“RENATHA.” Merasa namanya dipanggil, wanita cantik itu pun menoleh. “Hai, Bara. Ada apa?” sapa Renatha dengan tersenyum manis, tapi ada sedikit kurang nyaman saat lelaki itu ada di depannya seperti saat ini. “Boleh aku berkunjung ke rumah kamu? Untuk ketemu sama anak-anak,” pinta Bara penuh harap. “Hm? Bukannya kamu bisa nemuin mereka di luar? Regan juga suka bareng kamu, kan? Kamu juga bisa ajak anak-anak ke rumah kamu,” tanya Renatha bertubi-tubi. “Kamu tau, kan, Revan sama Rain nggak mau lihat aku. Please, izinin aku bertamu ke sini buat nemuin anak-anak,” mohon Bara dengan memegang telapak tangan Renatha. Melihat Bara memelas membuat Renatha kasihan. Renatha memutukan untuk mengangguk. Ketika langkah kakinya tak terus berjalan menuju kamar, Renatha masih merasa jika Bara terus men

