3 - Cold Agreement

1179 Kata
Maafin author ya slow update. Tapi author usahakan bisa update terus. Share dan love cerita ini kalau kalian suka! Selamat membaca dan terima kasih. Muah! *** Pemandangan pantai sore ini menyita keempat mata kedua anak Adam dan Hawa itu. Matahari masih mampu sedikit menyinari langit senja ini. Tak hanya itu, suara hiruk-pikuk jalanan yang selalu dipenuhi kendaraan dan wisatawan memekakkan telinga mereka berdua.   Haduh! Kenapa harus ngajak ketemu di kedai ini sih!? Kalau aku bertemu Luke lagi bagaimana?!    “Gisel, aku boleh coba es krim kamu?” tanya Markus. Pria bule dari Spanyol yang ia temukan di aplikasi kencan online.   Gisel pun langsung memberikannya.   Dia cukup was-was berada di kedai milik Luke. Ya takut lah! Semalam Gisel menyebarkan foto bermalam mereka berdua waktu itu. Meski hanya disebarkan ke grup w******p teman-teman gengnya.   Dia mengakui bahwa dia sudah berhubungan intim dengan laki-laki tampan dan yang memiliki beach body itu. Padahal kenyataannya bukan begitu. Luke jatuh tertidur. Gisel hanya ingin membuat iri teman-temannya yang sudah mengejeknya perawan tua.   “Kak, ini pesanan es krim waffle tambahannya tadi ya? Boleh saya ambil nomornya?!”   Gisel mendongak dengan tatapan melongo khawatir. “Luke!?” bisiknya sendiri. Dia mengerjapkan mata setelahnya.   Ah tidak-tidak! Bukan dia. Syukurlah.   Lantas Gisel bisa menghela napas lega setelah melihat Luke hanya dalam bayangannya tadi saat pegawai laki-laki itu mengantar pesanannya.   Bunyi ponsel berdering yang menggetarkan meja persegi putih ini membangunkan lamunan Gisel. Namun, itu bukanlah ponselnya.   Markus menerima ponsel itu dengan Bahasa Spanyol yang tak dimengerti oleh Gisel.    “…. Si, si.” Markus berucap melalui telepon genggamnya. Kemudian dia berpamitan pada Gisel. Dia terlihat terburu-buru.   Selang beberapa menit, Gisel menutup cover iPad-nya dan memasukkannya ke dalam tas jinjing merek Marhen.J berwarna beige miliknya. Setelah menjilat habis suapan es krim terakhirnya, wanita yang hobi menari ini mencoba berdiri dari kursi.   “Luke!?” lirihnya dengan mengkerlipkan mata. Pria yang ditemuinya beberapa hari lalu seolah memblokir jalannya sekarang.   Ah pasti bayanganku lagi nih!   Lantas dia mencoba memejamkan mata selama dua detik dan membukanya kembali.   “Haaa!” Hampir saja Gisel berteriak tapi segeralah ia menutup mulutnya sendiri.    “Kaget?!” ucap Luke menyapa. Begitu caranya menyapa? Tidak lazim sekali.    “Minggir,” suruh Gisel.   Luke kekeh mempertahankan kakinya agar tidak bergerak. “No.”   “Apa maumu?!”   Luke memaksa Gisel untuk duduk kembali. Dia tersenyum masam. Berbeda dengan Gisel, tentu saja dia tampak sangat cemas. Kenapa tiba-tiba menarik Gisel untuk duduk lagi? Apakah Luke tahu kalau Gisel memberi tahu teman-teman gengnya? Ah tidak mungkin sepintar itu.   Tangan Gisel sedikit basah saat duduk. Dia hanya diam tetapi hatinya rasanya sudah hilang tertimbun di lautan.    “Ayo ikut aku ke Australia saat tahun baru nanti,” ajak Luke secara tiba-tiba.   Gisel kontan tertawa menanggapi ajakan itu. “Siapa kamu? Ngapain juga aku menghiraukan permintaanmu?!”       Luke menggenggam kedua telapak tangannya di atas meja. Dia terlihat sangat serius. “Aku akan membantumu saat natal nanti. Kamu butuh pacar bohongan untuk dikenalkan keluarga besarmu kan?!”   Meskipun pernyataan itu benar, Gisel agak tidak terima dengan kata pacar bohongan.   Memangnya aku setidak menarik itu untuk memiliki pacar sungguhan?! Kurang ajar dia.   Gisel memincingkan bibir sebelah kanannya. “Dan kamu butuh seorang wanita untuk dikenalkan ke keluargamu agar mereka percaya kamu bukan gay?”   Tanpa basa-basi, Luke mengangguk. “Aku menawarkan ini hanya sekali. Alias penawaran terbatas. Aku beri satu jam untuk berpikir. Lagi pula … aku yakin cowok yang kamu temui tadi terkena klamidia.”   “Sembarangan!”   Luke beranjak dari kursinya. “Whatever. Satu jam ya. Temui aku di dalam kalau kamu setuju. Kamu akan mendapatkan keuntungan … memesan gratis semua menu di sini. Kamu suka es krim kan!?” tawarnya.    “Plus kamu bisa tidur di villa luas sepertiku. Kamar seberang masih kosong. Tentu saja bills on me, termasuk makanmu selama tiga bulan ke depan.  Villa-mu kecil kan? Lumayan kalau kamu pergi dari sana dan menyewakannya, benar?!”   Sial! Bagaimana dia tahu villaku?!   Gisel merengut habis-habisan setelah melihat Luke kembali masuk ke dalam kedai. Malas menanggapi ide gila tersebut. Setidaknya begitu yang dianggap oleh Gisel. Dia melenggang menuju ke sebuah mall yang hanya berjarak 10 meter dari kedai ini. Dia berjalan kaki.   Gisel melepas penat melihat-lihat toko perawatan kulit bertema hijau daun di mall tersebut. Dibelinya sabun pencuci muka yang sudah bertahun-tahun ia pakai. Cukup merogoh koceknya.    50 menit sudah berlalu. Tawaran Luke selalu terngiang di pikirannya. Hingga saat ini saat dia melihat jam tangannya yang berwarna rose gold itu.   Damn!   Teriak Gisel dalam hati ketika membaca pesan di grup chat. Sudah ada jadwal undangan perayaan natal. Juga grup itu menyinggung Gisel. Satu-satunya cucu perempuan yang belum menikah. Adik sepupunya yang lebih muda pun sudah menikah dua bulan lalu.   Napas Gisel tiba-tiba terengah-engah. Tentu saja. Dia berlarian dari dalam mall menuju ke kedai es krim tadi. Butuh hampir satu jam untuk berpikir.   Ting! Bunyi bel kedai es krim ini berdentang. Gisel berdiri di depan Luke yang duduk di pojok ruangan. Jauh dari kerumunan. Masih mencoba mengatur napasnya. Dahinya berkeringat.   “Hff b-baik. A-aku menerima tawaranmu. Asal kita tidak ber-berhubungan seks,” ucapnya gugup seraya mengatur oksigen keluar dan masuk.   Luke melihat jam di ponselnya. “Masih kurang satu menit. Kamu aman. Mhh baiklah. Deal!”   Lalu pria bule ini berdiri dan mengambil sesuatu. Dilemparkannya pada Gisel. “Drink it.”   Kedua tangan Gisel dengan tangkas menangkap botol mineral kecil itu. Dia duduk dan meneguk air dari botol tersebut. Tenggorokan serasa dicekik setelah berlarian dari lantai dua mall tadi menuju kedai ini.    Awas saja kalau dia ingkar janji!   ***   Pagi hari Gisel mencoba membuka matanya.     Masih pukul 6. Dia ingin melanjutkan tidurnya sebab langit masih gelap karena mendung. Dan, semalam dia sudah menari di salah satu studio berkaca dengan beberapa orang. Dia mengikuti kelas tari setelah melihat iklan di i********:. Bagaimana dia tidak berangkat kalau yang dipelajari adalah lagu terbaru dari Itzy berjudul Wanna Be? Tentu dia mau! Lagi nge-tren. Meski dia harus berkamuflase menjadi anak kuliahan lagi di studio.    Namun saat Gisel memejamkan matanya lagi, dia mendengar suara.   Dok! Dok! Dok!   “Fak! Siapa pagi-pagi begini menggangguku?!” gerutunya, menyibak kasar selimut yang ia kenakan.   Pintu itu masih belum berhenti diketuk. Membuat Gisel sebal saja. Akhirnya dia mengalahkan rasa kantuknya dan membuka pintu tersebut.   “Kalian lagi?!” pekik Gisel.   Kedua asisten Luke muncul di depan pintu. Tanpa repot, mereka berdua masuk ke dalam kamar Gisel dan mengambil koper. Memasukkan barang-barang yang sebisanya mereka raih di kamar itu.   Gisel mencoba menghentikan mereka dengan berteriak histeris. “Kenapa ini woy?! Jangan sembarangan pegang milikku ya!”   “Kami diminta Luke untuk membawa kamu dan semua perlengkapanmu ke villa Luke. Ini sudah seminggu kamu mengulur waktu.”   “Luke!!!” teriak Gisel super kesal. Sebenarnya dia agak-agak takut apabila harus berseberangan dengan ruangan Luke nanti. Kalau dia ingin mencumbunya lagi bagaimana? Kan bahaya.   Dengan pedar hati, Gisel membiarkan barang-barangnya ditata oleh asisten itu. Mereka wanita. Jadi ya sudah. Masih aman. Lagi pula tidak rugi, dia jadi bisa bergoleran di kasur sambil melihat mereka sibuk menata perlengkapannya semua. Dasar pemalas.        
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN