LOUIS mengendurkan dasinya dan keluar dari ruangan pribadinya yang ada di club. Kepalanya pusing karena tadi kebanyakan minum saat rapat berakhir. Ia bisa merasakan kalau pandangannya berkunang-kunang, dan tubuhnya melayang.
Louis tersenyum senang ketika melihat si gadis pelayan itu saat ia menuruni tangga. Gadis pelayan itu tampaknya sedang beres-beres sendirian.
Ia tak tahu jam berapa sekarang, apa semua orang sudah pulang? Kemana pelayan lain? Ia sama sekali tak menemukan orang lain yang membantu gadis itu berberes.
Louis berjalan linglung lalu mendekati gadis itu dan menatapinya dari samping. Louis kembali terpesona. Gadis ini tak mengenakan pakaian terbuka ataupun make up yang berlebihan. Tapi entah kenapa wajahnya itu sangat menarik untuk di pandangi lama-lama.
Gadis itu masih melakukan aktivitasnya dengan santai karena ia sama sekali tak sadar dengan kehadiran Louis. Lalu saat ia hendak berputar untuk meletakkan gelas, ia terperanjat melihat pria yang kemarin di tabraknya tengah menatapinya dengan intens.
"Hai?" ucap Louis sambil memiringkan kepalanya.
Gadis itu menarik napas sejenak untuk menetralkan keterkejutannya sebelum tersenyum kecil, "Saya tak tahu kalau anda masih mengingat saya," ujarnya sopan kepada Louis.
Louis terkekeh mendengar ucapannya. Jelas sekali ia tak bisa berhenti memikirkan gadis di depannya ini sejak beberapa hari yang lalu. Wajahnya terus membayangi Louis sampai-sampai Louis hampir gila dibuatnya.
"Tentu saja aku ingat kau. Ingatanku ini tak buruk tahu," racau Louis dengan mata sedikit tertutup.
Gadis itu mengernyit melihat tingkah Louis yang sedikit aneh, Kemudian ia memberanikan diri untuk mendekati lelaki itu dan menyentuh keningnya, "Apa anda sakit? Wajah anda merah!" ucapnya. Lalu ia mendekatkan wajahnya pada Louis sampai-sampai Louis bisa merasakan hembusan napasnya, "Anda mabuk ya?" tanyanya lagi sambil berusaha menciumi napas Louis untuk memastikan.
Louis tersenyum, "Berhentilah memanggilku dengan sebutan 'Anda', panggil saja aku Louis, dan namamu siapa?" tanya Louis sambil menyenderkan kepalanya di meja. Ia bisa melihat wajah gadis itu dengan jelas sekarang.
"Nama saya, Evelyn, dan maaf saya harus tetap bersikap formal," ucapnya ragu.
Evelyn masih tetap pada posisinya, ia sama sekali tak sadar kalau posisinya dan Louis saat ini begitu dekat. Lalu ia kembali mendekatkan wajahnya pada Louis, lagi.
"Anda tampaknya demam," ucapnya lagi sambil memegang pipi Louis. Lalu sedetik kemudian, ia tersentak dan langsung melepaskan pegangannya dari pipi Louis.
Louis menahan tangan itu, "Kenapa dilepas?" tanyanya kecewa.
Evelyn terkejut sekaligus berdebar-debar saat Louis memegangi tangannya. Ya ampun, lelaki itu tampan sekali. Apa lagi dari dekat. Evelyn sampai tak sadar daritadi kalau jarak mereka sangat dekat.
"Ma-maaf. Saya tak bermaksud untuk bertindak tak sopan pada Anda," ucap Evelyn sambil menunduk. Ia baru menyadari kalau tadi ia memegangi wajah seseorang yang bahkan baru ia kenal. Bodohnya!
Louis tertawa dan berdiri dari tempat duduknya. Ia memandangi bibir Evelyn yang bewarna pink itu lama sebelum berujar, "Tampaknya akulah yang harus meminta maaf padamu nanti karena sudah bertindak tidak sopan."
Lalu di detik kemudian, ia menarik Evelyn dalam pelukannya dan mencium bibirnya tanpa ampun. Lelaki itu melumat bibirnya yang tiba-tiba terasa sangat panas. Mata Evelyn membelak, karena terkejut ia refleks berusaha memberontak dan melawan. Namun tindakannya itu sangat sia-sia karena tak ada perubahan yang terjadi meskipun ia meronta-ronta.
Evelyn yang lama kelamaan kehilangan kekuatannya pun memejamkan matanya dan mulai membalas ciuman itu tanpa ia sadari. Lelaki ini begitu ahli untuk masalah seperti ini. Ia membuat Evelyn merasakan sensasi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Evelyn mengalungkan tangannya pada leher lelaki itu tanpa sadar dan ciuman mereka semakin menjadi-jadi. Lelaki itu memindahi ciumannya ke leher Evelyn, membuat tubuh gadis itu bergetar hebat.
"H-hentikan," gumam Evelyn yang kemudian di lanjutkan dengan erangan karena lelaki itu meninggalkan kiss mark di lehernya.
Evelyn membelakkan matanya tiba-tiba dan baru menyadari kalau ia hampir kelewat batas saat lelaki itu mulai menciumi bagian tubuhnya yang lain. Ia berusaha sekuat tenaga untuk mendorong Louis sampai lelaki itu menghentikan kegiatannya.
"Apa yang kau lakukan!" teriak Louis kesal karena kegiatannya di ganggu.
Evelyn menatapnya dengan tak percaya dan tangannya menampar pipi lelaki tampan itu dengan keras.
PLAK!!
Louis meringis saat merasakan tangan kecil itu menamparnya, lalu ia menatapi Evelyn dengan tatapan bertanya.
"Kenapa kau menamparku?"
Evelyn yang masih terlihat syok memandangi Louis dengan tatapan tidak percaya, "Bagaimana bisa Anda tiba-tiba mencium saya seperti itu! Itu sangat tidak sopan!" teriak Evelyn pada Louis.
Louis terkekeh dan mendekati wanita cantik di depannya ini, "Lantas kenapa kau membalas ciumanku, Evelyn?" ucapnya yang membuat Evelyn terlihat gugup.
Evelyn menatap lelaki di depannya ini dengan malu. Ia sama sekali tak bermaksud membalas ciuman lelaki ini. Tapi ... tadi ... entah kenapa tubuhnya bergerak sendiri.
"Akui saja kalau kau juga menginginkanku," bisiknya pada Evelyn. Evelyn bisa merasakan bulu kuduknya berdiri saat mendengar suara Louis yang serak itu.
"T-tidak! S-saya hanya terbawa perasaan tadi," gumam Evelyn cepat. Ia meletakkan gelas yang ia pegang sedaritadi dan mengambil tasnya yang berada di sofa lalu berlari keluar club dengan cepat.
Louis sempat ingin mengejarnya, namun wanita itu cepat sekali hilangnya. Ia berlari seakan melihat setan. Belum pernah ada yang berlari setelah berciuman dengan Louis. Gadis ini yang pertama.
Louis tersenyum ketika menyadari ada bekas lipstik Evelyn yang menempel di bibirnya. Gadis itu berbeda dengan gadis lain. Hanya dengan ciuman, ia bisa membangkitkan hasrat Louis yang bahkan tidak muncul saat melihat Hilary telanjang.
Louis tersenyum sinis. Entah sejak kapan, ia mulai bertekat untuk membuat gadis itu menjadi miliknya. Apapun yang terjadi, gadis itu harus menjadi miliknya.
*****