“Maksud lo apa? Kita anak yang hadir tanpa pernikahan gitu? Alasan kita nggak punya ayah karena Bunda sama pacarnya melakukan kesalahan, gitu maksud lo?” bentak Regan dengan mata berkilat marah. “Coba lo pikir, kenapa kita nggak punya ayah kayak anak lainnya? Kenapa Bunda nggak pernah kasih tau kita di mana Ayah?” Revan mulai berkaca-kaca mengingat kembali beberapa memori masa kecilnya yang selalu diejek dan dihina. “Dek, lo kenapa tiba-tiba bicara soal ini?” Regan mulai melembut ketika melihat mata adiknya berkaca-kaca. Perlahan emosinya hilang saat Revan hanya diam dengan kepala tertunduk, Regan merasa sangat bersalah karena telah membentak Revan. Bukan maksudnya berkata kasar, tapi ia tak ingin mendengar tentang ayahnya yang sama sekali tidak ia ketahui selama ini. “Gue pengin tau r

