REGAN sesekali melirik ayahnya yang tampak sangat terpukul, sejak tadi Bara hanya diam tak mengeluarkan sepatah kata pun. Regan tau ayahnya sangat kecewa. Malam ini ia putuskan untuk menginap di tumah Bara, Regan tak tega membiarkan ayahnya sendirian dalam keadaan terpuruk. “Kamu pulang aja, nanti Bunda nyariin,” suruh Bara saat sudah turun dari mobil Regan. “Aku bakal nemenin Ayah, nanti aku telepon Bunda,” kata Regan. Bara hanya mengangguk, mereka masuk ke dalam rumah Bara dengan suasana yang tidak enak. Regan tau bagaimana tertekannya sang ayah selama bertahun-tahun. Gangguan yang dialami ayahnya bisa-bisa kambuh lagi setelah sekian lama menghilang. Tepat saat tengah malam, Regan terbangun karena mendengar kegaduhan dari lantai atas. Ia berlari dengan kencang menuju kamar ayahnya, t

