Seorang wanita sedang duduk di tepi pantai dengan pasir putih sebagai alas duduknya. Dia menyerap kehangatan sinar matahari terbenam yang ada di hadapannya. Tenggelam dalam bayangan samudera biru.
Yang dilakukannya adalah melanjutkan cerita barunya. Hampir saja dia selesai, tinggal dua paragraf lagi untuk mengakhiri bab yang ia tulis sore ini.
Setelah selesai, dia memasukkan barang-barangnya ke dalam tas hitam miliknya. Dia beranjak dan membersihkan celana pendeknya dari butiran-butiram pasir pantai.
Saat membalikkan badan. Napasnya tersedak kaget.
“Kalian!?” resahnya. Melihat dua asisten wanita yang bekerja untuk Luke kini ada di hadapannya. “Kenapa di sini?”
“Luke meminta kami membawa Kak Gisel ke salon dan spa,” jawab Vania, salah satu asisten itu. Memakai rok span hitam dan blazer hitam. Layaknya kerja kantoran.
“Aduh. Aku nggak suka dipijat-pijat. Pulang aja lah,” sergah Gisel. Melambaikan tangannya payah lalu menuju ke mobil. Pasti mobil itu ada di dekat area ini.
“Kak Gisel?” panggil Vania lagi. Menyusul Gisel dibelakangnya.
“Memangnya Luke siapa, sih? Kok maksa banget aku suruh perawatan. Udah kayak istri pejabat aja deh,” jawabnya malas. Memutar bola matanya.
“Luke itu …,” balas Vania yang kemudian dipotong oleh Putri. Putri menyenggol lengan Vania agar tidak keceplosan.
“Luke sedang disorot beberapa orang di negaranya, Kak,” sambung Putri. Yang malah menambah rasa penaran Gisel.
Sesampainya di mobil, Vania berucap. “Ayo, Kak. Nanti kalau Kak Gisel menolak … kami yang kena akibatnya. Gaji kami dipotong.”
“Manusia macam apa Luke ini?! Ancem-ancem pegawainya,” gerutu Gisel seraya menjepit setengah rambutnya. “Ya sudah. Ayo!”
***
Gisel mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan dengan aroma rempah-rempah. Sambil meneguk ludahnya akibat sesuatu. Seheran itu Gisel memandang ruangan VIP ini. Hanya ada satu ranjang spa di ruangan yang termasuk mewah ini.
“Ini ruangan VIP beneran, Kak? M-maksudku aku sungguh berada di sini? Nggak salah kamar?” tanya Gisel memastikan. Sebab tadi dia hanya mengikuti arahan dari Vania saja. Hingga akhirnya dia berdiri di ruangan ini.
“Iya. Anda tamu VIP kami, Kak. Silakan ganti bajunya di sana ya,” sambut terapis tersebut.
Kemudian Gisel berganti pakaian memakai kemben berwarna cokelat bercorak batik.
Saat keluar dari ruang ganti, Gisel dikagetkan dengan pertanyaan. “Perawatannya super lengkap ya, Kak? Lulur, massage, totok wajah dsb?”
“Ha?! Buanyak banget, Kak. Berapa jam?”
“Sekitar tiga jam, Kak.”
Gisel pun mengangguk dan merelakan badannya dipijat-pijat oleh terapis itu di atas ranjang tipis. “Kak! Nanti aromanya apaan, ya!?” sentak Gisel yang seketika khawatir apabila dia diberikan aroma bunga. Dia tidak suka.
“Mawar, Kak.”
“Jangan Kak! Bisa ganti cokelat, nggak?” pinta Gisel.
Terapis itu mengiyakan permintaan Gisel dan segera menggantinya. Lalu dalam hitungan detik, dia kembali ke ruangan ini. Melanjutkan apa yang sudah menjadi kewajibannya dalam menangani customer.
Beberapa tahapan sudah dilewati oleh Gisel. Lantas dia diminta membersihkan diri di kamar mandi. Dia melakukan itu kemudian. Di dalam bathtub dengan taburan kelopak bunga yang tak disukainya itu, dia meracau. Untung saja bunga itu tidak terlalu menyengat di hidung Gisel.
“Repot banget ya jadi pacar bohongan. Sok sempurna banget, sih, Luke.”
Setelah selesai, dia keluar dari kamar mandi dan diminta duduk di sebuah kursi dengan kaki yang agak terbuka. “Kenapa, Kak?”
“Ratus, Kak.”
“Ha? Apaan tuh?”
“Untuk mengencangkan daerah kewanitaan.”
“Apa?! Aku masih perawan, Kak. Aku juga belum mau menikah.”
Terapis itu mengangguk. “Iya, tidak apa-apa, Kak. Ini juga untuk merawat saja.”
Akhirnya Gisel mengalah untuk menolak perawatan ini. Semua tahapan ia sanggupi hingga akhirnya selesai sudah prosesi spa ini.
***
Pria bule itu duduk di sofa ruang tengan dengan iPad terbaru di tangannya. Cukup menyita perhatian Gisel. Dia penasaran dengan apa yang dilakukannya.
“Stock?! Apa tuh?” tanya Gisel.
Sigap, Luke segera menutup gadget layar lebarnya itu. “Bukan urusanmu,” jawab Luke dingin saat menutup berita mengenai saham perusahaan orang tuanya di Australia.
Bermaksud hengkang dari hadapan Gisel dan menuju dapur, dia malah menghirup aroma yang menggugah seleranya.
“Shame. Aku pikir ada yang bikin cokelat panas apa gimana. Ternyata kamu biangnya,” papar Luke saat berdiri menatap Gisel. Tinggi wanita itu hanya sebatas d**a Luke. Pendek yah? Atau Luke yang tinggi?
Gisel meringis. “Kamu sendiri yang meminta Vania dan Putri menjemputku ke spa, kan? Kamu sendiri yang tertipu wanginya.”
“Lah? Tadi mereka lapor kalau kamu pakai aroma mawar.”
“Ya kali. Kayak orang mati aja kalau pake mawar. Cuma tadi aku pilih lavender untuk aromaterapinya. Untuk lulur dan yang lain aku pakai coklat.”
“Oh, oke,” ucap Luke yang berlalu kembali ke kamarnya.
Saat masih melangkah, Gisel seketika menghentikan Luke dengan suaranya. “Kamu mau aku buatkan coklat hangat?”
Pria itu terperanjat. “B-boleh.” Tunggu, kenapa Luke jadi grogi ketika Gisel menawarkan cokelat? Bukankah ini hanya tawaran biasa antar teman?
Gisel spontan berlarian kecil ke dapur untuk menuangkan cokelat hangat ke cangkir putih dengan pinggiran berwarna emas. Baginya tak salah apabila membuatkan secangkir kehangat untuk Luke. Bukan hanya karena cuaca sedang dingin karena hujan deras tetapi juga karena Luke sudah membiayainya perawatan relaksasi tadi.
Tak lama, Gisel menyodorkan cangkir itu pada Luke. Mereka berdua duduk saling berhadapan. Di meja bar mungil berbahan marmer warna krem, mereka saling memeluk cangkir hangat mereka masing-masing. Mereka berdua saling mencuri pandang satu sama lain. Mungkin karena hawa saja.
Deg! Deg! Deg!
Jantung siapa yang berdetak cepat dahulu? Gisela tau Luke?
“Mmm. Besok ada jadwal perawatan muka ya,” ucap Luke.
Gisel gemetaran meletakkan cangkirnya kembali. “Oh? Ha? L-lagi?” Rupanya Gisel yang dadanya kembang kempis begitu kilat. Sampai-sampai dia gugup menjawab Luke. “Se-sebenarnya ada apa sih kok aku harus perawatan segitunya?”
“Ya tidak apa-apa, sih. Bukannya itu kemauan setiap cewek?”
“Mmm. Luke?”
Terpanggil, Luke meneguk cokelatnya sembari menatap wajah Gisel. Menunggu untuk melanjutkan ucapannya.
“Kamu sebenarnya … ah nggak jadi.”
Luke seketika menghentakkan cangkirnya ke meja. “Gimana, sih? Sebenarnya apa?!” geramnya.
“Galak bener. Nggak kok. Aku cuma penasaran dengan semuanya. Maksudku, Vania bilang kamu sedang disorot. Emang kamu siapa?! M-maksudku lagi … kan kamu emang punya bisnis kedai es krim itu. Lalu?!” desak Gisel. Wajahnya berkerut.
“Lalu kamu tidak perlu tau. Aku mau tidur dulu,” cetus Luke meninggalkan cangkir itu di meja. “Cuci juga ya. Kan kamu sudah numpang di sini,” lanjutnya saat menutup pintu kamarnya.
“Numpang?! Padahal dia yang memintaku ke sini! Mengesalkan!” gerutu Gisel yang kemudian menghabiskan cokelat hangatnya sembari mendengarkan rintikan hujan yang semakin deras saja. Malam ini akan menjadi tidur yang menenangkan dengan suara dan aroma khas hujan.
***
“Grandma, here are the photos you have requested,” ucap salah satu asisten di sebuah kamar besar. Memberikan sejumlah foto dengan amplop cokelat yang membungkusnya. Foto-foto ini diberikan atas permintaan Rosetta sendiri.
“Thank you, Brent. You can leave,” ucap Nenek Rose lembut dengan suaranya yang sudah mulai serak.
Rosetta duduk di ranjang besar dengan sprei tebal klasik berwarna emas dan merah. Ditunggu oleh kedua asisten wanitanya.
“Luna, lihatlah. Mereka berdua lucu sekali. Sama saat aku masih muda dulu,” ujarnya pada satu asisten. Melihat satu foto. Foto apa lagi kalau bukan Luke dan Gisel? “Ternyata cucuku masih normal.”
Luna pun terkekeh. “Nenek? Nenek kan hanya membuat rumor sedemikian rupa agar melihat reaksi Luke. Supaya Luke tertekan, muak, dan akhirnya akan membawa wanita ke rumah.”
Rosetta pun ikut tertawa. Idenya ternyata cukup bisa dibilang berhasil. “Dari kecil, Luke memang seperti itu. Harus diberi tantangan terlebih dahulu.”
Canda tawa mereka terhenti ketika seseorang mengetuk pintu. Dia pun masuk dan berdiri di sebelah ranjang. Juga penasaran dengan apa yang sedang dilihat Rosetta.
“Pacar Luke?” tanyanya dengan heran. Melihat foto Gisel yang diperbesar oleh fotografer saat itu. “Dia tidak tahu caranya berdandan!? Bagaimana jika ia tertangkap kamera saat dibawa ke sini?!” racaunya melihat Gisel yang tanpa make-up.
Rosetta menenangkan menantunya tersebut. Memegang pergelangan tangannya. “Sudahlah Victoria, hal itu bisa mudah kita ajarkan.”
“Tapi apakah dia mengerti table manner, bermain golf dan sebagainya? Sedangkan nantinya kalau mereka menikah, akan ada banyak acara bersama milyarder lain, Mam.”
“Tenang saja. Jangan khawatir. Yang penting Luke mau kembali ke sini dan meneruskan usaha keluarga.”
Victoria mendesah khawatir. “Pasti wanita ini benar-benar lahir di keluarga yang biasa saja. Pakaiannya pun terlihat apa adanya. Bagaimana nanti kalau dilihat oleh wartawan yang iseng pergi ke Indonesia mencari Luke?!” batinnya.
Rosetta berkata, “sudahlah. Nikmati dulu udara pantai di sini. Nikmati liburanmu.”
Rosetta dan Victoria sedang berlibur di kota pinggiran pantai. Gold Coast. Yang terkenal akan pantai koralnya. Bisa melihat bawah laut dengan air yang sebening kristal.
Setelah beresah hati, Victoria keluar dari kamar itu menuju kamarnya. Hendak memanggil Luke.
“Ya, Mam?! Kenapa pagi-pagi begini telfon? Di sini masih jam setengah enam,” rengek Luke. Matanya masih terpejam berat.
“Bagaimana? Apakah pacarmu sudah melakukan perawatan!?”
“Iya, Mam. Aku sudah menyuruhnya sesuai perintah Mama.”
“Ya sudah. Bagus kalau begitu. Terus lakukan perawatan untuk dia, ya.”
“Iya, Mammm.”
Panggilan berakhir di sini. Lantas Victoria mendekatkan dirinya ke arah pintu yang tembus ke pemandangan laut biru. Tangannya disilangkan. Menikmati angin pantai di pagi hari ini. Berusaha menghilangkan seluruh kekhawatirannya.