Hampir setahun sudah Atayya bekerja di kantor Regan, tidak ada lagi yang membuatnya merasa dikucilkan di sana. Hanya ada perkataan baik yang ia dengar tentangnya dan hanya ada perlakuan baik yang ia dapatkan di sana. Jelas saja hal itu membuat Atayya merasa begitu senang, dan ia pun juga merasa betah untuk bekerja di sana. “Pak Regan kenapa belum kelihatan?” tanya Atayya pada angin di hadapannya, ketika gadis itu berdiri di lobby dan jarum jam sudah menunjukkan pukul tujuh lewat lima puluh lima menit, yang mana sebentar lagi jam kerja akan dimulai. “Atayya!” panggil Sabhira yang baru saja datang, kemudian ia setengah berlari menghampiri gadis itu. “Nungguin siapa?” tanyanya. “Pak Regan,” jawab Atayya apa adanya. “Kemarin dia bilang kalau mau sarapan nasi goreng buatan aku lagi,” un

