Chapter 14

1104 Kata

Dalam waktu beberapa menit, Atayya benar-benar menumpahkan air matanya di pelukan Regan. Sebab, ia masih merasa kalau bentakan itu adalah suatu hal yang sangat menyakiti hatinya – ia tahu bahwa menyembunyikan hal itu bukanlah sebuah hal yang serius. Lagipula, kejadian itu baru saja terjadi kemarin. Suara ketukan pintu terdengar dan membuat Atayya tersadar dan hendak melepaskan tubuhnya dari dekapan Regan. Namun, Regan malah menahannya dengan mengeratkan pelukannya. “Siapa?” tanya Regan sembari menatap pintu ruang kerjanya yang masih tertutup dengan rapat. “Saya, Pak,” jawab Sabhira. “Hal penting?” tanya Regan lagi. “Rapat Pak Regan akan dimulai 10 menit lagi,” jawab Sabhira. “Tunda sampai satu jam ke depan. Tidak ada penolakan atau rapat tidak usah dilaksanakan sekalian,” sahut

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN