EVELYN menyuap potongan steak itu kedalam mulutnya dengan anggun. Gadis itu sempat mendesah sejenak ketika rasa makanan itu menyatu dengan lidahnya. So delicious! makanan orang kaya memang berbeda!
Evelyn melirik Bimo yang saat ini tengah asyik dengan makanannya sendiri. Gadis itu mendengus dan menatap Bimo tak enak.
"Kenapa liatin gue terus, ganteng ya gue?" kata Bimo tanpa mengalihkan pandangannya dari steaknya.
Evelyn memutar bola matanya malas, "Ganteng banget Bim," gurau Evelyn sambil tertawa yang tanpa sadar membuat Bimo sedikit merona.
"Kok ga bilang sih kalau hari ini lo ulang tahun? Gue kan gak enak jadinya. Ngasih kado enggak, tapi di traktir, mahal lagi," protes Evelyn pada Bimo yang terlihat sangat santai, seperti tanpa beban.
"Gak papa lah, gue seneng kok makan sama lo. Makasih ya udah nemenin gue. Soalnya biasanya setiap ulang tahun gue makan sendirian," ujar Bimo tanpa menatap ke arah Evelyn.
Evelyn memandangi Bimo dengan pandangan menyelidik, "Ga percaya gue, masa sih lo sendirian tiap tahun? Emang lo gak punya pacar gitu?"
Bimo mendongak, menatapi mata Evelyn lekat. Lelaki itu tidak berkata apa-apa untuk beberapa saat, membuat Evelyn merasa tidak nyaman karena terus ditatapi seperti itu.
"Gue ga ada pacar," ucap Bimo sambil terus menatap ke arah Evelyn.
Evelyn berdehem kecil, "Terus kalau orang yang disuka juga ga ada?" tanya Evelyn penasaran.
Bimo tersenyum, "Ada lah, cantik banget orangnya," tandas Bimo lagi sambil terus menatapi Evelyn, seakan ucapannya tadi ditujukan pada gadis itu. "Tapi kayaknya dia sama sekali gak sadar kalau gue suka sama dia," sambung Bimo.
'Mana mungkin Bimo suka sama orang kayak gue,' Batin Evelyn yang langsung berteriak memprotes.
"Gak peka tuh orang yang lo suka," tukas Evelyn tergagap.
Bimo mengangguk setuju, "Sangat. Gue udah kode terus tapi dia gak peka-peka."
Evelyn tertawa, "Lo emang gak ada niatan untuk ngutarain perasaan lo gitu?"
Bimo langsung menggeleng, "Gak. Gue gakmau karena perasaan gue dia jadi terbebani dan akhirnya menjauh dari gue."
Evelyn menatap Bimo takjub. Bimo sangat tidak egois. Ia tak mementingkan dirinya sendiri. Sungguh laki-laki yang baik.
"Btw, kok cuma gue yang lo ajak makan?" tanya Evelyn mengalihkan topik pembicaraan.
"Soalnya Rani tadi ilang gak tau kemana dan gue juga cuma dekatnya sama kalian aja kan?"
Evelyn mengangguk. Memang orang-orang di kantornya sangat dingin. Mereka sangat memprioritaskan pekerjaan hingga lupa bersosialisasi dengan orang lain. Sungguh miris.
"Bim, kayaknya gue harus ke toilet deh," kata Evelyn sebelum akhirnya berdiri setelah mendapat jawaban berupa anggukan dari Bimo. Ia berjalan pelan sambil mencari-cari dimana toilet. Matanya terus memandangi sekitar dan Evelyn tersenyum senang. Restauran ini sangat luas, punya dekorasi yang unik serta suasana yang menyenangkan. Terlalu asyik dengan fokusnya sendiri, Evelyn sama sekali tidak memperhatikan jalan dan …
Duk!
"Aw," erang Evelyn refleks ketika kepalanya menubruk sesuatu yang keras. Evelyn mengusap kepalanya dan mendongak, berusaha mencari pelaku yang memiliki d**a sekeras tembok itu. Gadis itu baru saja hendak marah-marah ketika matanya beradu pandang dengan mata biru laut milik seorang lelaki yang tidak Evelyn kenal.
Ada sinar geli di sorot mata lelaki itu saat tahu bahwa Evelyn tengah terpesona padanya. Evelyn pun cepat-cepat menggelengkan kepalanya, menyadarkan dirinya yang terlihat sangat bodoh.
"Maafkan saya. Tadi saya tak melihat Anda." ucap Evelyn sambil menunduk. Wajahnya panas sekali, ia yakin pipinya sudah semerah udang rebus.
"Tak apa. Aku juga tak terlalu memperhatikan jalan," balas lelaki itu dengan suara nge-bassnya.
Hening … tidak ada yang berbicara.
Evelyn pun permisi pamit dari lelaki itu karena merasa tak nyaman. Gadis itu berjalan cepat ke arah toilet saat ia sudah menemukannya. Evelyn menghela napas pelan dan memegangi jantungnya yang berdebar tak karuan. Astaga, ia baru saja terpesona dengan laki-laki itu.
*****
Hilary sampai ke perusahaan Green Comp. Perusahaan milik suaminya. Dengan langkah anggun, ia menuruni mobil limosin miliknya dan berjalan masuk ke dalam perusahaan.
Hilary tersenyum kecil saat orang-orang menoleh dua kali ketika melihat dirinya. Benar, ia sangat cantik dan ia akui itu. Darah Belanda yang mengalir di tubuhnya membawa faktor besar bagi paras wajahnya. Tubuhnya yang semampai membuat banyak pria bertekuk lutut padanya. Pakaian serta barang-barang ber-merk yang ia pakai membuat banyak wanita memandang iri padanya. Intinya, Hilary itu nyaris sempurna.
Wanita itu melewati resepsionis yang berada di tengah lobby dan langsung menuju ke arah lift. Ia memakai lift personal milik Louis seorang yang tidak bisa di akses oleh karyawan lain. Hilary menggeleng-gelengkan kepalanya melihat design dari lift ini. Terlalu simpel. Mungkin ia harus protes pada Louis nanti. Itu pun jika lelaki itu mau mendengarkannya.
Ting!
Lift terbuka lebar, Hilary pun melangkahkan kakinya dengan perlahan, berusaha seanggun mungkin. Ia menemukan Toni--sekertaris Louis yang saat ini terlihat sibuk.
Hilary sengaja menyuruh Toni bekerja sebagai sekertaris Louis karena ia tidak rela jika Louis berduaan dengan seorang wanita di kantornya lebih lama dibandingkan dengan waktu Louis bersama dengan dirinya. Well, lagipula Toni sedang butuh pekerjaan dan ia adalah orang yang teliti dan kompeten, oleh karena itu Hilary sangat merekomendasikan Toni untuk bekerja pada Louis. Lelaki itu sempat menolak karena takut pada Louis, tapi keputusannya langsung berubah setelah mengetahui nominal dari gajinya.
"Selamat siang, Mrs. Green," sapa Toni sambil membungkuk sopan.
Hilary tertawa, "Hei Motion, kau tak perlu begitu, perlakukan aku seperti biasanya.”
Toni kembali berdiri dan tersenyum pada Hilary, "Sudah lama aku tak melihatmu, kau jadi semakin kurus saja."
"Tentu saja, bagaimana aku tidak stress disaat suamiku lebih mementingkan pekerjaannya dibandingkan denganku." curhat Hilary.
Toni tersenyum paham, Bossnya memang seorang workholic. Kerjaanya selalu menumpuk setiap saat dan sebenarnya hal itu membuat Tony tertekan. Apalagi, bossnya itu sangat galak dan dingin. Jika saja nominal yang Hilary tawarkan tidak sebesar itu, maka Toni benar-benar tidak mau bekerja dengan seseorang seperti Louis.
"Kau datang untuk menemui Mr. Green? Tumben sekali."
Hilary tersenyum, "Iya, hari ini aku akan makan siang bersama nya. Sebenarnya ia menolak sih, tapi aku nekat datang kemari."
"Ahh, Mr. Green memang jarang sekali makan. Mungkin ia hanya keluar sesekali untuk mencari makanan. Sisanya ia berada di dalam sepanjang hari."
"Yah, aku tahu itu. Ia juga tak makan masakanku karena setiap malam sudah makan di luar." Hilary memberengut kesal.
"Apa kau yakin masakanmu bisa dimakan?" gurau Toni.
Hilary menepuk tangan Toni pelan, "Hei, aku bisa masak ya meskipun sering keasinan!" canda Hilary.
Mereka berdua tertawa bersama dan sempat bercanda untuk beberapa saat, setelah itu, Hilary melirik jam tangannya lalu menatap Toni, "Aku masuk dulu."
"Oke," ucap Toni sambil mengacungkan jempolnya.
Hilary mengangguk lalu melangkah masuk ke dalam ruangan Louis yang terlihat suram. Hanya pemandangan kota Jakarta di balik kaca besar itu yang membuat ruangan ini sedikit menjadi hidup.
"Apa yang kau lakukan?" ucap Louis sambil menatap Hilary tak senang. Ia masih sebal dengan tindakan nekat Hilary meskipun sebenarnya ia sudah bertekat untuk menuruti gadis itu kali ini saja.
"Aku kan sudah bilang bahwa kita akan makan siang, Honey. Ayo pergi sekarang!" ucap Hilary sambil menarik tangan Louis paksa.
Louis menepis tangan Hilary cepat dan menatapnya dingin, "Aku bisa jalan sendiri."
Lalu Louis keluar dari ruangannya, meninggalkan Hilary yang menghela napas atas penolakan yang entah untuk ke berapa kalinya.
*****
Louis dan Hilary sampai ke salah satu restaurant steak terkenal di Jakarta. Dengan cekatan, Hilary langsung turun dan memesan makanan, meninggalkan Louis yang masih berada di belakangnya jauh. Well, Louis sama sekali tidak keberatan kalaupun Hilary meninggalkannya. Bahkan, lelaki itu malah berharap Hilary mau pergi dari hidupnya untuk selama-lamanya.
Louis memandangi dekorasi restaurant yang tampak classic ini. Ia suka suasana restaurant ini. Sederhana tapi mewah. Ia tersenyum mencatat bahwa ia harus sering kemari. Yah … meskipun sendirian.
Louis terlalu asyik menatap dekorasi restaurant itu sampai-sampai ia tidak melihat seseorang tengah berjalan di depannya dan …
Duk!
"Aw," ringis wanita itu. Louis terkejut karena wanita itu menabrak dadanya dengan cukup keras. Tampaknya kepalanya benar-benar sakit, apalagi bunyi yang di timbulkan dari tubrukkan itu cukup keras.
Louis tertegun saat wanita itu mendongak dan menatap dirinya. Wanita ini … sangat cantik. Matanya hitam pekat, bulu matanya yang lentik, bibirnya yang merah dan kulitnya yang putih. Benar-benar perpaduan yang luar biasa.
Louis berhenti memandangi wanita itu karena merasa canggung. Tapi, ia geli sendiri saat mendapati kalau wanita itulah yang tengah memandanginya seakan ia terpesona.
"Maafkan saya, tadi saya tak melihat Anda," ujar Wanita itu sambil menunduk. Louis kembali tersenyum melihat wajah wanita itu yang sangat merah, seperti peiting rebus.
"Tak apa. Aku juga tak terlalu memperhatikan jalan," balas Louis ramah. Hell, ia tidak pernah seramah ini sebelumnya.
Hening ….
Untuk sesaat, tidak ada yang berbicara sama sekali. Louis juga tidak berniat untuk pergi ataupun menginterupsi suasana ini. Entah kenapa, ia merasa nyaman.
Tapi, sayang, kenyamanan itu hanya berlangsung sebentar karena wanita itu pamit pergi. Kaki kecilnya berjalan cepat menuju toilet, meninggalkan Louis yang terus memandanginya hingga gadis itu menghilang.