EVELYN menghela napas gusar saat mengetahui jumlah tagihan rumah sakit untuk pengobatan mamanya ternyata lebih besar daripada yang ia perkirakan. Dan ini baru tahap awal pengobatan. Mamanya masih harus mengikuti banyak pengobatan lain untuk melawan kanker itu.
Evelyn menggengam tangan mamanya yang saat ini tengah tertidur. Ia tak tahu bagaimana rasanya di kemo. Tapi tampaknya itu sangat menyakitkan, dan hal itu membuat Evelyn sedih.
Mengapa semua ini terjadi pada mereka?
Evelyn menghela napas lagi dan menatapi mamanya. Ia menyingkirkan beberapa helai anak rambut yang menghalangi wajah mamanya.
"Tidur nyenyak Ma, semoga cepat sembuh," ucap Evelyn sambil tersenyum. Ia keluar dari kamar mamanya dan kembali ke kamarnya.
Ia tahu kalau ia harus segera mencari dana tambahan. Kalau ia tidak mendapatkannya maka bisa-bisa mamanya tidak bisa berobat lagi.
Dan siapa yang bisa memberikan Evelyn pinjaman? Ia tak mungkin meminjam uang pada Rani karena temannya itu sudah cukup kesulitan karena pacarnya.
Bimo? Ah, Evelyn sama sekali tak mau membebani Bimo dengan masalahnya.
Claudio? Evelyn juga tak bisa meminjam uang padanya. Lelaki itu sudah berbuat banyak hal untuk Evelyn dan Evelyn tak bisa membalas semua itu.
Lalu siapa ... Evelyn tak mengenal banyak orang di dunia ini. Ia itu introvert dan tertutup. Ia sama sekali tak pandai bersosialisasi dengan orang lain.
Dan ada satu nama lagi yang muncul di kepala Evelyn dengan spontan ...
Louis.
Tapi lelaki itu mana mungkin mau meminjamkan uang secara cuma-cuma. Kalau Evelyn mau meminta bantuannya, maka ia harus menjual dirinya sendiri pada Louis.
Evelyn kembali menghela napas. Ia tak tahu lagi. Ia akan memikirkannya nanti saja.
*****
Rumah sakit sangat ramai hari ini, dan ini adalah kali ketiga mamanya untuk kemotrapi. Evelyn tengah berjalan sambil menggandeng tangan mamanya.
Mamanya tampak pucat, rambutnya rontok dan tubuhnya semakin kurus. Evelyn ingin membawa mamamnya untuk mendapatkan pengobatan di rumah sakit besar, namun apa daya.. uangnya sama sekali tak mencukupi. Tabungan Evelyn semakin terkuras untuk kebutuhan hidup, beli obat, dan kemo trapi.
"Ma, apa mama baik-baik saja?" tanya Evelyn saat merasa bahwa topangan tangannya semakin memberat. Tampaknya badan mamanya semakin melemas.
Christina menggeleng pelan meski pandangannya sudah berbayang-bayang. Entah kenapa kepalanya terasa sangat berat sejak tadi pagi, namun ia menahan semuanya supaya Evelyn tak lagi mengeluarkan uang untuk biaya pengobatannya.
"Mama yakin? Soalnya mama pucat banget," ucap Evelyn sambil menatap khawatir.
Christina ingin kembali mengangguk, namun kepalanya tiba-tiba terasa sangat pening dan telinganya berdengung. Ia bisa merasa kepalanya berputar-putar sebelum akhirnya badannya lemas, dan tak sadarkan diri.
"MAMA!" teriak Evelyn panik ketika mamanya pingsan. Ia berteriak meminta bantuan pada semua orang yang berlalu lalang. Orang-orang itu membantu Evelyn mengangkat mamanya dan mereka segera membawa Christina pergi ke ruang perawatan.
Evelyn ikut berlari dan mengejar mamanya sambil berharap cemas. Saat mamanya sudah sampai di ruang pemeriksaan, Evelyn di hadang oleh suster yang berjaga. Ia bilang Evelyn hanya boleh menunggu dan menemani sampai disini.
Evelyn menghela napas pelan dan duduk di kursi yang telah di sediakan. Ia menekan kukunya pelan sambil berdoa pada Tuhan. Ia berdoa agar mamanya tidak di ambil. Ia berdoa agar mamanya baik-baik saja. Evelyn ...tak tahu lagi bagaimana ia bisa hidup kalau mamanya tak ada.
Pemeriksaan cukup lama dilakukan dan Evelyn sama sekali tak bergerak dari posisinya. Saat pintu terbuka, gadis itu langsung berdiri dan menghampiri dokter yang baru saja keluar.
"Bagaimana keadaan mama saya, Dok?" tanya Evelyn sambil menatap dokter itu cemas.
Dokter itu menatapi Evelyn dengan kasihan dan menghela napas, "Penyakitnya lebih buruk dari yang kami kira. Ia harus segera di operasi," ucap dokter itu yang membuat Evelyn membeku di tempatnya.
"O-operasi?" ulang Evelyn layaknya beo. Kepalanya pening dengan kenyataan yang seakan tak ada habisnya menghantam hidupnya.
Dokter itu mengangguk, "Ya. Kami harus segera melakukan operasi sum-sum tulang belakang. Operasi itu akan segera di jadwalkan, tapi kau harus menandatangani kontrak dan membayar dulu."
Evelyn meneguk salivanya. Ia sudah cukup kesulitan masalah keuangan sekarang. Dan ia yakin, biaya operasi tak akan murah.
Evelyn mendongak dan menatap dokter itu, "Berapa biaya operasinya, dokter?"
Dokter itu menghela nafas lagi, "Biaya operasi sum-sum tulang belakang tidaklah murah. Mungkin berkisar 800 juta sampai 1 milliar."
"S-satu milliar?" pekik Evelyn mengulangi. Ia sukses mengangga mendengar nominal yang dokter itu sebutkan. Ia tak punya uang sebanyak itu. Dan ia juga tak tahu siapa yang memiliki uang sebanyak itu kecuali ... si iblis?
Dokter itu kembali mengangguk, "Ya. Aku harap kau segera selesaikan segala urusannya karena mamamu harus di tangani secepatnya," ucap Dokter itu sebelum pergi.
Evelyn memegang tembok untuk menahan tubuhnya yang terasa lemas.
Sepertinya ... ia memang harus menjual dirinya pada iblis itu.
*****