EVELYN menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri untuk memastikan kalau tak ada Louis di sekitarnya. Ia malu sekali bertemu lelaki itu. Jadi, Evelyn akan menghindarinya sebisanya.
Evelyn berjalan menghampiri Thomas yang sedang membersihkan gelas dan memanggilnya pelan, "Thom," panggil Evelyn yang membuat Thomas menoleh.
"Apa?" tanyanya.
Evelyn menekan kukunya, ragu untuk bertanya, "Apa kau kenal seorang pelanggan yang sepertinya sering berada disini sampai pagi?"
Thomas berpikir sejenak lalu menggeleng, "Tidak. Club ini di tutup jam 3 pagi. Selebih itu tak ada lagi tamu yang mampir," jawab Thomas.
Evelyn mengangguk-angguk meski nyatanya ia tak mengerti sama sekali. Lalu bagaimana Louis bisa berada disini sampai pagi?
"Ah!" ucap Thomas tiba-tiba yang membuat Evelyn tersentak.
"Apa?" tanya Evelyn binggung.
"Ada satu orang yang tinggal disini sampai pagi."
Evelyn meneguk salivanya dan bertanya dengan pelan, "Siapa orang itu?" tanyanya hati-hati.
Thomas menoleh dan tersenyum ke arah Evelyn, "Tentu saja pemilik Club ini. Namanya Louis Green," ucap Thomas yang membuat kaki Evelyn lemas seketika.
*****
Louis memandang marah ke arah Evelyn yang tampak dekat dengan pelayan laki-laki di bawahnya. Ia tak mengerti apa yang ia rasakan sekarang. Hanya saja ia tak mau miliknya di dekati orang lain. Meski sebenarnya Evelyn bukan miliknya sih.
Louis menekan tombol telepon yang langsung disambungkan ke lantai bawah. Ia punya akses untuk memesan minuman langsung.
"Aku ingin Vodka. Antarkan ke ruanganku sekarang. Ah iya, yang mengantarnya harus pelayan baru yang bernama Evelyn."
Louis menutup telepon itu tanpa menunggu respon yang mengangkat telepon. Ia tak perduli. Yang ia perdulikan adalah bagaimana caranya agar gadis itu mau menjadi miliknya?
Louis harus membujuknya secara halus dulu sebelum akhirnya mengeluarkan senjata pusakanya.
Louis menghela napas pelan sambil mengetuk-ngetukan jarinya di meja. Tak lama kemudian, Evelyn muncul dari balik pintu sambil membawa minuman yang Louis pesan.
Evelyn tampak ragu untuk masuk sesaat, namun kemudian ia memantapkan hatinya. Ia harus tetap bekerja kan untuk mengobati mamanya.
Louis tersenyum miring ketika melihat Evelyn menunduk melihatnya. Tampaknya gadis itu masih malu soal kejadian kemarin.
Saat Evelyn sudah meletakkan minuman itu, ia segera berbalik dan hendak pergi dari ruangan Louis. Namun panggilan lelaki itu membuat langkahnya terhenti.
"Evelyn," ucap Louis dengan suara seraknya.
Evelyn menghela napas pelan lalu berbalik dan menatap lelaki yang ternyata adalah pemilik club tempatnya bekerja.
"Apa Anda perlu bantuan, Pak?" tanya Evelyn sopan.
Louis menaikkan alisnya sebelah, "Sudah kubilang panggil aku Louis, bukan 'Anda' dan jangan bertingkah laku formal padaku," ucap Louis mengingatkan.
Evelyn menggeleng, "Tidak mungkin aku bertingkah tidak formal padamu, Pak."
Louis menghela napas, wanita ini tampaknya keras kepala. Sepertinya akan sulit untuk melakukan tawar-menawar dengannya.
"Evelyn. Aku punya penawaran untukmu," ucap Louis mengalihkan topik.
Evelyn mengangkat kepalanya, "Apa itu?" tanyanya binggung.
Louis tersenyum samar dan berdiri dari tempat duduknya. Ia berjalan pelan, mendekati Evelyn, "Aku sangat menyukaimu. Semua tentangmu, dari tubuhmu, matamu, suaramu ataupun wangi badanmu , aku suka semuanya," ucap Louis tepat di telinga Evelyn.
Evelyn menekan jarinya, menahan debaran jantung yang ia terus rasakan sedaritadi.
"A-apa maksudmu Pak? Anda sudah memiliki istri. Anda tak boleh bertingkah seperti itu pada saya," ucap Evelyn takut-takut.
Louis sempat terdiam beberapa saat. Ia tak tahu kalau Evelyn sudah mengetahui soal Hilary.
"Kau tau tentang istriku?" tanya Louis ragu.
Evelyn mengangguk, "Ya, saya tahu."
Louis mendengus, tampaknya usahanya akan semakin sulit.
"Tapi bagaimana ya? Aku tak perduli tentang istriku tuh," ucap Louis yang membuat Evelyn menoleh terkejut.
"A-apa maksud Anda, Pak?"
Louis tertawa dan menatap mata Evelyn, "Aku menginginkanmu. Jadi aku punya penawaran padamu, apa kau mau jadi istri keduaku?" ucap Louis yang sukses membuat Evelyn membelak.
"T-tidak pak, maaf," ucap Evelyn yang langsung cepat-cepat berbalik hendak keluar.
Namun Louis menahan tangannya, "Dengarkan aku dulu Evelyn, kalau kau menikah denganku maka aku akan membiayai hidupmu. Seluruh kebutuhanmu akan kupenuhi, seumur hidup," ucap Louis yang membuat Evelyn tergiur sesaat.
Tawaran itu bagaikan kesempatan emas bagi Evelyn. Evelyn pasti akan setuju kalau Louis tak memiliki istri. Tapi masalahnya, lelaki itu punya.
"Tidak, Pak. Sekali lagi maafkan saya," ucap Evelyn sambil melepaskan tangannya. Ia tak mau menjadi orang ketiga bagi orang lain. Ia tak mau menghancurkan pernikahan orang lain. Menjadi penggangu hubungan orang adalah hal yang paling anti bagi Evelyn.
Dan saat Evelyn sudah mencapai ambang pintu, langkahnya kembali terhenti ketika mendengar suara Louis.
"Pikirkanlah kondisi Mamamu. Kalau kau menikah denganku, aku akan mengusahakan pengobatan terbaik untuknya," ucap Louis yang membuat Evelyn menggeram marah.
Ia menoleh ke arah Louis dan menatapnya marah, "Anda sungguh tak berperikemanusiaan. Bagaimana bisa memanfaatkan penyakit mama saya demi keuntungan Anda?" ucap Evelyn marah.
Louis tersenyum samar lagi, "Aku memang tak pernah memiliki hati Evelyn. Dan entah bagaimana, kau menemukan hatiku yang hilang itu saat pertama kali kita bertemu," ucap Louis yang membuat Evelyn terdiam sesaat.
"Tidak. Aku tetap tidak akan menikah denganmu," ucap Evelyn lagi dengan penekanan pada kata-katanya lalu berbalik pergi.
Louis terkekeh mendengarnya, "Kau akan kembali padaku nantinya Evelyn. Kau akan menikah dan menjadi milikku," teriak Louis lagi sesaat sebelum gadis itu keluar.
Louis tersenyum sinis, sudah ia duga. Tak semudah itu mendapatkan Evelyn. Dan ia suka dengan cara main ini. Karena ia akan menunjukan pada Evelyn, seberapa seriusnya Louis.
*****