perlahan. Napasnya tercekat saat matanya kembali bertemu dengan mata biru milik lelaki itu.
"Wah, kau merindukan ciumanku ya sampai-sampai kau bisa kesini?" ucap Louis sambil menyeringai senang.
Evelyn memundurkan langkahnya refleks saat lelaki itu mulai berdiri dan berjalan mendekatinya.
"A-apa penawaran anda masih berlaku, Pak?" tanya Evelyn gugup, ia menundukan kepalanya ketika mata biru itu kembali menatapinya dengan intens.
Louis terkekeh mendengar perkataan Evelyn. Ia memang lelaki yang beruntung. Rencananya berhasil dengan baik tanpa ada cela sedikitpun.
Ia tersenyum dan menganggkat dagu Evelyn dengan tangannya sehingga ia bisa melihat manik mata gadis itu. Dan Louis kembali terpana. Gadis itu begitu cantik. Ia tak tahu bagian mana persisnya, yang pasti semua bagian wajahnya hidup bersama dengan harmonis sampai-sampai wajahnya bisa secantik ini.
Mata Louis beralih pada bibir pink merona itu. Ia meneguk salivanya dan memajukan wajahnya untuk mengecup bibir itu.
Evelyn membelak dan menggepalkan tangannya ketika merasakan sentuhan hangat dari bibir Louis. Tapi lagi-lagi badannya tidak menolak perlakuan spontan ini. Ia hanya memejamkan matanya dan pasrah dengan perlakuan Louis.
Lelaki itu tersenyum tipis saat menyadari tak ada perlawanan dari Evelyn, ia memutuskan untuk mendekap wanita itu erat dan melepaskan kecupannya.
"Aku senang ... kau menerima tawaranku," ucap Louis sambil tersenyum. Ia bisa mencium wangi stroberi dari rambut Evelyn. Ia sangat menyukai aroma ini.
Evelyn nyaman dengan pelukan Louis yang terasa hangat. Badannya sangat kecil di banding dengan lelaki ini, dan entah mengapa pelukan ini membuat Evelyn merasa aman dan terlindungi.
"Anda akan membantuku untuk melunasi biaya pengobatan kan?" tanya Evelyn saat Louis masih mendekapnya.
Evelyn bisa merasa badan lelaki itu bergetar saat terkekeh karena mendengar perkataan Evelyn. Louis mengangguk dan mengelus rambut Evelyn.
"Berhentilah memangilku dengan sebutan 'Anda', aku tak menyukainya. Dan lagi, aku berjanji tak akan membuatmu menyesal karena sudah menikah denganku," ucap Louis sebelum melepaskan pelukannya. Ia berjalan ke arah mejanya lagi dan mengeluarkan sebuah kertas dari lacinya.
Evelyn mengernyit saat melihat kertas yang Louis pegang itu. Tampaknya itu sebuah perjanjian … atau mungkin sebuah kontrak?
Louis menyerahkan kertas itu pada Evelyn, dan Evelyn tertegun saat mendapati kertas itu memang berisi kontrak. Ia tak mengerti apa yang membuat lelaki ini begitu yakin kalau Evelyn akan menikah dengannya sampai-sampai ia sudah mengeprint kontrak ini duluan.
"Apa kau sebegitu percaya dirinya kalau aku akan menikah dengamu?" tanya Evelyn.
Louis tertawa mendengar penuturan Evelyn. Entah kenapa, Louis bisa menjadi cair saat berada di dekat Evelyn. Gadis itu bisa membuatnya tertawa, bahkan saat ia tak mencoba untuk melucu.
"Tentu saja. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk menjadikan mu sebagai milikku," gumam Louis sambil mengelus pipi Evelyn.
Evelyn mengigit bibirnya dan mendongak menatap lelaki itu, "Mana penanya?" ucap Evelyn.
Louis mengambil bolpoin yang selalu ada di jasnya dan menyerahkannya pada Evelyn. Gadis itu berjalan ke arah meja dan menandatangani kontrak itu setelah membacanya dengan seksama.
"Apa kau sudah menandatanganinya?" tanya Louis terkejut. Di dalam kontrak itu ada beberapa peraturan yang memang sudah Louis tuliskan supaya Evelyn tak akan lepas darinya.
Ia pikir Evelyn akan memberontak dan meminta Louis mengubah isi kontaknya, tapi apa ini? Ternyata Evelyn menyetujuinya dengan begitu mudahnya?
Evelyn mengangguk, "Aku tak keberatan dengan semua isinya. Toh saat aku melangkahkan kakiku disini, aku sudah menjual jiwaku padamu."
Louis terkekeh kembali dan berjalan mendekati wanita itu. Ia mengambil kontrak itu dan memutuskan untuk membacakan isinya kembali, sebagai pernyataan kalau kontrak itu sudah sah.
"Baiklah, aku akan membacakan isinya lagi," ucap Louis saat kontrak itu sudah berada di tangannya.
Louis menarik napas penjang sebelum membaca isi kertas itu, "Pertama, Pihak A adalah aku, Louis Green dan pihak B adalah kau, Evelyn Clarista. Pihak B harus melayani pihak A sebagaimana mestinya suami istri dan pihak A tidak berhak melakukan tindakan kekerasan ataupun pemaksaan yang dapat menyebabkan luka fisik maupun psikologis pada pihak B."
Evelyn mengangguk, meski ia tak yakin dengan kata 'melayani sebagainana mestinya suami istri'.
"Kedua, pihak A harus memenuhi semua kebutuhan pihak B, apapun itu. Serta, pihak B tak berhak untuk menjalin hubungan asmara dengan lelaki lain," ucap Louis lagi.
"Ketiga, pihak B tidak dapat memutuskan kontrak ini. Hanya Pihak A yang dapat memutus perjanjian ini."
"Keempat, Pihak A akan bertanggung jawab penuh atas apa yang terjadi pada pihak B. Dan pihak B tidak berhak untuk menolak apapun yang pihak A berikan padanya."
Evelyn mengangguk. Ia sudah membaca semua perjanjian ini sebelumnya. Sebenarnya perjanjian ini menguntungkan baginya.
"Baiklah, karena kau sudah tanda tangan kontrak ini maka aku akan mentransfer uang ke rekeningmu. Tapi, karena mamamu akan dirawat di rumah sakit untuk sementara waktu, maka pindahlah ke apartment yang telah aku belikan untukmu," ucap Louis yang membuat Evelyn mengangga.
"A-apa? Untuk apa aku pindah?" tanya Evelyn terkejut.
Louis mengangkat alisnya sebelah, "Tentu saja supaya aku mudah menemuimu. Soal apartment, aku akan menyerahkannya pada bawahanku, namanya Erick. Nanti aku akan memberimu kontaknya, kau bisa bertanya padanya," ucap Louis.
Evelyn mengangguk meski terpaksa. Semua tingkah bossy Louis serasa mantra baginya. Otaknya menolak, tapi entah kenapa mulutnya tak berbicara apapun.
"Dah, sekarang kau boleh keluar. Orang lain akan curiga kalau kau terlalu lama berada disini," ucap Louis sambil kembali berjalan ke tempatnya.
Evelyn masih berdiam diri di posisinya sambil menatapi Louis, "Bagaimana ... dengan istrimu?" tanya Evelyn ragu. Ia merasa sangat tak enak dengan istri Louis.
Louis terkekeh keras mendengar ucapan Evelyn. Ia hampir lupa dengan keberadaan Hilary jika saja Evelyn tidak bertanya.
"Kau tak perlu khawatir, asal kau tutup mulut, maka tak akan ada yang tahu," ucap Louis santai.
Evelyn mengangguk pasrah lagi tanpa mengatakan apapun. Ia permisi keluar dari ruangan Louis. Saat ia sudah berada di luar, ia memegangi jantungnya yang sedaritadi terus berdegup dengan kencang.
"Aku ... tak boleh jatuh cinta padanya," gumam Evelyn pada dirinya sendiri. Meski ia tak yakin...kalau ia bisa melakukannya.
*****