2 - Sweet Kidnapping

1673 Kata
Lantunan ombak pantai terdengar hingga ke dalam kedai es krim di tepi jalan seberang Pantai Kuta ini. Tak hanya desiran ombak yang mengusir kesepian hati wanita berambut bob ini, namun juga keramaian yang diakibatkan oleh beberapa turis yang sedang bercengkerama di sekitarnya. Tepat pukul 10 pagi, Gisel mencicipi beberapa rasa es krim yang kedainya terkenal di kota ini. Vanilla oreo dan juga waffle yang ia pesan tadi. Diletakkannya di atas meja. Gisel memesan es krim itu tanpa cone. Agak menyusahkan bila dia harus memegangnya terus. Mengapa pula dia memesan es krim untuk sarapan? Selama menikmati kesendiriannya, dia juga membawa iPad berwarna emas merah mudanya untuk menulis. Ya, Gisel adalah seorang penulis. Sebelumnya dia bekerja di sebuah bank swasta. Namun dengan kuat hati, dia menekuni hobinya yang menghasilkan ini. Tidak terikat dengan waktu dan dia puas menjalani hari-harinya sebagai penulis. Meski orang tuanya agak kesal dengan keputusannya, dia tetap bersikukuh untuk mengikuti kata hatinya. Kini, dia menjauhkan diri dari orang tuanya yang berada di Jawa. Terpilihlah Bali sebagai tempatnya kabur karena mimpinya adalah menulis di tepi pantai sambil menghalu cantik. Setelah kenyang sarapan dan menyelesaikan tulisannya berjudul Kapan Move On, dia membereskan barang-barangnya. Dia sama sekali tidak membuka ponselnya sejak tadi pagi setelah dia mengisi daya. Pun dia tak sadar apabila ponselnya bermode airplane. Ting! Langkah kakinya menuntun Gisel keluar dari kedai es krim bertema klasik Italia ini. Tap ... tap .... “Yha! Apa-apaan ini!? Lepasin aku!” teriak Gisel pada dua wanita berpakaian hitam dengan jaket kulit yang sedang memegang kedua lengannya ini. Kemudian memasukkannya ke dalam mobil SUV hitam. Kini Gisel duduk di tengah kursi dengan empat orang yang tak familiar baginya. Dia diapit oleh dua wanita yang lebih tinggi darinya. “Kalian menculikku!” pekik Gisel panik. Siapa yang tidak panik kalau tiba-tiba disergap seperti ini? “Beres. Jalan,” perintah satu wanita tadi pada lelaki yang menyetir di kursi depan. “Yha! Aku akan laporkan kalian ke polisi!” seru Gisel lagi. Wanita berkucir kuda di sebelah kanan Gisel terkekeh. “Bukankah kita yang harusnya melaporkan dia?!” “Kita tutup saja mulutnya dia,” balas wanita yang berada di sebelah kiri Gisel. Dia mulai tak nyaman dengan Gisel yang menjejak-jejak dan tangannya yang memukuli mereka berdua. Gisel sekarang tidak bisa bergerak karena ikatan di tangannya dan mulutnya disumpal dengan kain. Dia hanya bisa menghafal jalanan yang cukup riuh ini. Setelah setengah jam berlalu, kedua wanita terlatih bela diri itu menggiring Gisel ke sebuah kamar yang berada di sebuah villa luas nan artistik. Luasnya sekitar 120 meter persegi dengan kolam renang di hadapan kamarnya. Kemudian tali kain hitam itu dilepaskan dari tangan Gisel. Sebelum Gisel melarikan diri, kedua wanita itu bergegas keluar dari kamar super luas ini. “Setan kalian!” umpat Gisel sembari menggedor-gedor dua daun pintu yang bertautan itu. Gisel berkali-kali mengembuskan napas kesal. Namun batinnya juga penasaran akan villa raksasa ini. Dia mengendap ke arah jendela dan pintu berkaca yang langsung menuju ke arah kolam renang. Sembari mencari jalan keluar lain. Dihirupnya aroma dedaunan yang menghiasi tepi kolam renang berukuran 8x4 meter itu. “Mmh segar juga. Kaporitnya tidak terlalu tajam. Villanya keren.” “Pilihanku memang terbaik.” Suara datar seorang pria membuat Gisel terperanjat. Dia memegang dadanya dan langsung membalikkan badannya. Dengan tas merah marun yang masih menggantung di pundak kirinya. “Kamu!” teriak Gisel melotot. Pria tadi langsung mendorong Gisel ke tembok. Tinggi Gisel hanya sebatas d**a pria tadi. Pria itu langsung menatap mata Gisel tanpa sepatah kata apapun. Merapatkan wajahnya ke wanita yang sedang gemetaran itu. “M-mau apa kamu, Luke!?” Gisel memundurkan dan memiringkan wajahnya menjauhi Luke. Luke terkekeh setelah mendapati Gisel seakan ketakutan bila ia akan menciumnya. “Mana ponselmu?!” “Ha-hapeku?! Kenapa hapeku!?” Gisel heran. “Cepat.” Ketakutan, Gisel segera merogoh ponselnya di dalam tas. Dia memberikan iPhone 8-nya pada Luke dengan tangan yang juga gemetaran. “Dasar pencuri cantik,” gerutu Luke saat mengambil ponsel itu. “Pencuri katamu?! Itu hapeku!” “Ah pantas saja aku tidak bisa menelfon nomorku. Lupa kalau aku kasih mode pesawat semalam. Lupa bawa cas,” gumamnya sendiri. Enggan berdebat, Luke kontan memberikan ponsel yang sama pada Gisel. “J-jadi a-aku keliru?!” imbuh Gisel menerima ponsel tersebut. Lantas dia berpikir sejenak. Flashback On Matahari enggan mengusik kamar yang temaram ini. Masih pukul 4.30. Gisel terbangun dan masih menyadari bahwa ia tidur di sebelah Luke yang mabuk dari tadi malam. Dengan langkah kaki yang bisu, Gisel segera kabur setelah ia mengambil tas dan ponsel yang tak ia lupakan di nakas dengan gesitnya. Dia tidak berniat bertemu dengan pria bule ini lagi. Takut disalahkan apabila dia sudah mengerjai pria itu. Setelah wanita itu hengkang dari kamar yang dipesan Luke ini, dia kembali ke villa kecil miliknya. Yang diberikan oleh orang tuanya tahun lalu sebagai hadiah kelulusan. Kemudian dia mengisi daya ponsel yang ia bawa itu dan pergi melanjutkan tidurnya. Pukul 6, Luke membuka matanya. Mendapati Gisel sudah tidak ada di ruang hotel ini. Namun dia tak acuh. Lebih mementingkan rasa mualnya sehingga dia berlarian ke toilet untuk berkemih. Setelahnya, dia melanjutkan tidurnya lagi hingga pukul 8 setelah meminum sebotol air putih untuk menetralkan tubuhnya. Bir semalam membuat badannya terasa berbobot. Luke terbangun untuk kesekian kalinya. Tangannya meraba-meraba nakas mencari ponselnya. Matanya masih sayup-sayup lengket. Ditekanlah tombol power di ponsel itu, cahayanya tidak terlalu terang. Hangat di mata. “Damn! It’s not my phone!” gerundelnya hingga matanya tak lagi lekat. Wallpaper di layar ponsel itu bukanlah yang ia kenali. “Pasti wanita itu tidak sengaja. Bodoh.” Luke berucap dalam hati sembari memandang ke arah layar ponsel tersebut. Layar itu dipenuhi dengan selfie Gisel yang sedang memegang gelato teh hijau dan vanilla oreo di sebelah pipinya. Gelato yang ia beli saat bertemu dengan teman-temannya di Jogja sebelum ke Bali. Ceritanya adalah perpisahan mereka sebelum Gisel terbang ke Pulau Dewata. “Aku harus cepat-cepat kembali ke villa,” geram Luke. *** “Kalian cari wanita yang ada di ponsel ini,” perintah Luke pada asisten-asistennya. Satu asisten wanita sudah menggenggam ponsel Gisel. “Tunggu!” pekik Luke menghambat wanita tadi yang sedang berjalan keluar kamar. “Kamu ambil foto saja, ponselnya biar ditinggal di sini. Nanti ... kalau ketemu, sergap dia saja danlangsung bawa ... ke villaku,” dehamnya seraya merebut ponsel itu kembali. “Baik, Sir.” “Sudah aku bilang. Jangan bilang Sir. Panggil aku Luke.” Flashback Off Gisel berteriak kaget saat Luke menariknya ke atas ranjang. Apalagi Luke merekatkan wajahnya satu senti di atas wajah Gisel sekarang. Tubuhnya juga bisa dirasakan oleh Gisel. Besar dan berat. Seperti beruang kutub, pikir Gisel. “Kenapa kabur dari hotel? Ha!?” tanya Luke memaksa. “Apa aku kurang berbadan seksi layaknya bule yang lain? Kamu tidak tertarik dengan badanku?” lanjutnya menggoda seraya membuka kaus yang ia pakai. Kemudian menindih Gisel kembali. “Ayo lakukan apa yang sudah tertunda semalam,” ucapnya lagi. “Kenapa main sergap-sergap aku?! Aku bukan pencuri! Aku cuma keliru mengambil hapemu! Hape kita sama kan?!” sahut Gisel melemparkan topik yang lain. Luke terkekeh. “Siapa suruh kamu datang ke kedaiku tadi pagi? Semakin cepat aku menemukanmu kalau begitu. Si bodoh.” “Ya … aku kan tidak tau. Lagian bisa menemuiku secara baik-baik.” “Apa? Baik-baik katamu? Kamu saja tadi pagi kabur. Apakah itu perpisahan yang baik-baik? Mengambil foto denganku juga bukan baik-baik. Apa tujuanmu!?” desak Luke. Gisel mengelipkan matanya. “Uhh ....” Sedetik kemudian, Luke meletakkan jarinya di dagu Gisel. Membuat Gisel menatapnya lagi. “Kenapa? Tidak bisa menjawab?” Luke mengkerutkan dahi. “Bagaimana kalau kamu memberiku sebuah ciuman? Sebagai bayaran atas fotoku yang kamu ambil tanpa seijinku.” “Ha!?” “Kelamaan.” Luke langsung melumat bibir merah muda milik Gisel sembari menyelipkan telapak kanannya ke tengkuk milik wanita itu. Mata Gisel membelalak. Bukannya menikmati tetapi dia sangat benci momen ini. “Cukup!” teriak Gisel mendorong Luke. Segeralah dia berlari mencari jalan keluar dari villa yang baginya terkutuk ini. Pasti sudah banyak wanita yang sering ke sini. Luke memandang Gisel yang pergi dengan tatapan kecewa dan heran. “Sial. Baru pertama kali ciumanku ditolak wanita,” gumamnya terkekeh kecil. Am I not sexy enough? Apakah aku harus sering pergi ke gym lagi agar dia tertarik denganku? Dia terlihat sangat tidak menyukaiku. Atau memang dia polos? *** Gisel sangat membenci hari ini. Dia menenggelamkan dirinya di dalam kamar villa minimalis miliknya itu. Tidak ingin bertemu siapapun. Bahkan jika adik sepupunya mengajaknya, dia kekeh tidak ingin keluar rumah. Pikirannya sedang buyar petang ini. Rambutnya diacak-acak. “Aku sebenarnya suka ciuman tadi pagi! Tapi aku benci mengakuinya! Pula, kamu adalah stranger. Pasti dia juga nafsu doang sama aku. Kesel!” Dia seharian menggerutu akibat ciuman spontan tadi. Di dalam kamar temaram dengan lampu tumblr yang ia nyalakan. Berkelip-kelip. Ingin memudarkan pikirannya, dia hendak melihat foto-foto pantai yang ia ambil kemarin lusa di handphone-nya. “What!? Foto apaan nih!?” ricaunya saat melihat foto Luke yang berswafoto ria menggunakan ponselnya. “Pasti tadi pagi nih! Ah aku nyesel nggak kasih password di hapeku!” Sambil dia melihat 10 foto wajah Luke di layar ponselnya. Ada yang melotot, menjulurkan lidah, memerotkan bibir, dan pose jelek lainnya. Drrrt! “Kaget bangke!” seru Gisel saat sebuah nomor yang diawali +61 muncul di layar w******p-nya. Gisel segera mengangkatnya setelah bergetar selama tiga detik. “Ini aku. Luke. Simpan nomorku.” Tut! “Benar-benar!” Gisel menggerutu hebat. Seenaknya saja pria ini memerintahnya. Di sisi lain di saat yang bersamaan, Luke terbahak. “Siapa suruh hape kok tidak dikunci. Untung saja aku baik. Hanya berfoto dan mengirim iMessage ke nomorku sendiri.” Dia masih berkata dalam hati. “Kemarin minta tidur denganku. Aku sudah mengiyakan malah dia mengerjaiku. Konyol sekali.” Wajah Gisel sudah otomatis terekam di otak Luke. Baru pertama kali dia bertemu dengan wanita yang tidak ingin berhubungan seks dengannya. Seakan ada yang salah dalam dirinya. Setelah beberapa wanita yang ia kencani, masih saja keluarganya mengira dia adalah penyuka sesama jenis. Entahlah. Luke pun sendiri juga heran dengan asumsi keluarganya. Masih mau lanjut lagi, nih? Share cerita ini dulu dong yaaa! Pastikan juga sudah tinggalkan jejak di kolom komentar :p
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN