19. KEMBALINYA NANDO

1127 Kata
Sudah satu minggu berlalu pasca operasi, kini keadaan Rania sudah jauh lebih baik. Meski awalnya Rania sempat syok ketika tahu dirinya mengalami keguguran, tapi kehadiran Rakha serta kesabaran lelaki itu yang terus mendampingi Rania sepanjang waktu, membuat Rania perlahan mulai bangkit dari keterpurukan yang dialaminya secara bertubi-tubi. Luka pasca kecelakaan yang menyebabkan dirinya buta, belum juga sirna, kini Rania harus kembali menerima kenyataan kalau-kalau dirinya bisa saja mandul akibat keguguran yang dia alami saat ini. Dan kenyataan itu semakin membuatnya dilanda sedih berkepanjangan. Meski terkadang sepulas senyum hadir menghiasi wajahnya, namun dalam lubuk hatinya yang terdalam, Rania tak hentinya menangis, menjerit, merintih menahan pedih yang terus merundung hidupnya tanpa henti. Dan menjadi satu hal yang terus Rania syukuri hingga saat ini, adalah tentang Rakha. Benar apa yang dikatakan lelaki itu minggu lalu, di malam sebelum Rania keguguran. Rakha bilang, dia akan senantiasa menjaga dan melindungi Rania, lalu menggenggam tangan Rania sambil berkata, "Kita akan melewati ini semua bersama-sama..." Itulah yang kini Rakha lakukan. Seolah tak mengenal lelah, Rakha menjalani segala aktifitasnya di rumah sakit selama Rania di rawat. Devano sendiri yang memberi keringanan kepada Rakha untuk bisa mengambil cuti dadakan. Dan Rakha sangat terbantu karena hal itu. Jadilah, ruang rawat inap Rania menjelma sebagai rumah ke dua bagi Rakha. Rakha sama sekali tak pulang selain untuk mengambil pakaian bersih untuk dirinya dan Rania berganti pakaian. Dan selama di rumah sakit pun, Rakha tak akan keluar dari kamar rawat Rania selain untuk mencari makan. Untungnya dia sempat mendapat pinjaman uang dari Wisnu tapi sudah dia ganti, karena kemarin dia baru saja menerima gaji pertamanya dari hasil dia bekerja di perusahaan Dirgantara. Meski, awalnya Rakha tidak percaya dengan nominal angka yang diterima di dalam rekeningnya saat itu. Sebab, nilainya terbilang sangat besar bagi Rakha. Atau mungkin, memang itu gaji sekelas manager perusahaan, entahlah. Semoga saja gaji ini murni atas hasil jerih payahnya, bukan atas dasar kekeluargaan. Sore tadi, serombongan orang datang menjenguk Rania. Kata Devano, itu rombongan keluarga Zia dan Rayyan dari Bandung, yakni Bapak dan Ibu mertua Devano, juga Delisha. Sudah dipastikan mereka memang keluarga besar. Karena jumlah mereka sangat banyak, sampai-sampai ruangan rawat Rania yang memang luas penuh oleh kerumunan orang. Bahkan ada di antara mereka yang memakai cadar. "Kenalin nih Kha, sobat gila-gilaan gue sewaktu di SMA, yang sekarang jadi kakak iparnya Delisha, namanya Akmal," ucap Devano memperkenalkan seorang lelaki berwajah tampan dengan senyumnya yang terlihat ramah. "Akmal," "Rakha," Mereka berjabat tangan sejenak. "Dia ini dokter spesialis di Amerika. Sekarang aja lagi cuti, makanya bisa mampir ke sini," tambah Devano lagi. Rakha hanya menganggukkan kepala tanda mengerti. Kekaguman tampak dalam tatapan hangat matanya. "Btw, sebenernya ada yang mau gue omongin juga sama lo Dev, tentang donor mata buat Rania. Kebetulan, di Amerika itu lumayan gampang cari pendonor mata di banding di Indonesia. Gue cuma butuh rekap medis dari laboraturium tentang seberapa parah kerusakan kornea mata Rania aja sih, nanti sehabis gue cuti dan gue balik ke Amerika, gue bisa langsung cocokkan dengan daftar pasien pendonor mata yang udah terdaftar di rumah sakit tempat gue kerja siapa tahu ada yang cocok," jelas Akmal pada Devano. Devano menyambut niat baik itu dengan sukacita. Sama halnya dengan Rakha. "Kalau gitu nanti gue kasih rekap medisnya aja ke Rayyan atau Delisha, supaya bisa mereka kasihin ke lo ya?" balas Devano. "Kemarin, Mirza juga sempet menyarankan begitu, buat mencari donor mata ke luar negeri. Karena di Indonesia, jumlah pendonor mata itu masih langka banget, cumakan kemarin kondisi Rania juga belum stabil banget, makanya semuanya masih hanya sebatas rencana aja. Tapi kalau memang lo bisa bantu, gue bakal tunggu kabar baik dari lo, Mal," Devano menepuk bahu Akmal dengan cengiran lebar. "Semoga Allah memberi kelancaran atas niat baik, Mas Akmal," sambung Rakha menambahi. "Aamiinn," ucap Akmal dan Devano bersamaan, sambil cengengesan. Ke tiga lelaki itu masih terus terlibat dalam percakapan hangat. Hitung-hitung reunian. ***** Langit semakin menggelap. Tapi kali ini tak ada bulan dan bintang di sana. Dan itu tandanya, langit sedang mendung. Memasuki musim penghujan, di awal september, prakiraan cuaca kian tidak menentu. Padahal siang tadi jelas-jelas kondisi Jakarta teramat sangat terik. Panasnya sinar matahari seolah membakar kulit. Tapi malam ini, angin sepoi-sepoi terus menerpa dari arah jendela kamar ruang rawat inap Rania yang sengaja dibuka. Rania sendiri yang memintanya. Daripada dingin AC, Rania lebih suka hawa dingin dari angin alam di sekitarnya. "Kamu mau titip makanan nggak? Saya mau keluar sebentar cari makan ya, laper..." ucap Rakha saat itu. Dia baru saja selesai menunaikan shalat isya bersama Rania. "Itu makanan bukannya banyak, ngapain cari di luar," ucap Rania sok manja. Dia tahu dari Raline kalau tamu-tamu yang datang tadi sore banyak membawa aneka makanan cepat saji sebagai buah tangan. Entah kenapa, keberadaan Rakha di sisinya seolah menjadi candu bagi Rania. Jika tak ada Rakha, Rania merasa ada sesuatu yang kurang hingga dia merasa ketakutan. Untuk itu, jika Rakha hendak keluar, pasti Rania langsung memberengut. "Saya nggak suka makanan begituan, saya sukanya nasi padang, atau makanan-makanan pinggir jalan, nasi rames atau nasi liwet," beritahu Rakha sambil melirik ke arah jejeran pizza dan donut beraneka rasa yang terletak di meja. "Itu saya bungkus saja ya, Rania? Sayang, mubajir kalau tidak ada yang makan. Di pinggir jalan ujung rumah sakit, banyak gelandangan yang sering wara wiri di lampu merah," tambah Rakha lagi. "Yaudah, terserah lo aja. Tapi jangan lama-lama..." Rakha tersenyum lebar seraya beranjak ke arah ranjang tempat tidur Rania. Seperti biasa diacaknya ubun-ubun kepala Rania dengan sayang. "Cie, berasa ada yang kurang ya kalau nggak ada saya di sini?" godanya sambil tertawa. Rania menepis tangan Rakha dari kepalanya. "Ih... Geer banget lo! Yaudah sana pergi aja! Nggak balik lagi juga nggak apa-apa," balas Rania yang langsung sewot. "Nanti nyariin?" "Nggak bakal," "Yakin nggak nyariin?" "Ih, rese! Udah sana pergi!" "Hahahaha... Makin gemes kalau liat kamu marah-marah. Yaudah, saya keluar dulu. Nanti saya titip kamu ke suster penjaga ya," Rania hanya berdehem satu kali. Wajahnya yang merona tak mampu lagi dia sembunyikan. Cukup lama Rania berdiam diri dalam duduknya di atas ranjang rumah sakit ketika tiba-tiba pintu ruang rawatnya dibuka oleh seseorang. "Rakha? Itu lo? Kok cepet banget?" ucap Rania setengah bingung, pasalnya belum genap sepuluh menit Rakha keluar dari ruang rawatnya tadi. Apa iya Rakha sudah kembali? Rania bisa merasakan suara derap langkah kaki seseorang yang perlahan mendekatinya, meski tak ada suara apapun yang keluar dari mulut orang itu. Mendadak, wajah Rania kian gusar. Sebab yang dia tahu, seluruh keluarganya sudah pulang sejak satu jam yang lalu. Dan seperti biasa, hanya ada Rakha yang menemaninya di rumah sakit. "Maaf, itu siapa ya? Suster ya?" tanya Rania lagi. Derap langkah kaki itu kian dekat tapi tetap tak ada suara yang keluar. Rania cemas luar biasa. "Ih, siapa sih? Rakha? Jangan ngerjain gue deh..." "Apa kabar, Rania? Ini aku Nando," Dan Rania pun tertegun.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN