EVELYN memakai seragamnya dengan rapi. Hari ini adalah hari pertamanya bekerja di Club Clark. Club ini adalah club terbesar di Jakarta. Jadi tidak heran kalau banyak sekali pelanggan VIP yang datang kesini.
"Ev, kesini sebentar," ucap Thomas, rekan kerja Evelyn yang baru di kenalnya tadi.
Evelyn mendatangi Thomas dan menatapnya dengan pandangan bertanya, "Ada apa?"
Thomas memberikan sebotol besar minuman keras yang Evelyn tak tahu pasti jenisnya. Botol itu sangat besar hingga Evelyn tidak bisa menahan dahinya untuk tidak berkerut.
"Bawa ini ke ruangan 29, ruangannya berada di lantai 3," tukas Thomas santai.
Evelyn membelak, "Aku harus membawa minuman ini menggunakan tangga?" tanyanya tak percaya.
Thomas terkekeh kecil melihat kepolosan Evelyn, "Tentu saja tidak. Para pelayan punya lift sendiri di club ini. Jadi kau bisa naik lewat lift itu tanpa harus susah-susah naik tangga," timpal Thomas lagi.
"Oh, oke." Evelyn mengangguk, ia mulai mengangkat botol besar itu dengan nampan yang berada di tangannya. Badannya sempat limbung untuk sesaat ketika menyadari bahwa botol itu lebih berat dari perkiraannya.
Ia mencoba menyeimbangkan diri dan mulai berjalan ketika sudah bisa mengangkat botol itu dengan benar. Evelyn masuk ke dalam lift sambil menjaga botolnya agar tidak jatuh. Setelah pintu lift terbuka, ia membuka ruangan No. 29 itu dan menemukan banyak bapak-bapak disana. Ralat, sebenarnya banyak pengusaha muda yang tampan-tampan, hanya saja sebagian dari mereka adalah bapak-bapak. Sepertinya mereka sedang rapat? Entahlah.
Evelyn meletakkan botol itu dengan gugup karena ia merasa semua pandangan tertuju padanya. Evelyn meneguk salivanya ketika mengingat perkataan Rani.
Kalau lo mengantar minuman pada para pengusaha, pastikan lo menuangkan mereka minuman. Karena kalau lo langsung pergi, maka mereka akan ngecap lo sebagai pelayan yang tidak sopan.
Begitu kira-kira kata Rani. Evelyn membuka botol minuman itu dengan susah payah dan mulai menuangkan botol berat itu ke dalam satu persatu gelas.
Ia merasa tangannya bergetar setiap kali ia menuang. Pasalnya, semua orang diruangan ini terus menatapnya dan mereka sama sekali tak berbicara sepatah katapun. Sunyi, hanya ada bunyi air yang mengalir ke dalam gelas.
Evelyn selesai menuang seluruh gelas setelah beberapa saat. Lalu, ia kembali berdiri. Badannya membeku ketika matanya bertemu dengan mata lelaki yang ia tabrak kemarin. Biru laut yang menenangkan.
Oh sial, Evelyn baru ingat kalau sekarang ia sedang menjadi pelayan disini. Bagaimana bisa ia bertemu dengan laki-laki itu lagi disaat seperti ini?
Evelyn merutuki ketidakberuntungannya, lalu ia keluar dari ruangan itu dengan napas tertahan.
Sungguh sial.
*****
Louis merasa sangat sesak berada di kantor apa lagi ketika ia mendengarkan celotehan Hilary yang tak berhenti-berhenti seakan ia adalah rapper.
Louis merasa muak dengan semua omelan yang ia terima setiap hari. Ia pun berdiri dan memutuskan untuk pergi ke club kesayangannya untuk refreshing. Tapi, saat ia mau keluar, Tony menahannya.
"Pak, Anda mau kemana?" tanya Toni binggung.
Louis menatap Tony dingin, "Bukan urusanmu, ‘kan?"
"Ta-tapi anda punya rapat sebentar lagi pak, dan lagi rapat ini sangat penting," ucap Toni sambil menunduk ketakutan. Ia takut dengan pandangan Louis yang mengintimidasi itu.
"Suruh mereka datang ke clubku. Aku akan rapat disana," tukas Louis seraya berjalan meninggalkan Toni yang kebingungan di belakangnya.
*****
Louis menunggui kliennya di salah satu ruangan VIP miliknya. Ia sudah terlebih dahulu memesan minuman agar nanti tak repot-repot lagi. Lalu setelah 10 menit menunggu, para kliennya akhirnya datang. Sebenarnya, Louis benci rapat dengan banyak orang seperti saat ini. Namun rapat ini penting bagi bisnisnya, ia tak mau mengalami kerugian hanya karena sikap kekanakannya.
Rapat dimulai dengan tenang. Lalu, disaat mereka tengah membahas topik penting, seorang wanita masuk untuk mengantarkan minuman yang tadi Louis pesan.
Louis terpana menatap wanita itu. Ia adalah wanita yang membuat Louis tak bisa tidur kemarin. Lalu apa ini? Ia bekerja sebagai pelayan di club milik Louis sendiri?
Louis bisa merasakan bahwa semua kliennya saat ini tengah menatapi pelayan cantik yang tengah menuang minuman itu. Ia menggeram kesal, entah kenapa ia tidak suka melihat tatapan para kliennya yang seakan ingin memakan gadis di depannya ini hidup-hidup. Sial!
Setelah memakan waktu beberapa lama, gadis itu akhirnya selesai menuang semua minumannya. Mata Louis sedaritadi tak bisa lepas dari wanita itu terus mengikuti gerakannya. Lalu, sepersekian detik kemudian, mata mereka kembali bertemu. Gadis itu membelak ketika meliaht Louis. Mau tidak mau, Louis tersenyum dalam hati, karena menilai dari reaksinya, tampaknya gadis itu masih mengingatnya.
Gadis itu keluar dari ruangan dan rapat kembali berjalan seperti seharusnya.
*****