Ucapan Rena hari itu sukses membuat Atayya terus saja memikirkannya. Bahkan sampai membuatnya muak dengan dirinya sendiri. Sesekali Atayya mengatakan pada dirinya sendiri, bahwa segala hal yang terjadi adalah sebuah proses pendewasaan diri. Namun tetap saja, ia terus terpikirkan perihal Regan, bos besarnya di kantor. “Atayya!” panggilan itu membuat Atayya tersadar dari lamunannya. “Kenapa, Bel?” tanya Atayya pada Abel yang tadi memanggil namanya. “HP kamu tuh,” ucap Abel sembari menatap ponsel Atayya yang sedari tadi mendapat sebuah panggilan suara. Atayya segera meraih ponselnya yang ia letakkan di atas meja kerjanya, kemudian gadis itu menempelkan benda persegi panjang itu ke telinga kanannya. ... “Hallo, Pak.” “Kenapa baru angkat?” “Maaf, Pak.” “Melamun kamu?” “Heheh

