10

1567 Kata
" Abang yakin gak ikut ? Bunda kan jadi gak pengen pergi kalo kalian gak ikut " Renatha menatap sendu kedua putranya " Abang gak bisa Bun, soalnya ada tiga ulangan harian seminggu ini. Tapi Abang bisa jaga diri kok Bun, jadi gak perlu khawatir sama kita " Regan meyakinkan ibunya dengan tersenyum lembut, ia sangat kasihan dengan Renatha yang selalu memikirkan anak-anaknya ketika di tinggal pergi Sejak lahir Renatha memang tidak pernah meninggalkan anak-anaknya sendirian ke tempat yang jauh apalagi sampai berhari-hari. Walaupun ada Ririn sebagai kepercayaan untuk mengawasi anak-anaknya, tapi tetap saja Renatha tidak akan pergi jika tanpa anak-anaknya. Terutama Rain, anak bungsu yang begitu manja dan mudah sekali sakit jika tidak di jaga dengan ketat. " Revan sama Abang bisa jaga diri selama Bunda di Prancis, jadi Bunda tenang aja ya jangan terlalu khawatir " Revan memegang kedua tangan ibunya lembut, guna memberikan keyakinan jika ia akan baik-baik saja ketika dalam waktu seminggu sang ibu sedang ada pekerjaan di luar negeri " Ya udah, tapi janji kalian harus telfon Bunda setiap selesai shalat subuh, pulang sekolah sama pas mau tidur " Regan dan Revan mengangguk antusias Ini kali pertama mereka akan di tinggal pergi oleh ibunya setelah belasan tahun, sang ibu selalu takut saat jauh dari anak-anaknya. Tapi untuk Rain, Renatha benar-benar tidak bisa meninggalkan putra bungsunya meskipun hanya satu hari. Rain itu juga sama seperti kedua kakaknya suka melakukan hal-hal yang pasti membuat lelah seperti olahraga, latihan beladiri, kursus renang dan beberapa hal lainnya. Tetapi Rain tidak bisa melakukan itu tanpa izin yang pasti dari Renatha, karena kondisinya yang begitu lemah dan mudah sekali sakit. Dari kecil daya tahan tubuh Rain begitu lemah, mudah sekali terkena flu, demam dan berbagai macam sakit lainnya. Itu sebabnya Rain selalu mendapat perhatian lebih untuk kesehatan dan juga kegiatan yang di lakukan benar-benar Renatha pantau. Revan dan si sulung juga selalu memantau kegiatan Rain. Mereka begitu takut jika Rain akan kelelahan dan berakhir sakit atau bahkan sampai masuk ke rumah sakit. " Bun Rain udah siapin semuanya, karena disana musim dingin jadi jaket Bunda juga udah Rain masukin ke koper Bunda " Rain yang terlihat berkeringat banyak membuat ketika orang di ruang tengah menatap kaget Jadi sejak tadi anak itu tidak ada karena mengemasi barang-barang yang akan dibawa. Astaga, Rain ini terlalu antusias untuk pergi ke luar negeri, sampai-sampai barangnya di kemas sendiri. " Ya ampun sayang, ayo duduk sebelah bunda " Renatha menepuk kursi di sebelahnya " Ya Allah Rain, kenapa di kemas sendiri sayang. Nanti kalo kamu capek gimana " dengan wajah khawatir Renatha mengelap wajah putra bungsunya yang penuh dengan keringat " Rain gak selemah itu Bunda " Rain menatap sendu Renatha, ia tak mau di anggap remeh karena kondisinya " Sayang bukan begitu maksud Bunda, tapi Bunda agak kurang percaya kalo kamu bisa nata barang-barang kita di dua koper aja " pungkas Renatha, menatap Rain sedikit cemberut " Hahaha " tawa Regan dan Revan langsung pecah mendengar perkataan Renatha yang terakhir " Hah Bunda kok gitu sama adek si Bun " rajuk Rain " Hahaha udah Bun sekarang kita cek aja kopernya " ajak Regan yang masih tidak bisa berhenti tertawa melihat wajah Rain " Oke siapa takut, ayo periksa rapih kalo Rain yang nata " mereka semua berjalan menuju kamar Renatha yang berada di sebelah kamar Rain Dengan percaya diri Rain membuka pintu kamar Renatha lebar-lebar lalu bersidekap d**a seakan ia melakukan pekerjaannya dengan sukses. Renatha, Regan dan Revan saling pandang melihat beberapa janar koper disana. Mereka akan pergi hanya satu Minggu. Tapi koper yang ada di kamar Renatha ada Lima, seakan-akan akan pindah rumah. " Itu punya Bunda sama Rain kok, bukan punya Bunda aja " Rain memberitahu " Sayang,kok banyak banget ? Kan kita pergi cuma satu Minggu bukan selamanya " tukas Renatha " Coba bang Regan periksa tatanannya ya " Regan membuka satu koper Mereka melotot melihat isi koper, terkecuali Rain yang menata tentunya. Regan mengeluarkan satu persatu baju dan juga sepatu yang di masukkan ke dalam koper secara sembarangan. Semuanya di masukkan menjadi satu tanpa ditata rapih, bahkan ada beberapa yang tidak di lipat dan langsung di masukkan dengan penggantung bajunya. " Rain ini harus di lepas terus di lipet yang rapih, dan sepatunya bukan kaya gini naruhnya. Aduh Bun, dia harus dikasih tau caranya menata barang di dalam koper dengan benar " Revan geleng-geleng kepala melihat semua isi koper yang sudah di buka " Ya udah nanti Bunda tata lagi, sekarang kita makan siang yuk pasti kalian udah pada laper " ajak Renatha " Laper banget, apalagi Rain udah nata koper jadi tenaganya abis. Bang Revan gendong " tanpa aba-aba Rain melompat ke punggung Revan " Ish, jangan langsung lompat entar jatoh dodol " gerutu Revan lalu berjalan ke ruang makan Renatha mengambilkan makanan untuk anak-anaknya, makan siang kali ini ia tak bisa masak karena baru pulang dari butik. Jadi Bu Asih yang memasak untuk mereka, untungnya Bu Asih selalu ada buat mereka meskipun sudah tua. Tetangganya itu begitu baik dan meminta untuk menjadi pembantu di rumah Renatha karena tidak mau jauh-jauh dari triplets. Renatha menolak ketika Bu Asih meminta untuk menjadi pembantu di rumah Renatha, akhirnya Renatha memutuskan untuk menjadikan Bu Asih pengasuh anak-anaknya terutama Rain. " Bun, bang Revan mau ke rumah sakit lagi abis ini, kata Raka Mama Gilang mau keluar bentar jadi minta tolong sama kita buat jagain Gilang " ujar Revan " Oh iya. Itu sekalian kamu bawa kue yang Bunda buat kemarin buat camilan disana, dan ada buah juga kamu bawa buat Gilang ya " kata Renatha " Emang bang Gilang sakit apa ?" Tanya Rain penasaran " DBD, kata dokternya si udah lumayan membaik jadi bisa cepet pulang " jawab Revan *** Revan berjalan santai menuju kamar inap Gilang dengan paper bag yang di berikan Renatha. Suasana rumah sakit sedikit berisik karena ada beberapa suster dan orang mendorong tiga brangkar. Terlihat ada dua orang terluka parah dengan darah yang mengalir begitu banyak dari kepala dan anggota tubuh lainnya. Sedangkan brangkar yang terakhir ada seorang laki-laki yang juga di lumuri banyak darah di seluruh wajahnya, tapi laki-laki itu terlihat tidak bergerak sama sekali. Berbeda dengan dua orang lainnya yang masih sadarkan diri meskipun tak bergerak. " Astaghfirullah, semoga mereka diberikan kesembuhan agar bisa berkumpul lagi sama keluarganya " gumam Revan Melihat beberapa orang yang sudah menajuh dan suasana rumah sakit sudah lumayan tenang, Revan kembali melanjutkan jalannya menuju ruang inap Gilang. Disana sudah ada tiga temannya yang sudah menjaga Gilang, yaitu Raka, Ali dan Vito. " Weh akhirnya dateng juga lo ya. Lama kita nunggu " cerca Ali " Sorry, tadi macet terus ada kaya korban kecelakaan gitu. Jadi gue liat bentar sama ngasih mereka jalan " terang Revan " Eh nih dari Bunda, katanya buat cemilan " Revan meletakkan satu paper bag yang di bawanya Revan berjalan menuju brangkar Gilang, lalu meletakkan buah yang dia bawa. Gilang tersenyum melihat Revan begitu perhatian pada dirinya, sudah kebiasaan Revan memegang kening Gilang untuk melihat keadaannya. Walaupun suka urakan, tawuran, terkenal brandal tapi Revan begitu perhatian pada orang-orang terdekatnya. " Gue udah baikan kok Van, thanks ya lo udah perhatian sama gue " ucap Gilang tulus " Gue udah anggep lo jadi adek gue sendiri setelah Rain, ya meskipun lo sebulan lebih tua dari gue si. Jadi jangan bulang makasih, kalo gue kasih perhatian ke lo " " Eh Van ini buatan Bunda kan ?" Tanya Ali " Iya kenapa ?" Tanya Revan cuek " Salamin ya, bilang makasih dari kita semua " lanjut Vito Revan hanya mengangguk menanggapi ucapan Vito, ia masih fokus melihat Gilang yaitu masih lemas. Ini sudah hari ke lima Gilang di rawat, Revan merasa sedih melihat sabatnya yang tak kunjung sembuh. " Van dia belom makan, katanya bosen sama makanan rumah sakit " adu Ali Revan menghembuskan nafas lelah, Gilang sangat susah disuruh untuk makan. Apalagi saat ada di rumah sakit seperti ini. " Ya udah, lo mau makan apa biar gue cariin sekarang " tanya Revan perhatian " Tapi di luar ujan, lo disini aja entar gue makan makanan dari rumah sakit yang udah ada " tolak Gilang tidak enak karena terlalu sering menyusahkan teman-temannya " Udah bilang aja, gue sekalian keluar mau cari minuman buat yang lain juga " paksa Revan " Gue pengen bubur ayam di deket rumah makan pak Jono deket persimpangan jalan, sama s**u ultra milk yang full cream " akhirnya Gilang mau mengatakan ya ia inginkan " Gue cabut dulu bentar, kalian jangan pada pergi sebelum gue dateng " Regan langsung keluar mencari apa yang di inginkan oleh Gilang Untungnya tadi ia membawa mobil karena paksaan dari Renatha, jika tetap kekeuh membawa motor mungkin tak bisa mencari apa yang Gilang inginkan. Dengan tangannya yang fokus pada pengemudi, Revan celingukan mencari rumah makan pak Jono yang di maksud oleh Gilang. Beberapa menit mencari akhirnya Revan melihat yang ia cari. Sebelum turun, Revan mencari payung yang biasanya di letakkan di kursi belakang pengemudi. Hujan semakin deras di sertai angin, jadi banyak pelanggan yang tidak bisa meninggalkan rumah makan pak Jono. Itu sebabnya rumah makan terlihat begitu ramai, padahal pembelinya sudah selesai makan hanya tinggal pulang. Revan tidak langsung memesan bubur yang Gilang mau karena takut tidak bisa langsung kembali ke rumah sakit. Akhirnya ia memilih duduk disana dengan memesan segelas teh hangat. Revan memainkan ponselnya sebentar untuk memberikan kabar pada teman-temannya, lalu mengabari ibunya. Karena hujan tak kunjung reda Regan memilih bermain game.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN