PAGI ini rumah kediaman keluarga Martino terasa mencekam, pasalnya ibu mertua dan menantunya sering terlibat pertengkaran. Bukan rahasia lagi jika hubungan mereka sangat tidak baik, hanya karena seorang mertua yang selalu desak menantunya untuk segera memberinya cucu.
“Ma! Stop!” teriak laki-laki dewasa yang baru turun dari kamarnya.
“Oh, Bara, sekarang kamu berani bentak Mama gara-gara wanita mandul ini?” murka Saras. Wanita paruh baya itu selalu saja mengatakan hal yang tidak benar, bahkan selalu mendesak putranya untuk menikah lagi demi mendapatkan momongan.
Pernikahan Bara dan Nabila sudah berjalan tujuh tahun, tapi mereka tak kunjung dikaruniai anak. Berbagai macam pemeriksaan dan pengobatan sudah dilakukan oleh Nabila, tapi nihil.
“Bukan gitu, tapi ini masih pagi. Bisa nggak, sih, Mama sama Nabila nggak buat keributan sekali aja?” kata Bara terlihat frustasi.
“Istri kamu yang nggak becus ini salah, harusnya dia nggak melawan kalau dikasih tau sama orang yang lebih tua. Kalau dulu Mama tau dia nggak bisa punya anak, mana setuju Mama nikahin kamu sama perempuan seperti dia. Nggak guna!” teriak Saras sebelum meninggalkan semua orang.
“Aku capek sama mama kamu!” Nabila ikut berteriak di depan Bara.
“Kenapa kamu nyalahin Mama? Wajar, kan, kalau dia nuntut seorang cucu sama mantunya?” pungkas Bara.
“Mamamu keterlaluan, harusnya dia nggak terus-terusan nyalahin aku. Kamu sendiri tau selama enam tahun ini aku selalu berusaha untuk mendapatkan anak dengan cara apa pun. Bahkan dokter mengatakan aku nggak bermasalah setiap kali periksa,” geram Nabila.
“Kalau kamu nggak ada masalah kenapa kita masih belum punya anak?” sergah Bara, tak bisa menahan emosi.
“Harusnya kamu juga nyadar, bisa aja kamu yang mandul kan?” marah Nabila.
Bara menatap tak suka pada Nabila yang pergi begitu saja meninggalkan dirinya. Wanita itu kini berubah menjadi wanita yang mudah marah dan tersinggung, bahkan.
Dulu dia adalah gadis baik yang tidak pernah membantah jika orang tua mengatakan sesuatu, tetapi semuanya berubah ketika ibu mertuanya selalu mendesak untuk memiliki seorang cucu. Saras memang keterlaluan, dia tidak mau mendengar penjelasan apa pun dari Nabila. Yang dia mau hanyalah seorang cucu. Saras terang-terangan meminta Bara untuk mencari wanita lain yang bisa memberikan cucu untuknya.
“Nggak mungkin kalau gue yang mandul, karena dulu Renatha hamil meskipun gue lakuin sekali.” Bara menggeram.
Rumah tangganya semakin lama semakin memburuk. Pagi ini tak ada lagi sarapan bersama seperti dua hari yang lalu. Bara pergi ke kantor dalam keadaan lapar, semalam ia juga tidak makan malam karena pertengkaran ibu dan istrinya lagi. Seluruh hidupnya semakin runyam karena tak kunjung mendapat momongan.
“Nabila, kamu yakin mau tetap menjalin hubungan ini? Aku kenal kamu. Nggak mungkin kamu setega ini mau menghianati suami kamu,” ujar lelaki di depan Nabila.
“Aku muak sama hidupku, mereka selalu nyalahin aku karena nggak punya anak meskipun sudah menikah selama tujuh tahun,” jawab Nabila frustasi.
“Tapi, cara seperti ini untuk menyelesaikan masalahmu ... kamu bisa bicara baik-baik sama Bara.” Nabila hanya diam mendengar nasehat lelaki di depannya itu.
“Kamu masih sayang, kan, sama aku? Kamu masih cinta sama aku? Perasaan kamu buat aku masih sama seperti dua belas tahun yang lalu, kan? Jawab aku jujur Brian,” tanya Nabila penuh penekanan.
“Nggak ada yang berubah dari perasaan aku ke kamu, tapi akan salah kalau aku memaksakan perasaan ini buat kamu. Aku nggak mau jadi orang egois karena menuruti permintaan konyol kamu. Kamu wanita bersuami yang tidak bisa aku miliki,” jelas Brian.
Brian memang masih begitu mencintai Nabila, berbagai macam cara sudah ia lakukan untuk melupakan semuanya wanita yang kini duduk di depannya dengan wajah sedih. Nyatanya perasannya pada Nabila begitu besar hingga ia tak bisa melepaskan wanita itu meskipun sudah menikah, tapi ia tidak mau egois karena permintaan tidak masuk akal yang Nabila katakan.
“Oke, kalau kamu nggak mau. Aku akan cari laki-laki lain yang mau menyetujui permintaan aku.” Nabila langsung beranjak pergi meningkatkan Brian.
Mendengar perkataan Nabila, Brian langsung ikut berdiri mengejar Nabila. Ia tak mungkin membiarkan wanita yang dicintai melakukan hal bodoh yang akan membuat hidupnya berantakan. Ketika melihat Nabila masuk ke dalam mobilnya dengan segera Brian berlari untuk mencegah kepergiannya.
“Jangan bodoh!” bentak Brian tepat di depan wajah Nabila.
“Jangan halangi aku, kamu nggak perlu ikut campur!” teriak Nabila penuh amarah.
Brian kesal dan marah melihat Nabila masih tidak mau mendengarkannya. Ia menarik paksa Nabila menuju ke mobilnya, membawa Nabila pergi dari sana. Bahkan mobil Nabila ditinggalkan begitu saja tanpa berpikir panjang. Dalam perjalanan, Brian hanya diam tak mengeluarkan sepatah kata pun, matanya fokus pada jalanan, begitu juga Nabila yang hanya diam melihat ke arah luar melalui jendela mobil.
Mobil Brian berhenti di rumah sederhana yang terletak sendirian. Brian keluar dari mobil lalu kembali menyeret Nabila untuk ikut masuk dengannya. Nabila hanya diam mengikuti Brian yang terus menariknya ke sebuah kamar. Ia di dorong kuat hingga terjatuh ke ranjang, tak ada perlawanan sedikit pun yang ingin Nabila keluarkan.
“Kamu nggak akan bisa menghentikan aku setelah ini, karena ini yang kamu mau. Aku akan buat kamu benar-benar hamil anakku dalam waktu dekat,” desis Brian tajam.
Nabila tak menjawab, ia hanya diam membiarkan Brian membiarkan lelaki itu melakukan hal apa pun pada dirinya. Hanya ini cara yang bisa ia lakukan untuk membuktikan jika rahimnya bisa dihuni oleh makhluk kecil yang begitu dia dambakan selama bertahun-tahun.
Renatha tengah berkutat dengan komputer di depannya, sejak kemarin ia haru menyelesaikan tugasnya lebih awal. Pasalnya ia akan pergi ke Prancis untuk menjadi acara fashion busana, ini pertama kalinya Renatha akan pergi meninggalkan anak-anaknya. Meskipun hanya lima hari, tapi rasanya begitu berat meninggalkan anak-anaknya tanpa pengawasan.
“Bunda! Abang datang!” teriak Revan dari arah pintu.
“Aduh! Anak Bunda yang ganteng! Sini, Sayang,” panggil Renatha lembut.
“Duh, enak banget jadi Revan. Bundanya baik banget, cantik lagi,” puji salah satu teman Revan.
“Iya, dong! Kan ... Bun sakit!” Ucapan Revan berganti menjadi teriakan ketika merasakan jeweran di telinganya.
Terdengar gelak tawa dari ketiga teman Revan, Renatha masih menarik telinga putranya. Baru ia lepas ketika melihat wajah memelas Revan yang sudah merah.
“Ih! Kok, Bunda tiba-tiba jewer Revan, sih!” rengek Revan yang masih memegangi telinganya.
“Kamu nggak salam malah teriak-teriak. Ini bukan hutan, Sayang,” ujar Renatha dengan tersenyum lembut.
“Hehe ... khilafah, Bun. Habisnya ini cecurut pada pengin cepet-cepet ketemu sama Bunda,” elak Revan.
“Bunda nggak suka kamu menyalahkan orang lain, Sayang,” tandas Renatha.
Teman-teman Revan semakin tertawa. Biasanya Revan selalu memperlihatkan wajah garang dan cuek. Namun, sekarang terlihat manja di depan sang ibu, begitu berbeda dari yang mereka semua kenal.
“Kalian udah makan siang?” tanya Renatha perhatian.
“Belum, kita langsung ke sini tadi pas pulang sekolah,” jawab Revan.
“Ya, udah. Makan dulu sana, tuh, Bunda udah siapin makanan buat kalian semua.” Teman-teman Revan segera melihat makanan yang Renatha tunjuk. Mereka makan dengan lahap, membuat Renatha tersenyum.
Renatha bersyukur melihat putranya memiliki teman-teman yang mau menerima kekurangan Revan. Apalagi jika membahas kata ayah, Renatha sempat berpikir jika tidak ada yang mau berteman dengan putranya jika mereka tau Revan tidak memiliki seorang ayah. Namun, nyatanya ia salah, Revan memiliki banyak sekali teman baik yang selalu ada satu sama lain.
“Selesai makan kita langsung ke rumah sakit aja, Mama Gilang chat gue katanya mau keluar bentar. Dia minta tolong buat kita jagain Gilang bentar,” beritahu Raka.
“Gilang masih belum sembuh?” tanya Renatha melihat ke arah empat remaja itu.
“Iya, Bunda. Dia masih belum sembuh,” jawab Ali sedih.
“Kalian yang sabar, ya, dan harus selalu ada di samping Gilang selama dia dalam kesusahan. Jangan tinggalkan salah satu teman kalian apa pun yang terjadi, janji sama Bunda, ya,” pesan Renatha dengan tersenyum lembut.
“Iya, Bunda cantik,” jawab mereka serempak. Kebahagiaan Renatha sudah cukup, ia tak ingin apa pun lagi.
Melihat anak-anaknya bahagia adalah sebuah kebahagiaan yang tidak ada tandingannya, tapi satu yang ingin sekali Renatha gapai, yaitu bertemu dengan kedua orang tuanya yang sudah begitu lama ia tinggalkan. Mereka adalah orang yang memberikan hidup pada dirinya, memberikan kebahagiaan dan segalanya.
“Assalamualaikum, Bunda. Rain datang!” teriak Rain.
Pintu ruangan Renatha terbuka lebar, menampilkan seorang remaja tampan yang terlihat ceria. Rain segera menghampiri ibunya dengan tersenyum ceria seperti biasanya. Kemudian mencium tangan sang ibu, teman-teman Revan sudah biasa melihat Rain.
“Waalaikumsalam,” sambut Renatha.
“Yang lain nggak jawab, siap-siap aja masuk neraka j*****m,” dengkus Rain sambil menekan kata neraka.
“Waalaikumsalam,” jawab Revan dan teman-temannya serempak.
“Oh, iya, gue bawa sesuatu buat Gilang. Nih! Titip, ya, kalau kalian ke rumah sakit.” Rain memberikan kantong plastik berisi roti tawar, s**u kental manis putih dan cokelat, buah-buahan, serta beberapa camilan.
“Ya, ampun, Rain. Dia itu sakit, mana sempat makan camilan,” ujar Ali.
“Camilannya buat yang jenguk, tapi kalau nggak mau jangan dimakan,” cerca Rain memasang wajah tengil.
“Eh, gue nggak pernah nolak makanan gratis. Lo tenang aja, ini semua pasti langsung abis entar,” sahut Ali cepat.
“Huh, lo kalau urusan makanan nggak pernah absen buat makan,” sergah Rain.
“Makanan itu penting, Rain. Jadi, gue nggak bisa absen soal ini,” jawab Ali dengan mengelus perutnya.
“Perut lo buncit pasti,” ledek Rain.
“Enak aja. Nih! Perut gue seksi gini dibilang buncit.” Ali memperlihatkan perutnya yang sixpack pada Rain, membuat Rain menatap kagum.
“Padahal doyan makan,” gumam Rain masih heran.
“Meskipun doyan makan, kalau rajin olahraga bisa aja punya perut kayak gitu Rain,” jelas Raka.
“Ya, udah. Entar gue juga mau kayak gitu perutnya.”
Renatha mengalihkan pandangannya pada Rain. “Boleh kalau Rain mau punya perut kayak mereka, tapi ingat kesehatan kamu,” peringat Renatha.
Rain hanya mengangguk lemah mendengar perkataan ibunya, ia tau betul jika tubuhnya begitu lemah. Tidak seperti kedua kakaknya yang bisa melakukan apa pun tanpa harus terlalu memikirkan fisik mereka.
Kedua kakaknya bisa melindungi diri mereka sendiri, sedangkan ia harus menunggu bantuan orang lain. Rain tidak bisa melakukan hal yang membuat dirinya lelah atau terluka, karena itu akan membuatnya berakhir di rumah sakit.