bc

Ice Cream With Benefits (Indonesia)

book_age18+
1.8K
IKUTI
13.8K
BACA
billionaire
possessive
CEO
heir/heiress
drama
comedy
sweet
bxg
city
love at the first sight
like
intro-logo
Uraian

[MATURE CONTENT]

BIKIN BAPER, BIKIN KETAWA GULING2, BIKIN GALAU, BIKIN MELTING! YANG GAK KUAT JANGAN INTIP YA.

KLIK LOVE ❤️ DULU BARU BACA

Dengan pikiran yang buyar akibat alkohol, Gisel menarik pergelangan tangan si pria bule itu. “Tidurlah denganku?!” 

Berani-beraninya dia mengajak pria asing tidur dengan dia? Bagaimana kelanjutan kisahnya?

Published in November.

Follow IG dan Fesbuk page @novelbyreb.

Follow akun author juga.

Happy reading! ^^

chap-preview
Pratinjau gratis
1 - Sleep With Me
“You know that I won’t stop until I make you mine.” — Public. *** Gisel menatap gelas setinggi 10 senti di tangannya. Malam ini sungguh malam yang bebas baginya. Sekarang dia berada di sebuah pulau indah yang kaya akan laut dan pasir pantai. Pulau Dewata. Diteguklah minuman beralkohol yang ia genggam. Dia menikmati angin pantai yang tenang, tidak membuat rambutnya berantakan. Meski musik di dalam restoran bar itu terdengar hingga ke balkon tempatnya duduk, dia tidak merasa terganggu. Bass dari musik itu bergetar hingga ke dalam hati Gisel. Ketenangannya tiba-tiba terusik ketika seseorang mendekatinya. Pria berkulit putih. Gisel menelan ludahnya dengan payah. “Lady, kamu sudah meneguk berapa gelas?! Ceritalah padaku kalau ada masalah,” saran si pria itu dengan santainya. Mendekati wajah Gisel dengan tatapan mata cokelat kacangnya. “A-aku tidak apa-apa,” ucap Gisel membalas tatapan itu. “Oke kalau begitu. Enjoy your night.” Pria itu kembali berpaling dari Gisel. Namun, dengan pikiran yang buyar akibat alkohol, Gisel menarik pergelangan tangan si pria bule itu. “Tidurlah denganku?!” Pria tadi langsung terkekeh kecil. Menertawai permintaan Gisel. Kemudian dia duduk di sebelah si wanita berambut sebahu model bob berwarna hitam ini. “Kamu mabuk.” “A-aku masih waras. Aku cuma tidak ingin dipanggil perawan tua oleh teman-temanku,” bisik Gisel. Berani-beraninya dia mengajak orang asing tidur dengan dia. Tak lama setelah menatap mata cokelat milik pria berbadan fit itu, Gisel berpura-pura mabuk dan tertidur di meja. Entah apa yang direncanakan wanita yang sudah seperempat abad ini. “Yha! Nona?!” panggil pria berkulit putih itu setelah dikagetkan bahwa Gisel tertidur dengan kepala yang tergeletak polos di meja coklat persegi ini. Pria bule yang belum diketahui namanya oleh Gisel, menyentuh-nyentuh lengannya menggunakan jari telunjuknya. “Nona! Kamu tidur?” tanyanya lagi dengan logat bicaranya khas orang asing yang kelihatan kaku. Pria berambut hitam terang ini meracau kesal. “Wanita ini menyusahkan saja.” Lantas, dia berinisiatif membayar alkohol yang sudah dibeli Gisel di kasir. Hanya dua botol bir kecil saja. Tidak mahal baginya. Seusainya, dia kembali ke mana Gisel duduk. Secara tiba-tiba, dia menggendong Gisel dengan gaya wedding night menuju ke parkiran. “Untung ringan. Mana aku tidak tau rumahmu,” gerutunya. Namun saat digendong, Gisel sebenarnya terkejut dan dia sempat mengintip wajah pria itu selama sedetik. Kemudian berakting mabuk dan tertidur lagi saat si bule ini akan menaruhnya di kursi bagian belakang mobilnya. Dia tetap memaksa matanya terpejam. Yang ia rasakan hanyalah suara-suara dari dalam bar dan suara beberapa langkah kaki. Serta Gisel bisa mendegar degup jantung seseorang yang telah menggendongnya ini. Deg deg deg! Seolah penuh dengan kekesalan. Ada tukang parkir yang melirik pada si bule ini. Membuatnya merasa tidak nyaman di dekat mobilnya sendiri. “Uhh ... dia pacarku. Aku akan mengantarnya pulang,” ucap pria bule ini berusaha meyakinkan tukang parkir tersebut agar tidak curiga. Bruk! Si bule bermata cokelat ini melempar Gisel dengan agak kasar di kursi mobil belakang dengan posisi meringkuk. Ingin menjerit tapi nanti akting Gisel akan segera ketahuan. “Aihh,” lirih Gisel kesakitan tetapi segera ia tahan agar tidak bersuara. “Put your hand in mine. You know that I want to be with you all the time. You know that I won’t stop until I make you mine ....” Dalam perjalanan, pria yang sedang menyetir ini menyalakan musik sekeras-kerasnya berharap Gisel bangun. Namun, Gisel tetap memaksa matanya agar tidak membuka hingga akhirnya sampailah mereka ke sebuah hotel di jalan dekat dengan Pantai Kuta. Pria tadi kontan memesan kamar untuk semalam. Apa yang ada di pikirannya sekarang? Bruk! “Bangun kamu! Aku tau kamu pura-pura tidur!” teriak si bule pada Gisel setelah melemparnya ke atas ranjang. Pria ini masih berdiri dan meletakkan tangannya di pinggang. Gisel segera melompat dari ranjang dan mendudukkan dirinya di tepi. “Ta-tau?!” ucapnya sambil meletakkan iPhone 8-nya di nakas. Bersebelahan dengan milik pria yang berdiri di hadapannya. “Tau lah. Biar aku mau tidur sama kamu kan? Kamu pasti mau jual keperawananmu sama bule ya!?” “A—“ Pria bule tadi melanjutkan ucapannya, memotong perkataan Gisel. “Supaya kamu dapet uang banyak?! Sorry to say, I’m not interested in virgin girl. Aku juga tidak tertarik dengan wanita yang melakukan hubungan seksual demi uang. Itu namanya wh*re. Berhubungan dengan perawanan juga repot. Biasanya setelah selesai, dia akan membuntuti si pria. Dia akan merasa si pria harus bertanggung jawab atas hilangnya keperawanannya. Aku tidak suka.” “Stop! Aku tidak menjual keperawananku dan aku bukan pelacur.” Kemudian Gisel berdesis, “Menyebalkan sekali pria ini. Sok tau.” Pria tadi mendekatkan wajahnya ke Gisel. “Benarkah?!” paksanya dengan mata yang menyipit. Gisel dipenuhi dengan emosi di dalam hatinya. “Aku sudah bilang! Aku cuma nggak mau dipanggil perawan tua oleh teman-temanku. Keluargaku juga berharap aku bisa membawa pacar saat natal di rumah.” Setelah menatap mata Gisel dengan dalam, dia bisa memercayai omongannya. Tapi ini sungguh tidak masuk akal juga baginya. Bukankah budaya di sini malah keperawanan dijaga hingga menikah tapi wanita ini ingin merelakan mahkotanya hanya gara-gara omongan teman-temannya. “Sepertinya kamu memang butuh teman bicara. Kamu kelihatan banyak pikiran. We need some drinks,” sarannya pada Gisel. Kemudian dia menelepon pihak hotel untuk mengantarkan lima botol bir khas Indonesia yang ia sukai. Selang beberapa menit menunggu dalam diam dan keanehan di ruangan ini, bir itu pun datang. “Come cuddle. Aku tidak akan bermacam-macam padamu,” ajak pria yang sudah berganti pakaian dengan celana pendek selutut berwarna biru dongker. Tanpa menggunakan kaus sehingga terlihat menggoda. Perut roti sobeknya itu. “Padahal aku berharap kamu bermacam-macam denganku,” lirih Gisel seraya mendekati pria asing tersebut yang sudah menenggelamkan setengah dirinya ke dalam selimut. Pria itu tak terasa sudah menghabiskan satu botol sambil berbicara kecil-kecilan dengan Gisel. Pria itu terlihat baik selama beberapa menit ini. “Aku pun. Tahun baru aku akan balik ke Australia tapi keluargaku semua mengira aku menyukai sesama jenisku. Mereka juga berharap aku mengenalkan seorang wanita,” decaknya kemudian menghela napas dan terkekeh kecil. Gisel pun tertawa. “Itulah kenapa kamu nggak tertarik sama aku?! Kamu gay?” ledeknya. Pembicaraan ini mengalir dengan santainya. Hingga ucapan pria itu mengagetkan Gisel. “Aku akan mengabulkan permintaanmu,” cetusnya sembari memegang kedua pergelangan tangan Gisel. Hingga Gisel sekarang berada di bawah tubuh pria yang seksi itu. “Lagipula badanmu juga bagus, aku tidak akan rugi,” lanjutnya. Mata Gisel berkedip cepat. “Mmm ... mmm tunggu, nama kamu siapa?” “Kenapa? Kamu tidak perlu tau namaku kan? Hmm ... namaku Lucas.” “L-Lucas?! Aku panggil Luke aja. Hmm bir-nya masih ada tiga botol. Ayo kita minum bersama aja supaya lebih ... nikmat!?” saran Gisel. Dia tiba-tiba berubah pikiran mengenai permintaannya lagi. “Sebenarnya Luke adalah namaku tapi kamu malah menyebutnya. Nghhh,” pikir Luke dalam hati. Kurang pintar menyamarkan nama samarannya, sih! “Oh. Aku juga perlu bir lagi! Tapi aku suka memakai gelas. Kamu mau?” ucap Gisel lagi sambil menjauhkan badan Luke perlahan dari hadapannya yang sedang mencoba menindihnya itu. Lantas tambahan bir itu sudah datang. Dengan total sekarang ada 8 bir. “Cheers!” sahut mereka berdua bersulang dengan gelas bir-nya. Keduanya meminum bir itu hingga habis setengah gelas. “Tunggu,” pamit Gisel ke kamar mandi. Di dalam kamar mandi yang terdapat sebuah bathtub berwarna merah muda itu, Gisel meracau. “Ah bagaimana ini!? Aku nggak jadi melepas mahkotaku! Takut sakit!” rajuknya. “Aha!” soraknya dalam hati. Dia menemukan bak sampah kotak berwarna abu-abu yang masih kosong. Dia diam-diam membawa kotak sampah itu tanpa penutupnya. “Pasti dia malu dan dia bersiap untuk malam spesialnya,” batin Luke, sudah sedikit mabuk dan matanya berat. Kemudian mereka bersulang lagi pada ronde ke empat. Tak sesuai ekspektasi Luke, ternyata Gisel menuang setiap inci dari bir itu ke tempat sampah yang sudah ditaruhnya di samping bawah ranjang. Di belakang Gisel. Gisel hanya tinggal membuang bir itu ke arah belakang punggungnya dan masuklah air keruh itu ke dalam kotak sampah tersebut. Pun dia hanya mengambil sedikit-sedikit bir dari satu botol itu. Namun Luke berpikir bahwa Gisel meminumnya juga. “Lagi lagi lagi!” sorak Gisel menyemangati Luke agar meneguk habis isi botol birnya. Di bir ke enam, Luke bergumam sembari terhuyung sakit kepala. “Sudah dong. Aku tidak terlalu suka minum.” Lamun Gisel tetap memaksa menyogokkan botol ke enam itu pada Luke. “Ayo ... aku masih belum mabuk. Temani aku.” “Fine,” balas Luke yang matanya sudah menutup hingga hampir tepar. Mencoba sok kuat di hadapan seorang wanita asing. Tapi .... Bruk! “Lhah?! Udah tepar aja dia,” tawa kecil Gisel. Melihat Luke terbaring dan jatuh terlelap ke dalam mimpi indahnya. “Syukurlah!” Gisel berlarian ke arah saklar lampu, dia mematikan lampu utama dan menggantinya dengan lampu tidur. Kemudian, dia kembali berbaring ke dalam selimut yang sebelumnya dia sudah membuka kaus nya. Kini sudah tak ada sehelai benangpun di d**a Gisel. Dia membenamkan dirinya di sebelah Luke dengan telanjang d**a. Cekrek! Terdengar suara kamera dari sebuah ponsel. Wah, Gisel licik. Dia memotret dirinya sendiri bersama dengan Luke. Berakting layaknya pasangan setelah berhubungan intim. Berkali-kali dia mengambil foto dan menyimpannya. Untuk apa coba? Setelah puas mengambil banyak foto, Gisel menaruh ponselnya kembali di atas nakas putih dengan lampu tidur berwarna kuning. Dengan cahaya kuning hangat yang menyebar ke beberapa inci ruangan ini, Gisel merasa aman sebab Luke sudah tertidur. Sebenarnya dia ingin pulang tapi terlalu malas. Lalu dia memakai kausnya kembali dan menyusul Luke yang tertidur dengan tenang di sebelahnya. “Tidur yang nyaman ya, Sayang, ya. Haha,” bisiknya di dekat telinga pria bule dengan kelopak mata yang tertutup itu. “Lemah juga dia.” Gisel memang aneh. Sebelum lanjut, author mau sampaikan dulu kalau novel ini akan slow update! Jadi mohon bersabar ya? Selagi menunggu, kalian bisa baca ceritaku yang sudah tamat. Judulnya Kapan Move On? Kalau kalian suka cerita Gisel dan Luke, jangan lupa klik love dan follow akun author. Love you!

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Daddy Next Door

read
232.4K
bc

The Naughty Girl

read
101.3K
bc

Aira

read
93.1K
bc

Because Alana ( 21+)

read
364.3K
bc

Billionaire's Baby

read
285.9K
bc

Daddy Bumi, I Love You

read
36.0K
bc

Bukan Cinta Pertama

read
59.0K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook